Gadis
belia yang cantik tidak hanya hatinya tetapi juga kepribadiannya. Itulah Higea
Herafrodith. Higea memiliki tubuh yang tinggi dan ramping dengan rambut
hitamnya yang pendek. Meskipun rupanya tidak terlalu cantik, Higea dapat
dikatakan memiliki paras yang menarik dan senyumnya pun tidak membosankan untuk
dipandang.
Higea merupakan gadis yang dapat memahami bagaimana
sejatinya perasaan seseorang yang ia kenal. Ia sangat pintar, tidak hanya
dibidang akademis tetapi juga pintar bermain music serta dapat membaca situasi
dan kondisi yang dihadapi pada dirinya maupun orang lain. Ia juga tegas akan
sesuatu hal. Meskipun ia agak sedikit konyol dimata teman-temannya.
Dalam hidupnya, higea ingin sekali
dihargai. Sejak kecil ia diajarkan untuk berperilaku jujur oleh orang tuanya.
Sayang, orang tua Higea jarang dirumah. Orang tua Higea kerap kali meninggalkan
ia dan saudaranya untuk pergi bekerja. Oleh karena itu, Higea sering pula
merasa kesepian. Beruntung Higea masih memiliki seorang nenek dari pihak
ibunya.
Higea hidup dikeluarga yang
berkecukupan. Meski begitu, ia tetap tidak mau merepotkan orang lain. Bahkan
jika ia diberikan bantuan ia tetap meyakinkan apakah orang yang bersangkutan
berkenaan atau tidak, sekalipun itu keluarganya. Baginya, lebih baik jika ia
melakukannya sendiri.
Untuk pertama kali dalam hidupnya,
Higea didekati seorang pria bernama Leonidas. Pada saat tu, Higea yang belum
mengenal arti suka pun mulai memahaminya. Higea mulai menyukai Leonidas. Ia
merasa senang bersama dengan Leonidas. Tetapi, hancur hati Higea ketika ia
mengetahui bahwa Leonidas mendekati gadis lain yang terbilang lebih cantik dari
dirinya.
Merasa sedih dan dikecewakan, Higea
memutuskan untuk tidak lagi menyukai seorang pria. Ia menjadi naif. Ia tidak
ingin jika harus menyukai seorang pria dengan sepenuh hatinya, ia dilukai.
Malamnya, Higea menulis buku harian sembari menangis.
“Mengapa
aku harus menyukainya?” Higea bergumam sendirian didalam kamarnya. Ia merasa
sulit untuk melupakan hal pertama seperti itu dalam hidupnya. Bagaimana tidak?
Jelas banyak pria yang diam-diam menyukai Higea namun baru Leonidas saja yang
hanya mendekati Higea. Seolah perhiasan baru yang diberi kepadanya, dicuri
begitu saja mengingat Leonidas menyukai yang lain
Bangkit dari kesedihannya, Higea kembali
didekati pria bernama Ares. Tampak dimata Higea bahwa Ares berusaha mendekati
Higea. Higea kapok dengan kejadian sebelumnya. Sehingga ia bersikap cuek
terhadap Ares yang berperilaku manis kepada dirinya.
“Tidak!
Aku tidak mau mengalami hal seperti itu lagi.” Gumam Higea dalam hati.
Ares benar- benar menyukai Higea. Ares
sangat berjuang keras untuk mendapatkan Higea. Ares ingin menjadikan Higea
sebagai kekasihnya. Berbagai cara Ares lakukan untuk menarik perhatian Higea.
Hingga akhirnya Higea mulai melihat usahanya.
Higea mulai menyadari sesuatu yang
berbeda dari sebelumnya saat ia menyukai Leonidas. Higea merasakan bahwa Ares
tidak seperti Leonidas yang sebatas menemaninya saja. Higea melihat Ares
berusaha keras untuk mendekatinya dan kemudian Higea merasa iba terhadap Ares.
Ia mulai membuka kembali hatinya untuk menerima Ares dengan harapan Ares tidak
seperti Leonidas. Higea berharap ia dapat menjalin hubungan lebih lama dari
Leonidas.
“Umm…
Higea, apakah ka… kaa… kamu mau menjadi kekasihku?” dengan tergagap Ares
menyatakan tujuannya yang sedari awal mendekati Higea.
Higea yang hanya baru memahami apa itu rasa suka,
ingin memahami lagi lebih dalam bagaimana rasanya menjalin kisah kasih dengan
seseorang.
“Baiklah.”
Jawab Higea.
Sesuai dengan harapannya, Higea dan
Ares menjalin hubungan cinta dan kasih layaknya seorang kekasih selama empat
tahun. Pahit dan manisnya, suka dan duka mereka lewati bersama. Mulai dari
harmonis hingga bertengkar dan berbaikan lagi. Hal tersebut selalu berulang.
Ares dan Higea kini benar- benar
saling menyayangi dan mencintai satu sama lain. Higea mengira Ares kelak akan
datang melamarnya. Namun, Higea kini semakin meragukan Ares. Memang Ares
seorang pria yang baik budi, sopan, santun, ramah, lemah lembut, dan sangat
pintar tetapi ada satu yang tidak dilihat oleh Higea terhadap Ares, yaitu
ketegasan seorang pria.
Kian hari Ares semakin sibuk dengan
urusannya. Ares berjanji akan membantu Higea apabila ia membutuhkan bantuan.
Akan tetapi, Ares selalu mengecewakan Higea. Tidak hanya sekali, namun berulang
kali Ares mengecewakan Higea hingga ia lelah. Belum lagi Higea yang pandai
membaca kepribadian seseorang pun semakin ragu melihat Ares.
Higea memang menyayangi Ares dengan
tulus begitupun sebaliknya. Atas keraguan Higea, tiap hari ia berdoa meminta
petunjuk kepada Tuhan apakah ia harus bertahan atau meninggalkan Ares,
mengingat Ares mulai serius berhubungan dengan Higea dan Higea merasakan ada
sesuatu yang kurang dan harus diperbaiki dalam diri Ares.
Hari demi hari Higea lewati. Akhirnya,
ia meminta melepas hubungannya dengan Ares dengan berharap Ares akan
introspeksi diri dan memperbaiki apa yang kurang dalam dirinya dan memang
seharusnya ada pada diri seorang pria.
Banyak pria yang mendekati Higea.
Mulai dari yang mendekatinya karena suka hingga yang membutuhkan saran dari
seorang Higea dikarenakan Higea sering menjadi tempat curhat bagi teman- teman
yang mempercayainya. Meski Higea lebih akrab bermain dengan teman-teman
pria-nya, Higea tetap menjaga perasaan dan hatinya untuk Ares seorang.
Bukannya berfikir mengapa Higea ingin
lepas hubungan dari Ares, Ares malah ikut melepas Higea dan melampiaskannya
kepada wanita lain. Higea benar- benar terguncang seakan istana yang ia bangun
bersama Ares kini runtuh perlahan. Higea yang selalu menjaga perasaannya
terhadap Ares juga telah melihat bagaimana Ares berdua dengan wanita tersebut.
Higea tertegun. Ia terpuruk selama
beberapa hari. Tubuhnya yang sudah kurus semakin turun beratnya. Bahkan ia pun
harus mengalami sakit berminggu-minggu. Higea selalu berusaha berfikiran
positif terhadap Ares. Baginya, wajar jika Ares melampiaskan pada wanita lain
karena Higea melepaskan Ares dan mungkin Ares merasa kesepian.
Karena sudah mendarah daging, ibu
Higea curiga dan bertanya apa yang sedang terjadi pada dirinya. Higea pun
bercerita dan berpura-pura tegar dihadapan ibunya. Ibu Higea mendengarkan
ceritanya dengan seksama. Higea menjelaskan semua kepada ibunya tercinta.
Menyimak ceritanya, ibu Higea berkata.
“Higea,
kamu tidak perlu merasakan kesedihan berlarut hanya karena kehilangan sosok
seseorang. Kamu adalah wanita yang bijaksana. Jika ia yang tidak memiliki
prinsip, maka kamulah yang harus memilikinya. Jangan kamu terjatuh karena
seorang pria yang kamu cintai meninggalkanmu demi yang lain atau karena alasan
lain. Hal itu berarti ia adalah pria yang tidak visioner. Namanya melepaskan
pasti ada penyesalan dikedua belah pihak. Kamu harus kuat, tunjukkan bahwa kamu
adalah wanita yang tegar. Kelak ketika kamu bangkit, yang meninggalkanmu akan merasakan
penyesalan terdalam. Dan pada saat itu terjadi, mungkin ia akan kembali
kepadamu. Disini kamu akan diuji, apakah kamu adalah wanita yang tegas ataukah
tidak dilihat dari keputusan yang kamu ambil. Tapi ingat, jangan kamu putuskan
hubungan pertemananmu dengan dia, karena dia sudah banyak berjasa. Kelak
barisan para mantan akan berguna dimasa depan. Bangun relasimu.”
Higea
merasa ditampar oleh nasihat ibunya dan ia mulai menjalani hidupnya kembali
seperti sedia kala tanpa ada kekasih hatinya yang selama bertahun-tahun
menemani kehidupannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar