Hujan menyelimuti pagiku yang
dirundung kehampaan. Aku seorang gadis belia dengan rambut ikal menjuntai
laksana ombak berdempur, dengan mata cokelat, dan berkulit putih tampak muram
di sudut jendela. Perlahan helaian rambut ikalku mulai tergoda mencium aroma
secangkir coklat panas yang kudekap. Aku membiarkannya menyatu. Tak pernah
setengah hati rasanya diriku mencintai seseorang. Dikhianati bukanlah
keinginanku, aku tahu bahwa tiada seroang pun akan menerima keadaan seperti
ini.
“Apa kabar disana? Apa kau
merindukanku?”
Tatapanku tertuju pada setangkai
bunga dandelion yang terlepas dari kawanannya. Seolah olah sedang menyampaikan
kerinduanku padanya. Sudah hampir seminggu lamanya aku merasa kehilangan arah,
kemana perginya semua orang? Dimanakah tujuan hidupku berlabuh? Tidakkah
seorangpun melihatnya? Oh Tuhan.. Ampunilah hamba-Mu yang berlumur asa dan
pengharapan. Ditengah perenungan, tak sengaja aku meneteskan air mata.
“Stela, apa yang terjadi?”
Seorang pria berperawakan tinggi, berbadan
atletis, dengan segaris kumis tipis dan tampak manis menyisipkan jemari
kokohnya di sela rambutku. Alex, Ia mengusap kepalaku secara perlahan. Dingin.
Namun tak sebeku perasaan yang tengah menyelimutiku sepanjang hari ini.
Perilakunya sungguh membuatku semakin tak berdaya, kau membuatku mengingat
semuanya. Apa yang biasa kulakukan bersama dengan seseorang, kini hanya tersisa
bayang kenangan. Ya, kebersamaan yang membangun kenyamanan dan membuat diriku
berlabuh pada kenangan.
“Aku merindukannya.”
Sepotong kalimat terlontar dari
mulutku. Ia menghela nafasnya dengan berat, kemudian mendekapku dalam bahunya
yang bidang.
“it’s
okay, aku akan menemanimu sampai kau pulih dengan perasaanmu.”
Air mataku mulai berlinang menghiasi
wajah, membasahi bibir yang tak berdosa, aku tak mampu membendung asa. Berapa
lama aku harus bertahan? Tanpa kehadiranmu. Berapa lama waktu yang kuperlukan
untuk melupakanmu. Terlalu cepat, sulit. Apakah kau membenciku? sehingga
kepergianmu begitu membekas dan menyiksa relung hatiku.
“Kau harus pergi sekarang, mata
kuliah menantimu dikampus,”
“apakah waktu cuti yang kuambil sudah
habis?”
“ya, hari ini kau harus masuk. Akan
ku antar”
“tak apa, aku akan mencari bus untuk
pergi kesana”
Aku menyeka air mata yang tersisa,
beranjak menuju ruang kehormatanku sebagai mahasiswa di Universitas Negeri di
Jakarta. Aku mampu, aku bisa, pasti bisa, aku harus tegar. Itulah yang
bersarang di benakku saat ini.
Sesampainya dikampus yang megah dan
mewah, aku menyusuri lorong perpustakaan untuk meminjam buku referensi yang
diperlukan. Seseorang mengawasiku di sudut ruangan, dan tampak mengikutiku, aku
merasakannya, dingin, hawa macam apa ini. Aku bergegas keluar dari
perpustakaan, pencahayaan yang cukup redup, remang-remang, mengiringi langkahku
keluar dari lorong perpustakaan. Seorang penjaga perpus tiba-tiba muncul dan
bertanya kepadaku, aku terkejut.
“apakah hanya ini yang kau butuhkan?”
“oh! Ma-maaf aku terkejut, untuk kali
ini aku hanya membutuhkan 3 buku”
“tulis disini, pengembalian maksimal
paling lambat tanggal 30 Oktober”
“baiklah, hm.. Ada yang ingin kutanyakan”
“ada apa?”
“apakah kau hanya bertugas sendirian?
Dan hanya aku yang datang hari ini?”
Wanita paruh baya itu memeriksa buku
tamu, dan yang tertulis pagi ini hanya ada namaku dan Hanako. Aku tak percaya. Apakah
ia yang membuntutiku sejak tadi?
“apakah Hanako sudah pergi keluar?”
“satu jam yang lalu”
“Lalu, siapakah dia?”
Aku menoreh dan menunjuk sudut
ruangan di lorong perpustakaan yang tampak gelap. Jidatku mulai mengerenyit
keheranan, kemana dia? Kupikir aku tak salah melihat.
“Seseorang berdiri dan
memperhatikanku sedaritadi, dan dia berdiri disana”
“apa yang kau maksud?”
“sungguh, dia tadi berdiri,
menatapku, tatapannya dingin”
“tidak ada siapapun disini, kalaupun
ada nanti akan kuberitahu”
“baiklah bu, saya permisi”
Aku bergegas melangkahkan kakiku ke
dalam kelas. Tentu saja aku merasa sedikit khawatir akan kejadian yang kualami.
Aku duduk di bangku terdepan, aku melirik bangku kosong yang berdebu di sudut
ruangan. ‘Biasanya kau duduk disana’, segaris senyum tipis terukir diwajahku
sembari mengingat awal jumpaku bersamanya.
“Hanako meninggal”
Seorang temanku menyeletuk ditengah
keramaian kelas, matanya memancarkan kesedihan mendalam. Ah tidak, perasaan ini
mulai menusukku, tidak, aku tidak boleh terlarut dalam suasana. Sisi lain dari
diriku mengatakan aku tidaklah harus peduli pada wanita yang merebut
kebahagiaanku. Tunggu, bukankah satu jam yang lalu dia baru keluar dari
perpustakaan?.
“Apa yang kau maksud? Tadi pagi aku
melihat namanya terpampang di buku tamu perpustakaan kampus”
“aku tidak membual, sungguh”
Alisha sesenggukan menangis di depan
kelas bak anak TK yang merengek karna lollipopnya direbut. Semua orang mendekap
Alisha dan memberikan semangat kepadanya, aku iri. Dosen memasuki ruangan,
semua orang berhamburan dan kembali ke tempat duduk mereka. Dan ternyata berita
itu benar. Lalu siapakah Hanako yang pergi ke perpustakaan tadi pagi? Apakah ada
mahasiswi pindahan Jepang yang baru dan bernama Hanako juga? Atau ia merupakan
orang asli berkebangsaan Indonesia dan bernama Hanako?. Mengapa harus sama?
Beratus pertanyaan menghujani pikiranku. Aku harus menyelidikinya.
Usai mata kuliah berakhir, aku
menarik tangan Alisha dan mengatakan padanya bahwa aku bersungguh sungguh,
Hanako yang pergi ke perpustakaan tadi pagi adalah sahabatnya. Seakan akan
tidak percaya bahwa Hanako telah pergi selamanya, aku ingin membuktikan kebenaran.
“Sha! Kau harus mempercayainya,”
“kau lah yang harus mempercayaiku
Stela,”
“tidak, hanya selisih satu jam
setelah aku keluar dari perpustakaan”
“Hanako sudah pergi sejak tadi, pukul
3 pagi, dan tentu saja kau belum datang ke perpustakaan bukan?”
“percayalah padaku Alisha”
Aku membuka lembaran buku tamu dan
mencari posisi namaku di setiap baris. Ah! aku menemukannya. Bibirku mulai
merapat satu sama lain, tanpa sadar aku meremas lembaran lain dari buku tamu
itu.
“tadi ada disini! Sungguh! Kenapa
sekarang kosong? Seseorang pasti telah menghapusnya”
Alisha hanya menggelengkan kepalanya,
seolah tak mau kalah berargumen. Aku menariknya untuk melihat catatan nama
Hanako yang benar-benar tertulis sebelumnya.
“lihatah, tinta merah, apa kau tak
menyadarinya, seseorang telah menghapusnya menggunakan label”
Aku memanggil ibu penjaga
perpustakaan dan berharap semua informasi akan terkuak.
“tadi pagi hanya ada aku dan Hanako
bukan yang pergi ke perpustakaan?”
“tidak, hanya kau saja”
Apa-apaan ini, mengapa dia mengatakan
hal yang berbeda. Aku yakin aku tidak salah dengar mengenai perkara ini.
“kau sudah dengar kan Stela,
berhentilah mengelabuhiku”
“aku tidak bermaksud seperti itu,
tapi kenyataannya tidak seperti ini”
“Stela, kau harus banyak
beristirahat, kurasa kau sedikit lelah dan butuh banyak asupan makanan, jangan
terlarut dalam kesedihan”
“Alisha, aku memang sedang bersedih,
tetapi itu bukan menjadi alasanku untuk berbohong dan mengada ada. Kenyataannya
tidak seperti ini”
Alisha mendekapku dalam pelukannya
yang hangat. Kemudian hari itu menjadi gelap dan kosong.
***
Aku mencium aroma minyak angin
dibawah lubang hidungku. Aku mengerejapkan mata perlahan. Ternyata Alex sudah
berdiri dihadapanku dengan wajah yang tampak panik.
“apa yang terjadi Stela? Mengapa kau
terbaring di lorong perpustakaan?”
Mataku terbelalak, terbaring? Aku
bersikeras mengingatnya. Tidak! Aku bersama Alisha sebelumnya, dia mendekapku
dan semuanya menjadi gelap.
“apakah aku terbaring sendirian?”
“ya, kau terbaring sendirian. Seorang
temanmu menelponku dan memintaku menjemputmu”
“siapa?”
“Hanako namanya”
“Hanako?!”
“ada apa? Apakah ada yang salah?”
“tadi pagi, dia baru saja dikabarkan
meninggal”
Alex menunjukkan pesan masuk yang
ditujukan padanya. Dan memang benar itu adalah nomor ponsel Hanako. Aku merasa
ada sesuatu yang janggal disini. Mulai dari
Jason yang mendadak memutuskan hubunganku karena kedatangan Hanako dan
pergi menghilang seminggu lamanya, Hanako yang dikabarkan meninggal, dan
seseorang menghalangiku menyatakan kebenaran pada Alisha.
Aku mencoba menghubungi Hanako,
ponselnya tidak aktif. Ada apa sebenarnya? Apakah ada sesuatu yang tidak
kuketahui mengenai dirinya? Ia merupakan sosok gadis yang pendiam dan untuk
saat ini aku menganggapnya sebagai penghianat.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk
pergi ke kediaman Hanako, dan ingin mencari tahu kebenaran yang ada. Aku
meminta Alisha menemaniku pergi, karena aku tidak hapal rute perjalanan kerumah
Hanako. Tanpa pikir panjang, aku menancapkan gas dan pergi sesegera mungkin.
Ditengah perjalanan, Alisha mendadak ingin buang air besar, terpaksa aku harus
menghentikan mobilku di pom bensin terdekat dan menantinya didalam mobil.
Sembari menunggu, aku mengecek pemberitahuan yang muncul di layar ponselku.
Jason menelponku, aku menghela napas berat sebelum akhirnya menggeser tanda
hijau yang tertera, dia memulai pembicaraan,
“Hei, bagaimana kabarmu?”
“menurutmu saja, kemana kau pergi? Apakah
hubungan kita berakhir begitu saja?”
“maaf, aku sibuk mengurus sesuatu, ya
memang begini adanya”
“apakah kau yakin? Apakah Hanako
bersamamu?”
“Hanako? Sudah 3 hari ia tidak
menghubungiku”
“apakah kau ingin bertemu? Ada sesuatu
yang ingin kusampaikan mengenai Hanako”
“mungkin tidak untuk saat ini”
“lalu mengapa kau menghubungiku?”
“aku ingin memberitahumu, bahwa aku
memiliki firasat buruk tentangmu, dan aku merasa khawatir, aku ingin kau me-”
“ada apa? Halo?”
Tiba-tiba saja telepon terputus, aku
mencoba menghubungi Jason kembali namun tidak terhubung. Alisha memasuki mobil
dengan timing yang pas, ketika hendak
menyalakan mobil, sesuatu mengganjal dikakiku, ternyata seutas tali. Darimana
asalnya? Dan mengapa mobilku tidak mau menyala. Alisha menyarankan agar aku menelpon
Alex dan meminta bantuan padanya. Dan pada saat itu juga akhirnya Alisha
memutuskan tidak berangkat ke kediaman Hanako. Sungguh aneh, siapa sebenarnya
yang menghalangiku mencari kebenaran. Mengapa Alisha mendadak tak ingin pergi.
Aku melihat saku jaketnya penuh dengan dandelion merah. Untuk apa? Kedua tanganku
bersilang didepan dada.
“kau yang menipuku? Dan semua teman
teman dikampus? Termasuk dosen?”
“untuk apa? Jangan menuduhku seperti
itu”
“aku hanya bertanya, mengapa kau
menjadi lebih sensitif”
“bukan urusanmu”
Suasana mulai terasa mencekam di
dalam mobil. Alisha bergerak menuju gagang pintu mobil untuk keluar namun
terlambat. Aku sudah menguncinya. Tatapannya menatapku bak seorang psikopat
yang ingin membunuh mangsanya. Tangannya hendak meraih kunci mobil yang
kugenggam.
“berikan padaku, akan kubereskan
semua urusanmu”
“apa maksudmu?”
“Hanako memang belum meninggal. Ia aman
bersamaku, target dandelionku selanjutnya adalah dirimu Hahahaha,”
Tawanya penuh misteri, mengerikan.
“mengapa kau melakukannya?”
“agar tidak ada satu orangpun yang
menghalangiku bersama Jason,”
“bahkan ia terlibat dalam urusan
ini?! Apa yang kau pikirkan!”
Alisha menyakar kedua tanganku dan
merebut kunci mobil dari tanganku. Ia mengambil alih kendali. Aku berusaha
menghentikannya namun tanganku tak cukup kuat untuk menahannya. Kecepatan bertambah
setiap kilometer yang dilalui. Aku mulai khawatir akan diriku sendiri, aku
berusaha menelpon Alex namun ponselku terbuang jauh di jok belakang, aku
terhalang oleh Alisha.
Dengan keberanian aku memaksa
mengambil alih stir mobil dan mobil tampak oleng dijalanan. Alisha menatapku
dengan kebencian, mengancamku dengan benda tajam dan berkata kata kasar
dihadapanku. Aku tidak peduli. Hingga akhirnya aku berhasil menghentikan mobil
ini dengan paksa ke pinggir jalan. Alisha berusaha hendak kabur.
“kau telah termakan dengan semua
omonganku, kaulah yang tidak akan bisa lepas”
“jangan bergerak, aku akan menelpon
polisi”
“kau tidak akan menang. Aku berada
satu langkah didepanmu”
Belum sampai menekan tombol ‘panggil’,
kawanan polisi telah berkerumun disekitar mobilku dan memaksaku turun. Aku dijebak,
Alisha telah menyiapkan semuanya, luar biasa. Aku ditangkap dengan tuduhan
penculikan. Aku berteriak bahwa bukan aku yang salah, tetapi Alisha pelakunya. Ia
dalang dibalik semua ini, bahkan Alex berada di pihak polisi itu. Alex
mempercayai Alisha. Apakah kesalahanku diawal? karena terlalu mempercayai setiap
orang yang baru kukenal tanpa waspada sedikitpun. Alisha menyisihkan dandelion
merah di saku celanaku, dan berbisik dengan tatapan yang dingin.
“mendekamlah dalam bui selama mungkin
bersama Hanako, akan kubuat sejarah baru dalam kampus dan keluargamu”
Bibirnya nampak menyunggingkan senyum
yang mengerikan. Aku hanya berargumen, bahwa orang dengan hati yang suci akan
dilindungi oleh Tuhannya dan Tuhan akan berpihak pada orang yang beriman. Lihatlah
nanti Alisha, siapa yang akan merengek dan mendekam dalam bui.