Selasa, 25 Oktober 2016

Ketegasan diri seorang Higea -Karya Yusnia Thalita Agnes Arifani

Gadis belia yang cantik tidak hanya hatinya tetapi juga kepribadiannya. Itulah Higea Herafrodith. Higea memiliki tubuh yang tinggi dan ramping dengan rambut hitamnya yang pendek. Meskipun rupanya tidak terlalu cantik, Higea dapat dikatakan memiliki paras yang menarik dan senyumnya pun tidak membosankan untuk dipandang.
Higea merupakan gadis yang dapat memahami bagaimana sejatinya perasaan seseorang yang ia kenal. Ia sangat pintar, tidak hanya dibidang akademis tetapi juga pintar bermain music serta dapat membaca situasi dan kondisi yang dihadapi pada dirinya maupun orang lain. Ia juga tegas akan sesuatu hal. Meskipun ia agak sedikit konyol dimata teman-temannya.
          Dalam hidupnya, higea ingin sekali dihargai. Sejak kecil ia diajarkan untuk berperilaku jujur oleh orang tuanya. Sayang, orang tua Higea jarang dirumah. Orang tua Higea kerap kali meninggalkan ia dan saudaranya untuk pergi bekerja. Oleh karena itu, Higea sering pula merasa kesepian. Beruntung Higea masih memiliki seorang nenek dari pihak ibunya.
          Higea hidup dikeluarga yang berkecukupan. Meski begitu, ia tetap tidak mau merepotkan orang lain. Bahkan jika ia diberikan bantuan ia tetap meyakinkan apakah orang yang bersangkutan berkenaan atau tidak, sekalipun itu keluarganya. Baginya, lebih baik jika ia melakukannya sendiri.
          Untuk pertama kali dalam hidupnya, Higea didekati seorang pria bernama Leonidas. Pada saat tu, Higea yang belum mengenal arti suka pun mulai memahaminya. Higea mulai menyukai Leonidas. Ia merasa senang bersama dengan Leonidas. Tetapi, hancur hati Higea ketika ia mengetahui bahwa Leonidas mendekati gadis lain yang terbilang lebih cantik dari dirinya.
          Merasa sedih dan dikecewakan, Higea memutuskan untuk tidak lagi menyukai seorang pria. Ia menjadi naif. Ia tidak ingin jika harus menyukai seorang pria dengan sepenuh hatinya, ia dilukai. Malamnya, Higea menulis buku harian sembari menangis.
“Mengapa aku harus menyukainya?” Higea bergumam sendirian didalam kamarnya. Ia merasa sulit untuk melupakan hal pertama seperti itu dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Jelas banyak pria yang diam-diam menyukai Higea namun baru Leonidas saja yang hanya mendekati Higea. Seolah perhiasan baru yang diberi kepadanya, dicuri begitu saja mengingat Leonidas menyukai yang lain
          Bangkit dari kesedihannya, Higea kembali didekati pria bernama Ares. Tampak dimata Higea bahwa Ares berusaha mendekati Higea. Higea kapok dengan kejadian sebelumnya. Sehingga ia bersikap cuek terhadap Ares yang berperilaku manis kepada dirinya.
“Tidak! Aku tidak mau mengalami hal seperti itu lagi.” Gumam Higea dalam hati.
          Ares benar- benar menyukai Higea. Ares sangat berjuang keras untuk mendapatkan Higea. Ares ingin menjadikan Higea sebagai kekasihnya. Berbagai cara Ares lakukan untuk menarik perhatian Higea. Hingga akhirnya Higea mulai melihat usahanya.
          Higea mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari sebelumnya saat ia menyukai Leonidas. Higea merasakan bahwa Ares tidak seperti Leonidas yang sebatas menemaninya saja. Higea melihat Ares berusaha keras untuk mendekatinya dan kemudian Higea merasa iba terhadap Ares. Ia mulai membuka kembali hatinya untuk menerima Ares dengan harapan Ares tidak seperti Leonidas. Higea berharap ia dapat menjalin hubungan lebih lama dari Leonidas.
“Umm… Higea, apakah ka… kaa… kamu mau menjadi kekasihku?” dengan tergagap Ares menyatakan tujuannya yang sedari awal mendekati Higea.
Higea yang hanya baru memahami apa itu rasa suka, ingin memahami lagi lebih dalam bagaimana rasanya menjalin kisah kasih dengan seseorang.
“Baiklah.” Jawab Higea.
          Sesuai dengan harapannya, Higea dan Ares menjalin hubungan cinta dan kasih layaknya seorang kekasih selama empat tahun. Pahit dan manisnya, suka dan duka mereka lewati bersama. Mulai dari harmonis hingga bertengkar dan berbaikan lagi. Hal tersebut selalu berulang.
          Ares dan Higea kini benar- benar saling menyayangi dan mencintai satu sama lain. Higea mengira Ares kelak akan datang melamarnya. Namun, Higea kini semakin meragukan Ares. Memang Ares seorang pria yang baik budi, sopan, santun, ramah, lemah lembut, dan sangat pintar tetapi ada satu yang tidak dilihat oleh Higea terhadap Ares, yaitu ketegasan seorang pria.
          Kian hari Ares semakin sibuk dengan urusannya. Ares berjanji akan membantu Higea apabila ia membutuhkan bantuan. Akan tetapi, Ares selalu mengecewakan Higea. Tidak hanya sekali, namun berulang kali Ares mengecewakan Higea hingga ia lelah. Belum lagi Higea yang pandai membaca kepribadian seseorang pun semakin ragu melihat Ares.
          Higea memang menyayangi Ares dengan tulus begitupun sebaliknya. Atas keraguan Higea, tiap hari ia berdoa meminta petunjuk kepada Tuhan apakah ia harus bertahan atau meninggalkan Ares, mengingat Ares mulai serius berhubungan dengan Higea dan Higea merasakan ada sesuatu yang kurang dan harus diperbaiki dalam diri Ares.
          Hari demi hari Higea lewati. Akhirnya, ia meminta melepas hubungannya dengan Ares dengan berharap Ares akan introspeksi diri dan memperbaiki apa yang kurang dalam dirinya dan memang seharusnya ada pada diri seorang pria.
          Banyak pria yang mendekati Higea. Mulai dari yang mendekatinya karena suka hingga yang membutuhkan saran dari seorang Higea dikarenakan Higea sering menjadi tempat curhat bagi teman- teman yang mempercayainya. Meski Higea lebih akrab bermain dengan teman-teman pria-nya, Higea tetap menjaga perasaan dan hatinya untuk Ares seorang.
          Bukannya berfikir mengapa Higea ingin lepas hubungan dari Ares, Ares malah ikut melepas Higea dan melampiaskannya kepada wanita lain. Higea benar- benar terguncang seakan istana yang ia bangun bersama Ares kini runtuh perlahan. Higea yang selalu menjaga perasaannya terhadap Ares juga telah melihat bagaimana Ares berdua dengan wanita tersebut.
          Higea tertegun. Ia terpuruk selama beberapa hari. Tubuhnya yang sudah kurus semakin turun beratnya. Bahkan ia pun harus mengalami sakit berminggu-minggu. Higea selalu berusaha berfikiran positif terhadap Ares. Baginya, wajar jika Ares melampiaskan pada wanita lain karena Higea melepaskan Ares dan mungkin Ares merasa kesepian.
          Karena sudah mendarah daging, ibu Higea curiga dan bertanya apa yang sedang terjadi pada dirinya. Higea pun bercerita dan berpura-pura tegar dihadapan ibunya. Ibu Higea mendengarkan ceritanya dengan seksama. Higea menjelaskan semua kepada ibunya tercinta. Menyimak ceritanya, ibu Higea berkata.
“Higea, kamu tidak perlu merasakan kesedihan berlarut hanya karena kehilangan sosok seseorang. Kamu adalah wanita yang bijaksana. Jika ia yang tidak memiliki prinsip, maka kamulah yang harus memilikinya. Jangan kamu terjatuh karena seorang pria yang kamu cintai meninggalkanmu demi yang lain atau karena alasan lain. Hal itu berarti ia adalah pria yang tidak visioner. Namanya melepaskan pasti ada penyesalan dikedua belah pihak. Kamu harus kuat, tunjukkan bahwa kamu adalah wanita yang tegar. Kelak ketika kamu bangkit, yang meninggalkanmu akan merasakan penyesalan terdalam. Dan pada saat itu terjadi, mungkin ia akan kembali kepadamu. Disini kamu akan diuji, apakah kamu adalah wanita yang tegas ataukah tidak dilihat dari keputusan yang kamu ambil. Tapi ingat, jangan kamu putuskan hubungan pertemananmu dengan dia, karena dia sudah banyak berjasa. Kelak barisan para mantan akan berguna dimasa depan. Bangun relasimu.”
          Higea merasa ditampar oleh nasihat ibunya dan ia mulai menjalani hidupnya kembali seperti sedia kala tanpa ada kekasih hatinya yang selama bertahun-tahun menemani kehidupannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar