Selasa, 08 November 2016

Kritik Cerpen “Iringan Piano Berdarah” Karya Rafida Salma

Disusun Oleh: Safirah Hairulnisah



            Cerpen berjudul “Iringan Piano Berdarah” karya Rafida Salma menceritakan kehidupan sebuah keluarga yang awalnya tentram dan harmonis mengalami terror dari sesosok hantu anak kecil. Singkat cerita terror itu bermula dari terjadinya insiden dimana sebuah truk menabrak anak kecil hingga terpental dan akhirnya tewas. Pada saat itu keluarga tersebut tidak berada di rumah. Kemudian roh anak kecil itu bergentayangan dan meneror salah satu keluarga yang tinggal di sekitar tempat terjadinya insiden. Kanzia, tokoh utama dalam cerpen tersebut, adalah orang yang pertama kali menyadari kehadiran sosok hantu anak kecil yang diketahui bernama Nabila. Nabila kerap kali memunculkan diri seraya memainkan piano dirumah itu dan mengobrak-abrik rumah serta melukai Kanzia. Kanzia pun bercerita pada Ibunya bahwa dirumah mereka terdapat sesosok hantu. Namun, sang Ibu tidak mempercayai perkataan anaknya. Ternyata jasad Nabila masih berada di halaman rumah keluarga Kanzia dan Nabila menganggap bahwa manusia itu jahat. Sebab ia mati secara tragis disebabkan manusia. Setelah jasad Nabila dikuburkan, ia malah ingin membawa Kanzia dan Ibunya dalam maut. Namun niat Nabila berubah dengan membunuh supir truk yang menabraknya. Nabila pun mengucapkan terimakasih pada Kanzia dan Ibunya.
            Dalam cerpen ini, pengarang menggambarkan watak tokoh Kanzia yang cukup berani dan tegar ketika mengalami teror hantu selama satu minggu. Kemudian tokoh Ibu digambarkan sebagai seseorang yang tidak begitu percaya hantu. Namun pada akhirnya Ibu percaya setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri.
            Cerpen ini juga menggambarkan bagaimana manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Digambarkan dengan tabrak lari. Supir truk lari begitu saja setelah menabrak seorang anak kecil hingga tewas. Memang, jika dipikir sangat jarang manusia yang bersedia menjebloskan diri ke lubang hitam sehingga lari dari kenyataanlah yang dipilih. Tapi, sesungguhnya hal ini salah.
            Kelebihan dari cerpen ini adalah bahasanya yang mudah dimengerti oleh pembaca. Penggunaan makna konotasi tidak banyak. Jadi pengarang menceritakan tiap kejadian dengan gambling. Kita juga bisa menemukan nilai-nilai yang dapat dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.
            Disamping kelebihannya, ada beberapa hal yang saya anggap kurang masuk akal dan hal ini pula yang menjadi kekurangan cerpen ini. Pengarang kurang menceritakan dengan jelas beberapa peristiwa. Seperti pada kutipan berikut ini.
            “Malam itu, tepat saat bulan purnama muncul. Terlihat sebuah truk besar melaju amat kencang ke arah seorang anak kecil yang tengah berada di jalan mawar. Tanpa menunggu waktu lama, hanya dengan hitungan detik truk besar itu telah merelakan nyawa seorang anak kecil terbang melayang dengan amat sia-sia. Kejadian itu di akhiri dengan hujan yang sangat deras”
            Berdasarkan kutipan diatas, muncul beberapa pertanyaan yang mengacu pada anak kecil dalam cerita. Mengapa anak kecil itu bisa berada di jalan mawar pada malam hari? Apakah anak kecil itu berada disana sendirian? Apakah di jalan mawar itu tidak ada satu orang pun sehingga tidak ada yang mengetahui kecelakaan itu? Agak disayangkan karena penulis tidak menceritakannya dengan cukup detail. Pembaca pun merasa agak janggal dengan ceritanya.
            Selain itu kejanggalan juga terdapat pada saat hantu anak kecil berkata bahwa jasadnya masih ada disekitar rumah. Jasadnya ditemukan di halaman rumah Kanzia dengan keadaan berlumuran darah juga sudah dihinggapi rayap dan belatung. Jasad tersebut baru diketemukan seminggu setelah kecelakaan. Yang menjadi tidak masuk akal yaitu jasad yang baru bisa ditemukan setelah satu minggu berlalu. Seharusnya, jika jasad berada di halaman rumah, sangat mudah untuk menemukannya. Toh jasad itu pasti akan mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat.


             
           


Selasa, 01 November 2016

Dandelion Merah - Oleh Cynthia Cahyani

Hujan menyelimuti pagiku yang dirundung kehampaan. Aku seorang gadis belia dengan rambut ikal menjuntai laksana ombak berdempur, dengan mata cokelat, dan berkulit putih tampak muram di sudut jendela. Perlahan helaian rambut ikalku mulai tergoda mencium aroma secangkir coklat panas yang kudekap. Aku membiarkannya menyatu. Tak pernah setengah hati rasanya diriku mencintai seseorang. Dikhianati bukanlah keinginanku, aku tahu bahwa tiada seroang pun akan menerima keadaan seperti ini.
“Apa kabar disana? Apa kau merindukanku?”
Tatapanku tertuju pada setangkai bunga dandelion yang terlepas dari kawanannya. Seolah olah sedang menyampaikan kerinduanku padanya. Sudah hampir seminggu lamanya aku merasa kehilangan arah, kemana perginya semua orang? Dimanakah tujuan hidupku berlabuh? Tidakkah seorangpun melihatnya? Oh Tuhan.. Ampunilah hamba-Mu yang berlumur asa dan pengharapan. Ditengah perenungan, tak sengaja aku meneteskan air mata.
“Stela, apa yang terjadi?”
Seorang pria berperawakan tinggi, berbadan atletis, dengan segaris kumis tipis dan tampak manis menyisipkan jemari kokohnya di sela rambutku. Alex, Ia mengusap kepalaku secara perlahan. Dingin. Namun tak sebeku perasaan yang tengah menyelimutiku sepanjang hari ini. Perilakunya sungguh membuatku semakin tak berdaya, kau membuatku mengingat semuanya. Apa yang biasa kulakukan bersama dengan seseorang, kini hanya tersisa bayang kenangan. Ya, kebersamaan yang membangun kenyamanan dan membuat diriku berlabuh pada kenangan.
“Aku merindukannya.”
Sepotong kalimat terlontar dari mulutku. Ia menghela nafasnya dengan berat, kemudian mendekapku dalam bahunya yang bidang.
it’s okay, aku akan menemanimu sampai kau pulih dengan perasaanmu.”
Air mataku mulai berlinang menghiasi wajah, membasahi bibir yang tak berdosa, aku tak mampu membendung asa. Berapa lama aku harus bertahan? Tanpa kehadiranmu. Berapa lama waktu yang kuperlukan untuk melupakanmu. Terlalu cepat, sulit. Apakah kau membenciku? sehingga kepergianmu begitu membekas dan menyiksa relung hatiku.
“Kau harus pergi sekarang, mata kuliah menantimu dikampus,”
“apakah waktu cuti yang kuambil sudah habis?”
“ya, hari ini kau harus masuk. Akan ku antar”
“tak apa, aku akan mencari bus untuk pergi kesana”
Aku menyeka air mata yang tersisa, beranjak menuju ruang kehormatanku sebagai mahasiswa di Universitas Negeri di Jakarta. Aku mampu, aku bisa, pasti bisa, aku harus tegar. Itulah yang bersarang di benakku saat ini.
Sesampainya dikampus yang megah dan mewah, aku menyusuri lorong perpustakaan untuk meminjam buku referensi yang diperlukan. Seseorang mengawasiku di sudut ruangan, dan tampak mengikutiku, aku merasakannya, dingin, hawa macam apa ini. Aku bergegas keluar dari perpustakaan, pencahayaan yang cukup redup, remang-remang, mengiringi langkahku keluar dari lorong perpustakaan. Seorang penjaga perpus tiba-tiba muncul dan bertanya kepadaku, aku terkejut.
“apakah hanya ini yang kau butuhkan?”
“oh! Ma-maaf aku terkejut, untuk kali ini aku hanya membutuhkan 3 buku”
“tulis disini, pengembalian maksimal paling lambat tanggal 30 Oktober”
“baiklah, hm.. Ada yang ingin kutanyakan”
“ada apa?”
“apakah kau hanya bertugas sendirian? Dan hanya aku yang datang hari ini?”
Wanita paruh baya itu memeriksa buku tamu, dan yang tertulis pagi ini hanya ada namaku dan Hanako. Aku tak percaya. Apakah ia yang membuntutiku sejak tadi?
“apakah Hanako sudah pergi keluar?”
“satu jam yang lalu”
“Lalu, siapakah dia?”
Aku menoreh dan menunjuk sudut ruangan di lorong perpustakaan yang tampak gelap. Jidatku mulai mengerenyit keheranan, kemana dia? Kupikir aku tak salah melihat.
“Seseorang berdiri dan memperhatikanku sedaritadi, dan dia berdiri disana”
“apa yang kau maksud?”
“sungguh, dia tadi berdiri, menatapku, tatapannya dingin”
“tidak ada siapapun disini, kalaupun ada nanti akan kuberitahu”
“baiklah bu, saya permisi”
Aku bergegas melangkahkan kakiku ke dalam kelas. Tentu saja aku merasa sedikit khawatir akan kejadian yang kualami. Aku duduk di bangku terdepan, aku melirik bangku kosong yang berdebu di sudut ruangan. ‘Biasanya kau duduk disana’, segaris senyum tipis terukir diwajahku sembari mengingat awal jumpaku bersamanya.
“Hanako meninggal”
Seorang temanku menyeletuk ditengah keramaian kelas, matanya memancarkan kesedihan mendalam. Ah tidak, perasaan ini mulai menusukku, tidak, aku tidak boleh terlarut dalam suasana. Sisi lain dari diriku mengatakan aku tidaklah harus peduli pada wanita yang merebut kebahagiaanku. Tunggu, bukankah satu jam yang lalu dia baru keluar dari perpustakaan?.
“Apa yang kau maksud? Tadi pagi aku melihat namanya terpampang di buku tamu perpustakaan kampus”
“aku tidak membual, sungguh”
Alisha sesenggukan menangis di depan kelas bak anak TK yang merengek karna lollipopnya direbut. Semua orang mendekap Alisha dan memberikan semangat kepadanya, aku iri. Dosen memasuki ruangan, semua orang berhamburan dan kembali ke tempat duduk mereka. Dan ternyata berita itu benar. Lalu siapakah Hanako yang pergi ke perpustakaan tadi pagi? Apakah ada mahasiswi pindahan Jepang yang baru dan bernama Hanako juga? Atau ia merupakan orang asli berkebangsaan Indonesia dan bernama Hanako?. Mengapa harus sama? Beratus pertanyaan menghujani pikiranku. Aku harus menyelidikinya.
Usai mata kuliah berakhir, aku menarik tangan Alisha dan mengatakan padanya bahwa aku bersungguh sungguh, Hanako yang pergi ke perpustakaan tadi pagi adalah sahabatnya. Seakan akan tidak percaya bahwa Hanako telah pergi selamanya, aku ingin membuktikan kebenaran.
“Sha! Kau harus mempercayainya,”
“kau lah yang harus mempercayaiku Stela,”
“tidak, hanya selisih satu jam setelah aku keluar dari perpustakaan”
“Hanako sudah pergi sejak tadi, pukul 3 pagi, dan tentu saja kau belum datang ke perpustakaan bukan?”
“percayalah padaku Alisha”
Aku membuka lembaran buku tamu dan mencari posisi namaku di setiap baris. Ah! aku menemukannya. Bibirku mulai merapat satu sama lain, tanpa sadar aku meremas lembaran lain dari buku tamu itu.
“tadi ada disini! Sungguh! Kenapa sekarang kosong? Seseorang pasti telah menghapusnya”
Alisha hanya menggelengkan kepalanya, seolah tak mau kalah berargumen. Aku menariknya untuk melihat catatan nama Hanako yang benar-benar tertulis sebelumnya.
“lihatah, tinta merah, apa kau tak menyadarinya, seseorang telah menghapusnya menggunakan label”
Aku memanggil ibu penjaga perpustakaan dan berharap semua informasi akan terkuak.
“tadi pagi hanya ada aku dan Hanako bukan yang pergi ke perpustakaan?”
“tidak, hanya kau saja”
Apa-apaan ini, mengapa dia mengatakan hal yang berbeda. Aku yakin aku tidak salah dengar mengenai perkara ini.
“kau sudah dengar kan Stela, berhentilah mengelabuhiku”
“aku tidak bermaksud seperti itu, tapi kenyataannya tidak seperti ini”
“Stela, kau harus banyak beristirahat, kurasa kau sedikit lelah dan butuh banyak asupan makanan, jangan terlarut dalam kesedihan”
“Alisha, aku memang sedang bersedih, tetapi itu bukan menjadi alasanku untuk berbohong dan mengada ada. Kenyataannya tidak seperti ini”
Alisha mendekapku dalam pelukannya yang hangat. Kemudian hari itu menjadi gelap dan kosong.
***
Aku mencium aroma minyak angin dibawah lubang hidungku. Aku mengerejapkan mata perlahan. Ternyata Alex sudah berdiri dihadapanku dengan wajah yang tampak panik.
“apa yang terjadi Stela? Mengapa kau terbaring di lorong perpustakaan?”
Mataku terbelalak, terbaring? Aku bersikeras mengingatnya. Tidak! Aku bersama Alisha sebelumnya, dia mendekapku dan semuanya menjadi gelap.
“apakah aku terbaring sendirian?”
“ya, kau terbaring sendirian. Seorang temanmu menelponku dan memintaku menjemputmu”
“siapa?”
“Hanako namanya”
“Hanako?!”
“ada apa? Apakah ada yang salah?”
“tadi pagi, dia baru saja dikabarkan meninggal”
Alex menunjukkan pesan masuk yang ditujukan padanya. Dan memang benar itu adalah nomor ponsel Hanako. Aku merasa ada sesuatu yang janggal disini. Mulai dari  Jason yang mendadak memutuskan hubunganku karena kedatangan Hanako dan pergi menghilang seminggu lamanya, Hanako yang dikabarkan meninggal, dan seseorang menghalangiku menyatakan kebenaran pada Alisha.
Aku mencoba menghubungi Hanako, ponselnya tidak aktif. Ada apa sebenarnya? Apakah ada sesuatu yang tidak kuketahui mengenai dirinya? Ia merupakan sosok gadis yang pendiam dan untuk saat ini aku menganggapnya sebagai penghianat.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk pergi ke kediaman Hanako, dan ingin mencari tahu kebenaran yang ada. Aku meminta Alisha menemaniku pergi, karena aku tidak hapal rute perjalanan kerumah Hanako. Tanpa pikir panjang, aku menancapkan gas dan pergi sesegera mungkin. Ditengah perjalanan, Alisha mendadak ingin buang air besar, terpaksa aku harus menghentikan mobilku di pom bensin terdekat dan menantinya didalam mobil. Sembari menunggu, aku mengecek pemberitahuan yang muncul di layar ponselku. Jason menelponku, aku menghela napas berat sebelum akhirnya menggeser tanda hijau yang tertera, dia memulai pembicaraan,
“Hei, bagaimana kabarmu?”
“menurutmu saja, kemana kau pergi? Apakah hubungan kita berakhir begitu saja?”
“maaf, aku sibuk mengurus sesuatu, ya memang begini adanya”
“apakah kau yakin? Apakah Hanako bersamamu?”
“Hanako? Sudah 3 hari ia tidak menghubungiku”
“apakah kau ingin bertemu? Ada sesuatu yang ingin kusampaikan mengenai Hanako”
“mungkin tidak untuk saat ini”
“lalu mengapa kau menghubungiku?”
“aku ingin memberitahumu, bahwa aku memiliki firasat buruk tentangmu, dan aku merasa khawatir, aku ingin kau me-”
“ada apa? Halo?”
Tiba-tiba saja telepon terputus, aku mencoba menghubungi Jason kembali namun tidak terhubung. Alisha memasuki mobil dengan timing yang pas, ketika hendak menyalakan mobil, sesuatu mengganjal dikakiku, ternyata seutas tali. Darimana asalnya? Dan mengapa mobilku tidak mau menyala. Alisha menyarankan agar aku menelpon Alex dan meminta bantuan padanya. Dan pada saat itu juga akhirnya Alisha memutuskan tidak berangkat ke kediaman Hanako. Sungguh aneh, siapa sebenarnya yang menghalangiku mencari kebenaran. Mengapa Alisha mendadak tak ingin pergi. Aku melihat saku jaketnya penuh dengan dandelion merah. Untuk apa? Kedua tanganku bersilang didepan dada.
“kau yang menipuku? Dan semua teman teman dikampus? Termasuk dosen?”
“untuk apa? Jangan menuduhku seperti itu”
“aku hanya bertanya, mengapa kau menjadi lebih sensitif”
“bukan urusanmu”
Suasana mulai terasa mencekam di dalam mobil. Alisha bergerak menuju gagang pintu mobil untuk keluar namun terlambat. Aku sudah menguncinya. Tatapannya menatapku bak seorang psikopat yang ingin membunuh mangsanya. Tangannya hendak meraih kunci mobil yang kugenggam.
“berikan padaku, akan kubereskan semua urusanmu”
“apa maksudmu?”
“Hanako memang belum meninggal. Ia aman bersamaku, target dandelionku selanjutnya adalah dirimu Hahahaha,”
Tawanya penuh misteri, mengerikan.
“mengapa kau melakukannya?”
“agar tidak ada satu orangpun yang menghalangiku bersama Jason,”
“bahkan ia terlibat dalam urusan ini?! Apa yang kau pikirkan!”
Alisha menyakar kedua tanganku dan merebut kunci mobil dari tanganku. Ia mengambil alih kendali. Aku berusaha menghentikannya namun tanganku tak cukup kuat untuk menahannya. Kecepatan bertambah setiap kilometer yang dilalui. Aku mulai khawatir akan diriku sendiri, aku berusaha menelpon Alex namun ponselku terbuang jauh di jok belakang, aku terhalang oleh Alisha.
Dengan keberanian aku memaksa mengambil alih stir mobil dan mobil tampak oleng dijalanan. Alisha menatapku dengan kebencian, mengancamku dengan benda tajam dan berkata kata kasar dihadapanku. Aku tidak peduli. Hingga akhirnya aku berhasil menghentikan mobil ini dengan paksa ke pinggir jalan. Alisha berusaha hendak kabur.
“kau telah termakan dengan semua omonganku, kaulah yang tidak akan bisa lepas”
“jangan bergerak, aku akan menelpon polisi”
“kau tidak akan menang. Aku berada satu langkah didepanmu”
Belum sampai menekan tombol ‘panggil’, kawanan polisi telah berkerumun disekitar mobilku dan memaksaku turun. Aku dijebak, Alisha telah menyiapkan semuanya, luar biasa. Aku ditangkap dengan tuduhan penculikan. Aku berteriak bahwa bukan aku yang salah, tetapi Alisha pelakunya. Ia dalang dibalik semua ini, bahkan Alex berada di pihak polisi itu. Alex mempercayai Alisha. Apakah kesalahanku diawal? karena terlalu mempercayai setiap orang yang baru kukenal tanpa waspada sedikitpun. Alisha menyisihkan dandelion merah di saku celanaku, dan berbisik dengan tatapan yang dingin.
“mendekamlah dalam bui selama mungkin bersama Hanako, akan kubuat sejarah baru dalam kampus dan keluargamu”
Bibirnya nampak menyunggingkan senyum yang mengerikan. Aku hanya berargumen, bahwa orang dengan hati yang suci akan dilindungi oleh Tuhannya dan Tuhan akan berpihak pada orang yang beriman. Lihatlah nanti Alisha, siapa yang akan merengek dan mendekam dalam bui.


Jumat, 28 Oktober 2016

Bagaimana Cara Berjuang ? -Karya Anisa Kurnia


            Mentari sudah meninggikan diri bersamaan dengan seorang gadis yang berlari menuju gerbang sekolah. Hari ini hari senin, ia tak ingin melewatkan upacara benderanya. Namun takdir berkata lain, gerbang itu telah ditutup lima menit yang lalu. Inilah yang ditunggu Abil gadis yang bernama lengkap Syabila Adhantya. Ia harus merasakan hukuman, setidaknya sekali seumur hidup. Masalahnya ia harus mengelilingi lapangan sabanyak sepuluh kali dengan luas lapangan tiga kali lapangan basket. Senyumnya menghilang ketika pandangannya terfokus pada satu anak lelaki dengan rambut acak-acakkan. Namanya Nino Alviano, namanya selalu melekat dikepala Abil karena sudah beberapa kali Nino mengungguli peringkat pertama satu angkatan.
            Impian ke Jepang bagi Abil bukanlah omong kosong belaka, dengan usaha dan doa ia pasti bisa untuk pergi ke Jepang. Ia harus bisa melihat kristal salju di atas Gunung Fuji. Tapi, Nino menjadi satu-satunya saingan terberat Abil. Apalagi waktunya semakin menyempit karena ia sudah kelas tiga SMA.
            “Syabila, kamu bisa mengelilingi lapangan sebanyak satu kali.” Ucap guru piket menyadarkan Abil dari lamunannya. Rupanya upacara sudah selesai beberapa anak sudah kembali ke kelas, tapi tidak dengan anak yang telat.
            “Tidak terima kasih bu, aku hanya ingin mengikuti peraturan.” Ucap Abil tersenyum ke arah guru piket.
Nino memulai larinya terlebih dahulu dibandingkan dengan yang lain, jam pelajaran kimia pasti sudah dimulai lima menit yang lalu, itu adalah pelajaran kesukaan Nino. Ia memperlambat larinya ketika ia mengingat bahwa hari ini ada ulangan. Jika ia tak masuk kelas maka ia akan mengerjakan ulangan itu sendiri, daripada ia harus memberi contekkan.
            “Suatu saat aku akan melihat salju !” ucap Abil sambil berlari setelah mendahului Nino. Ia bingung mendengar perkataan gadis itu, apa pedulinya dia ? dan apa hubungannya dia dengan salju ? ia mengabaikan ucapan gadis itu. Nino terus berlari tanpa menggubris Abil sama sekali setelah melewatinya.
            “Nino, aku Syabila teman sekelasmu,” Ucap Abil memperkenalkan diri, apakah harus Abil memperkenalkan namanya sendiri ? Toh, namanya selalu dibawah Nino di peringkat angkatan.
            “Tolong, jangan halangi jalanku !” lanjut Abil berbicara. Nino berhenti menghadap belakang secara perlahan membuang napas asal dan mengedikkan bahu. Mungkin kalau diartikan bahasa tubuh Nino, ia akan bilang bahwa apa gunanya gue kenal lo ? peduli amat apa ? sedikit kesal Nino mempercepat larinya mendahului Abil.
            “Ternyata tak mungkin jika aku mendahuluimu, setidaknya hari ini aku telah melihat salju. Hei Nino ada salju di atas kepalamu !” ucap Abil dengan napas yang terengah-engah. Nino menghiraukannya sampai ia sadar bahwa namanya disebut dan ada salju di kepalanya. Bodohnya, ia mengelus rambutnya yang tak ada sesuatu disana.
            “Aneh, bagaimana bisa ada salju turun di Indonesia ?” gumamnya pada dirinya sendiri sampai ia mendengar bunyi yang menghantam lapangan, badannya berbalik melihat tubuh Abil yang sudah tergeletak. Tangannya ditarik oleh seseorang untuk membawa Abil ke UKS.
Di dunia ini tak seorangpun tak memiliki ketakutan, sama seperti Nino ia memiliki sebuah ketakutan. Seharusnya ia mengerjakan ulangan kimia, seharusnya ia tak melihat Abil yang seperti ini. Tak juga melihat kakaknya yang terbaring. Kenangan itu kembali muncul ketika ia bersama kakaknya. Halaman rumah itu begitu sepi, suara ayunan putih itu menjadi satu-satunya suara yang dapat terdengar. Ayunan itu berhenti ketika tak seorangpun mengayunnya. Anak laki itu menengok kearah kakaknya, terkejut dengan darah yang menetes dari tangannya yang menutup bibirnya.
“Kak, Kak Ren kenapa ?” ucap Nino khawatir pada kakaknya, Rena hanya menggeleng tak mau melihat adiknya khawatir. Nino beberapa kali mendengar kakaknya terbatuk dan perlahan meninggalkannya pergi kedalam rumah.
Beberapa hari setelah itu Rena kakak dari Nino dilarikkan kerumah sakit untuk perawatan. Dinding berwarna biru dan putih secara dominan dan juga aroma yang paling Nino benci. Suara denyut jantung itu masih menghiasi ruangan, sampai pada akhirnya satu bunyi panjang mesin itu membuat Nino menitikkan air mata lagi setelah kepergian ibundanya. Satu lagi senyuman itu hilang. Setelah bundanya, sekarang Rena harus meninggalkan Nino.
“Nino, jika aku mengambil jurusan kedokteran saat itu mungkin bunda akan terselamatkan.”
“Kak Ren jangan menangis, nanti suatu saat aku akan menjadi dokter. Jadi aku bisa menjaga senyuman orang-orang yang kusayangi.”
Percakapan itu terngiang-ngiang di benak Nino. Disamping batu nisan bunda dan kakaknya, dia berjanji untuk menjaga ayahnya kalaupun ia harus menjadi dokter tak apa jika ayahnya berada disampingnya.
“Hey Nino,” lagi-lagi gadis itu, senyuman itu. Nino menggeleng, ia meyakinkan dalam hati bahwa senyuman itu tak mirip dengan kak Rena apalagi dengan bundanya.
“Nino, apakah kamu tahu bahwa pingsan itu merupakan penyakit menular !” ucap Abil seperti para ilmuwan, beberapa detik kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Jika kamu tidak pingsan, aku juga juga tidak akan pingsan ! belum lagi aku biasa lari seperti itu.” Nino sedikit kesal dengan Abil tapi senyumnya terasa lepas saat bersamanya.
Sejak saat itu melihat senyummu bagai berlian akan ku jaga dengan sebaik-baiknya tapi takkan ada yang boleh mendapatkannya selain aku.
Hari demi hari sangat cepat berlalu, Nino sibuk dengan cita-citanya belajar lagi dan lagi. Ia duduk disamping Abil, hanya beberapa kali ia berbicara tentang sesuatu selebihnya Nino membaca buku atau menulis sesuatu. Namun yang terpenting bagi Abil, ia bisa melihat senyum Nino yang muncul karena tingkah-tingkah kecil Abil. Sudah beberapa kali melakukan try out, sudah beberapa kali membahas soal, sudah melewati ujian praktek dan UN, ataupun test SNMPTN. Itulah yang mereka tunggu setiap detik yang mereka gunakan, setiap doa yang mereka panjatkan hanya untuk membanggakan kedua orang tuanya ataupun orang yang mereka sayangi.
Hari pemberitahuan hasil SNMPTN di depan mata, aneh hari ini Abil tak masuk lagi. Apa mungkin dia pergi ke luar negeri ? kan dia ingin melihat salju ? Dia pergi ke Eropa ? mungkin. Apa dia sakit ? Nino sebenarnya khawatir padanya, ia harus memberitahukan hasil itu pada Abil terlebih lagi pada ayahnya. Ia berhasil masuk jurusan kedokteran, sujud syukurpun ia lakukan detik itu juga. Senyumnya tak terlepas di wajahnya, ia segera menghubungi sang ayah. Beruntung telefonnya berbunyi dan bertuliskan nama ayah disana.
“Ayah, Nino berhasil masuk,…” Kata-katanya terhenti, telefonnya sudah lenyap di tangannya berbenturan dengan lapangan yang menimbulkan slow motion di hadapannya.
“Kami dari kepolisian, mengabarkan bahwa ayah anda kecelakaan. Harap datang ke rumah sakit yang telah saya kirim alamatnya.” Suara polisi itu masih berdengung di telinganya.
Sudah, lengkap bukan kehidupannya ? ada kebahagiaan dan ada kesedihan ? itu bisa diatasinya dengan mudah. Hanya saja, jangan memberinya kebahagiaan dan kesedihan secara bersamaan. Arah mana yang harus dia ikuti ? langkahnya berjalan entah kemana. Ia tak tahu mau kemana hanya saja dia butuh udara, ia harus pergi ke atap.
Bukankah lebih baik jika ia ikut bersama dengan Ibu, Ayah, dan kakaknya ? ia tepat diujung atap, berfikir bagaimana cara melompat dari lantai empat. Tak ada lagi satu senyuman yang dapat ia lindungi. Selangkah lagi sampai ia bisa menyusul keluarganya, tapi tangan itu mendekapnya. Gadis itu memeluknya erat.
“Bagaimana caranya kau menghargai kehidupan ?  dengan cara seperti ini ? Asal kau tahu, ada banyak orang yang sedang berjuang melawan penyakit agar tidak bertemu dengan kematian ?” Abil masih memeluk Nino sambil berteriak. Ia menumpahkan semua emosinya, tangisnya pecah.
“Untuk apa ? sudah tak ada lagi orang yang aku sayangi di dunia ini ! untuk apa aku harus berjuang ?” Nino berbalik menggoyangkan bahu Abil dengan cukup keras, kini berbalik Nino menuangkan emosinya. Sudah cukup ia diperlakukan tidak adil oleh Tuhan.
“Apa katamu ? kau tidak hanya berjuang untuk orang yang sayangi ! tapi kau harus berjuang untuk orang yang menyayangimu ! lihatlah ! ada banyak orang yang berharap pada calon dokter sepertimu !” Abil masih berteriak, mendorong bahu Nino cukup kencang.
Nino menunduk memikirkan perkataan Abil, air matanya keluar begitu saja. Ia menatap Abil yang tiba-tiba ambruk di depan matanya.
“Abil, mau kamu itu apa ? kenapa kamu hobi banget pingsan !” Nino membawa Abil ke rumah sakit yang sama di tempat ayahnya kecelakaan.
Nino masih setia mengucap doa untuk ayahnya yang sedang kritis, ia punya kesempatankan ? untuk bahagia setidaknya bersama ayahnya. Bahkan, ia belum memberi tahu sang ayah bahwa ia masuk jurusan kedokteran. Setelah beberapa jam ia menunggu dengan doa, ayahnya masih bisa terselamatkan. Ia memeluk ayahnya, memberitahu bahwa ia berhasil masuk jurusan kedokteran.
Nino pamit ke ayahnya untuk menjenguk temannya. Setelah kedatangan keluarga Abil, Nino pergi untuk menemui ayahnya. Nino berlari, suara denyut jantung terngiang di telinganya. Nino melihat Ayah dan bunda Abil berpelukan, akhirnya Abil baik-baik saja, pikir Nino.
“Tante, bisakah saya melihat Abil ?”
“Abil telah meninggalkan kita,” Nino diam mencerna kata-kata mamanya Abil.
“Abil bilang untuk kasih surat ini untuk orang yang bernama Nino, kamu Nino kan ? makasih untuk segalanya tentang Abil,” kini ayahnya bicara dengan Nino, mamanya masih menagis terisak. Dengan wajah yang datar menerima surat itu dan salim kepada kedua orang tuanya. Ia sadar ternyata satu senyuman berharga telah direbut-Nya (lagi).
Selesai.


Untuk Nino Alviano.
Ini Syabila Adhantya, kamu kenal aku ? tidak ! kamu tidak mengenaliku. Delapan tahun lalu di taman rumah sakit WS pukul 15.00 saat daun mulai berguguran kamu datang ketika tajamnya pisau menempel dipermukaan kulitku.
“Bagaimana caranya kau menghargai kehidupan ? beginikah ?” kalimat pertamamu.
“Aku ini punya penyakit dan divonis meninggal lima tahun mendatang, daripada aku menunggu dan menyusahkan kedua orang tuaku. Untuk apa aku hidup ?” Balasku.
“Baiklah, tepat pukul 13.00 mamaku meninggal” Ucapmu.
“Dan dia bilang jika sudah tak ada lagi orang yang kamu sayang, setidaknya kamu mempunyai orang yang menyayangimu,” Ucapmu lagi.
Dari ucapanmu, aku mulai sadar pada mereka yang menyayangiku. aku mulai teratur minum obat, aku mulai mengikuti terapi, aku mulai semangat demi orang yang menyayangiku.
Aku bertemu denganmu saat SMA betapa beruntungnya aku. Tapi, kau masih dingin dan tak tersentuh. Kau tak mengenalku. Kau tak sadar bahwa aku memiliki penyakit.
Aku tahu, kau kehilanngan kakakmu, satu lagi orang yang kau sayang. Aku semakin ingin mendekatimu membuatmu tertawa, sebagai kenangan bahwa aku pernah ada dihidupmu.
Sampai pada suatu saat aku sakit parah dan tak boleh meninggalkan rumah sakit, sejak itu aku tak takut, karena aku telah memegang kata-katamu.
Hari itu pemberitahuan hasil SNMPTN, aku masih di rumah sakit. Aku berfikir untuk kabur membawa seragamku. Hahaha. Aku sangat ingin medengar bahwa kau telah mendapat jurusan yang kau ingin.
Tapi, aku kecewa kau telah melepaskan kata-katamu. Aku mengingatkanmu tapi, sepertinya kau tak mengingatnya.
Aku yakin kau tak bisa membaca tulisanku karena berantakan, bahkan aku harus memohon pada suster untuk memberi waktu selama sepuluh menit untuk menulis suratku.
Peganglah kata-katamu, jika sudah tak ada lagi orang yang kamu sayang untuk berjuang, setidaknya kamu mempunyai orang yang menyayangimu untuk kau perjuangkan. akan ada sejuta orang tersenyum bahagia karena telah kau selamatkan nyawanya. Untukmu calon dokter.

Ini Abil.

Selasa, 25 Oktober 2016

Misteri Kotak Musik -Karya Nurhalizah

‘’Duaaarrr….Duaaaarrr…”.suara petir menyambar, gledek menggelegar, langit menangis bak melimpahkan air mata nya ke bumi. Udara dingin mulai menusuk relung jiwa, angin seakan berbisik di telinga,pohon seakan melambai di sebuah perumahan Casablanca yang terlihat bisu menikmati guyuran air hujan malam itu. Suara petir yang menggelegar membangunkan seorang gadis mungil yang sedang tidur terlelap di ranjang nya.
‘’Bunda..bunda..”.suara yang terdengar lembut yang memanggil bunda. Kini jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Ia berusaha untuk menghela nafas dan bangun dari bunga tidur nya.Gadis mungil itu bersandar di balik bantal. Ia teringat jelas akan kejadian tadi pagi ketika Bunda mengajak nya pergi ke tempat pelelangan barang yang tidak terpakai oleh penghuni nya sekitar 2 tahun silam.
“Bunda,,, lihat lah ada sebuah kotak musik,,” Ucap Syiena yang terlihat senang.
“Kita beli mainan ini ya Bunda,,’’ tambah Syiena yang meminta kepada Bunda.
‘’Kalau Syiena suka , Bunda akan membelikan nya untuk mu,”jelas Bunda.
 “ Permisi Pak,saya akan membeli kotak musik ini, Kira-kira berapa harga nya,,?”tanya Bunda kepada pelelang barang tersebut.
‘’Ambil saja Bu, kelihatan nya anak Ibu sangat menyukai nya,,”jawab seorang laki-laki yang berpostur tinggi dengan gaya rambut yang terlihat sedikit berantakan.
“Terimakasih Pak,, ‘’.ucap Bunda dengan berterimakasih kepada seorang laki-laki tersebut.
            Syiena pun terlihat senang karena ia akan mempunyai kotak musik .Seketika Syiena  mendengar suara asing dari sudut jendela disamping tempat pelelangan tersebut.Dari kejauhan terlihat seorang Kakek tua yang sedang berbaring di kamar tidur nya yang berada di latai atas. Seluruh badan nya terbalut kain putih yang terlihat seperti alien yang baru saja terkena kecelakaan. Suara Kakek tua itu seakan-akan memberi isyarat Syiena untuk tidak membawa kotak musik itu ke rumah nya. Raut wajah Syiena yang awalnya terlihat senang mendapatkan kotak musik itu berubah menjadi raut wajah seseorang yang sedang di  hadapkan  hantu.Tangan dan kaki nya bergetar dan segera ingin melangkah pulang.
“Bunda,, bunda mari kita pulang,,”pinta Syiena yang terlihat ketakutan.
‘’ kamu tidak ingin melihat lihat lukisan dinding yang lain nak,,?”Tanya Bunda
“ Ti..ti..dak Bunda,,”.jawab Syiena dengan terbata-bata.
“ Kalau begitu saya permisi pulang dulu ya Pak dan terimakasih sudah memberikan kotak musik kepada anak saya”.Ucap Bunda sambil menggenggam tangan Syiena.
‘’Sama-sama Bu ,,”.jawab Laki-laki tersebut dengan muka datar.
            “Kreeekkkk….Suara desitan pintu kamar seakan memecahkan lamunan Syiena. “Ayah....Ayah sudah pulang,,?”Tanya Syiena.
            Ayah yang baru saja pulang meminta agar Syiena lekas tidur.Saat itu Syiena berusaha menceritakan kejadian aneh yang ia alaminya tadi pagi kepada Ayah dan Bunda nya.Alhasil mereka tidak menggubris apa yang yang dibicarakan anak gadis munggil itu. Pembicaraan mereka seperti angin berlalu.
                                                                        ***
            Keesokan hari nya Syiena merasakan hening di rumah nya.Kotak music tersebut seakan menjadi teman bermain nya.Dengan rasa penasaran gadis kecil itu membuka kotak maianan dan mendengarkan alunan musik dari figure seorang penari didalam nya.Seketika angin bertiup kencang seakan menyambut kedatangan seseorang.Syiena terlihat ketakutan.Ditambah dengan kehadiran Nenek yang bertubuh bungkuk dengan jalan yang tergopoh-gopoh yang membuat Syiena merasa di hantui.Ia adalah Mbok Surti yang di tugas nya Mang Otong untuk membantu Bunda menyelesaikan pekerjaan rumah.
Anak bertubuh mungil tersebut mulai menuruni anak buah tangga dan menyelusuri ruangan demi ruangan.Ia hendak pergi ke Kamar Mandi untuk menggosok gigi. “Kreeekkk…. Begitulah suara saat ia membuka pintu kamar mandi yang berukuran cukup besar. Syiena pun menikmati gosokan demi gosokan yang ia lakukan ke dalam mulut nya.Setelah selesai ia bercermin. Dan ia membuka mulut untuk melihat gigi mungil yang baru ia gosok dengan pasta mint. Tiba-tiba  sebuah tangan hitam  keluar dari mulut nya. Syienaa yakin pengelihatan nya saaat itu tidak kabur dan ia tidak sedang bermimpi . Bulu-bulu tangan dan kaki Syiena seketika berdiri.Teriakan pun terpecah di ruangan tersebut.Tangan munggil itu berusaha membuka pintu di kamar mandi tersebut, tetapi yang terjadi adalah pintu itu tidak bisa terbuka.
‘’Syiena…Syiena…buka nak pintu nya’’Pinta Ayah yang baru saja pulang  dengan suara lantang sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi tersebut.
‘’Ayahhhh,,,,Bundaaa,,,,Aku terkunci dari dalam , tolong aku ‘’.Teriak Syiena dari dalam kamar mandi tersebut.
            Akhirnya Ayah dengan mendobrak pintu tersebut. Dan memeluk anak gadis kesayangan nya tersebut.
 ‘’Ayah..Bunda.. Aaada tangan hitam yang berusaha keluar melalui mulut ku yah..bun..”cerita Syiena yang terlihat pucat dan terlihat menggigil ketakutan.
            Saat itu juga Ayah dan Bunda mempercayai anak gadis nya dalam keadaan berbahaya.Kesokan hari nya mereka mendatangkan sosok sejenis paranormal yang katanya akan mengusir roh halus.Tetapi semua itu tidak mendatangkan perubahan pada diri Syiena. Ia tetap mengalami hal misterius setiap hari nya.Ayah lah yang satu-satu nya yang bisa menyelematkan Syiena dari gangguan roh jahat tersebut. Di dalam ruangan yang hanya ada sedikit penerangan tiba-tiba perilaku Syiena berubah, ia membuang barang-barang yang ada di sekitarnya seakan-akan ada sosok yang mengendalikannya, yang membuat Ayah dan Bunda mengikat tubuh Syiena ke Bangku dengan tali temali yang kencang.
“Auzubilahiminasyaiton nirojim. Bissmilahirahmanirahim… Allahu laa ilaaha illa huwal hayyuul qoyum. La ta’khudzuhuu sinatuw wa laa naum. Lahuu maa fissamawati wa ma fil ardh. Man dzal ladzi yafa’u indahu illaa bi idznih. Ya’lamu maa baina aidihim wa maa kholfahum. Wa laa yuhithuuna bi syai-in min’ilmihi illa bi maasyaa-a. Wasi’a kursiyyuhussamawaati wal ardh. Wa laa ya-udhuu hifzhuhumaa wahuwal’aliyyul azhiiim.”
Ayat suci yang di terus di kumandangkan oleh Ayah membuat Syiena tambah menggila.Ia seakan akan merontak kesakitan setelah mendengar ayat suci tersebut.Sekin waktu lama perlawanan Ayah dengan roh halus tersebut membuat Syiena terkapar lesu dan memuntahkan darah dengan segerombol kupu-kupu hitam yang menandakan roh jahat itu keluar dari tubuh Syiena.

Tetapi perlu diketahui bahwa’’sesungguhnya syaitan itu ialah musuh bagi kamu yang terang nyata, dan manusialah mahkluk tertinggi derajat nya dibandingkan syeitan” . Setelah kejadian tersebut Mbok Surti baru bercerita kalau kotak music tersebut merupaka kotak maianan Shesha, gadis yang sudah meninggal dua tahun yang lalu akibat kebakaran di rumah nya yang menelan korban satu keluarga tersebut.Akhirnya Ayah dan Bunda meninggalkan kotak tersebut dan mengambil keputusan untuk pindah tempat di daerah tanah asalnya yaitu di daerah Jakarta.

Rumah Tua -Karya Ramadhan

liburan musim panas,ekstrakurikuler pramuka suatu SMA Negeri di jakarta  mengadakan acara kemah bersama dalam menyambut anggota baru. Perkemahan itu dilakukan di hutan dekat kaki gunung,jauh dari permukiman penduduk. sesampainya disana regu yang sudah dibentuk diinstruksikan oleh Pembina untuk melakukan upacara pembukaan. Setelah upacara,masing-masing regu ­diperintahkan untuk mencari tempat untuk mendirikan tenda dengan menyiapkan segala kebutuhannya,serta menentukan jarak antar tenda dengan tujuan untuk membentuk kepribadian yang lebih mandiri.
Salah satu regu yang beranggotakan nugraha ,raymond,dite,riza ,adhan,dan kevin telah menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Saat semua anggota sedang sibuk mendirikan tenda,nugraha dan raymond hanya duduk dan bermalas-malasan dibawah pohon. Karena mereka berempat kesal melihat kelakuan nugraha dan raymond, akhirnya mereka pun menyuruh nugraha dan raymond untuk mencari kayu bakar di dalam hutan.
Sebelum berangkat,adhan memberikan sebuah pisau lipat kepada nugraha dan raymond,serta mengingatkan mereka untuk tidak lupa memberi tanda pada pohon untuk penunjuk jalan pulang. Nugraha pun menerima pisau tersebut,dan mengacuhkan peringatan dari adhan. Nugraha dan raymond pun mulai menelusuri hutan yang berada dikaki gunung tersebut.
Setelah mereka mengumpulkan kayu bakar,mereka pun hendak kembali ke perkemahan,tetapi mereka lupa arah untuk kembali. Dengan sombong nya,nugraha pun memimpin jalan untuk kembali. Setelah sekian lama berjalan,mereka pun menyadari bahwa mereka telah tersesat. Mereka pun akhirnya bertengkar karna sifat sombong nya nugraha. Pada saat yang sama langit pun mulai gelap dan hujan pun mulai turun. Mereka pun mulai berlari ke arah bukit untuk mencari keberadaan perkemahan mereka. Tetapi mereka tidak melihat apapun. Hanya kegelapan yang mereka lihat. Saat sedang melihat sekitar bukit,raymond tergelincir jatuh kebawah bukit. Nugraha pun turun dari bukit untuk menolong raymond. Saat mereka berdiri,mereka melihat cahaya dari kejauhan. Tanpa pikir panjang mereka pun menghampiri rumah tersebut dengan mengharapkan pertolongan dari penghuni rumah itu.

Sesampainya disana, ada seorang kakek tua yang keluar dari dalam rumah. Kakek tersebut menawarkan pertolongan kepada meraka, Nugraha  dan raymond pun menerima pertolongan kakek itu. Saat mereka masuk kedalam rumah,mereka pun tercengang akan kemewahan rumah tersebut. Setelah itu,sang kakek menawarkan makanan dan mempersilahkan mereka untuk beristirahat dan memilih kamar yang mereka suka. Sang kakek pun berkata,”pilihlah kamar manapun yang kalian inginkan,tetapi jangan memilih kamar yang berada di sudut ruangan lantai 2”. Nugraha dan raymond pun mematuhi perkataan kakek itu dan mereka mulai memilih kamar yang mereka mau. Setelah memilih kamar mereka pun tertidur. Saat pagi hari raymomd terbangun karna mendengar suara aneh dari luar kamar dan ia pun terkejut karena melihat kamar yang mereka tempati berubah menjadi ruangan antah-berantah. Raymomd pun ketakutan dan segera membangunkan Nugraha. Saat Nugraha bangun dia pun juga terkejut melihat keadaan kamar yang mereka tempati. Mereka pun bergegas keluar kamar dan mencari keberadaan sang kakek. Ruangan demi ruangan pun mereka telusuri tetapi yang didapat hanyalah ruangan kosong. Mereka pun terhenti di depan ruangan yang dilarang oleh sang kakek,mereka pun memberanikan diri untuk membukanya,lalu mereka terkejut melihat kerangka tubuh manusia yang duduk di sebuah kursi goyang dengan menggunakan baju yang sama persis yang dikenakan oleh sang kakek. Tiba-tiba mereka mendengar seruan yang menyebut nama mereka dari luar rumah,mereka pun segera menghampiri sumber suara tersebut. Setelah keluar rumah,mereka bertemu dengan seluruh anggota pramuka yang telah mencari mereka sejak malam. Nugraha dan raymond pun merasa lega karna bertemu dengan mereka. Pembina mereka pun menginstruksikan seluruh anggota untuk segera kembali ke perkemahan. Dengan perasaan yang masih ragu Nugraha dan raymond pun memberanikan diri untuk menoleh ke arah rumah tersebut. Mereka pun terkejut saat mendapati sang kakek yang sedang melambaikan tangan sambil tersenyum dengan tatapan dingin dan wajah bersimbah darah,di jendela kamar terlarang tersebut. Mereka pun menatap dengan tatapan ketakutan.

Kandasnya Persahabatan -Karya Azzahra Chrysna Hady

Kiara Queeneta, atau yang biasa dipanggil amoy adalah anak tunggal dari pebisnis sukses.  Karena orang tuanya tinggal di Kalimantan untuk urusan bisnis,  maka Amoy tinggal bersamaOmnya, Mas Danu. 
Amoy mempumyai banyak teman laki-laki karena Amoy adalah ketua geng Redmons. Amoy sangat dihormati oleh teman-teman lakinya. Amoy memiliki satu sahabat, Agit. Agit bukam berasal dari keluarga yang berkecukupan. Tanpa Amoy,  Agit bukanlah apa-apa. Persahabatan mereka sudah berlangsung lama.
Saat sedang berkumpul di basecamp Redmons, Bang Ipang meanggil Amoy.
"Moy.. Sini dah", teriak Bang Ipang
"kenapa bang? ", jawab Amoy santai
" kemaren gua denger sahabat lu, Agit,  ngomongin lu Moy"
"iya? Udah biarin aja" jawab Amoy santai dan langsung meninggalkan basecam. Amoy kembali ke rumah dengan Ferarri kesayangannya yang dinamai fufu. Di perjalanan Amoy memikirkan omongan Mas Danu tentang Agit tadi.
"ah ga mungkin Agit sejahat itu.. "
Sesampainya di rumah,  Mas Danu meminta Amoy untuk menemani bertemu client di sebuah kafe.
" Moy,  besok temenin gua ketemu client! " teriak Danu
" ya" jawab Amoy singkat
Besoknya,mereka langsung menuju kafe tujuan untuk menemui client Danu.  Ketika sampai di kafe tersebut,  Amoy melihat Agit sedang serius bercerita dengan teman-temannya. Agit tidak menyadari kalau Amoy ada di kafe tersebut. Amoy mendekat ke meja Agit untuk mendengar apa yang diceritakan Agit. Ternyata apa yang diceritakan oleh Bang Ipang itu benar.
Amoy langsung menghampiri meja Agit dan memukul keras meja tersebut.
"Temen macem apa lo ngomongin sahabatnya dibelakang?. " bentak Amoy dan membuat para pengunjung kafe memutar pandangannya ke arah mereka.
" eh Amoy.  Suka-suka gue dong Moy mau ngomong apa. Mulut gue kan?. " jawab Agit santai yang membuat Amoy semakin geram. Dan membuat Amoy memukul keras wajah Agit hingga bibirnya berdarah.
" gatau terimakasih lo! " teriak Amoy
Agit membalas pukulan Amoy sehingga pelipis amoy mengeluarkan darah. Perkelahian mereka mengundang banyak orang untuk melihat. Danu yang melihat kejadian tersebut bergegas untuk menghampiri Amoy untuk melerai perkelahian tersebut.
" Amoy udah! " bentak Danu
Seketika perkelahian tersebut berhenti. Danu menarik Amoy ke mobil dan langsung berjalan pulang. Danu tahu pasti apa yang Amoy lakukan.
" ngapain si berantem di kafe? Gaada tempat lain untuk berantem? ", tanya Danu
" Agitnya aja yang gatau diri! "

Setelah kejadian di kafe itu Amoy tidak pernah mau bertemu Agit dan selalu menghindar ketika tidak sengaja berpapasan dengan Agit. Disisi lain,  Agit merasa bersalah atas perbuatannya itu. Agit berusaha menemui Amoy untuk meminta maaf,  tapi tidak bisa. Akhirnya persahabat mereka hancur karena Agit telah mengkhianati kebaikan Amoy. Persahabatan mereka selesai saat perkelahian di kafe waktu itu. 

Ketegasan diri seorang Higea -Karya Yusnia Thalita Agnes Arifani

Gadis belia yang cantik tidak hanya hatinya tetapi juga kepribadiannya. Itulah Higea Herafrodith. Higea memiliki tubuh yang tinggi dan ramping dengan rambut hitamnya yang pendek. Meskipun rupanya tidak terlalu cantik, Higea dapat dikatakan memiliki paras yang menarik dan senyumnya pun tidak membosankan untuk dipandang.
Higea merupakan gadis yang dapat memahami bagaimana sejatinya perasaan seseorang yang ia kenal. Ia sangat pintar, tidak hanya dibidang akademis tetapi juga pintar bermain music serta dapat membaca situasi dan kondisi yang dihadapi pada dirinya maupun orang lain. Ia juga tegas akan sesuatu hal. Meskipun ia agak sedikit konyol dimata teman-temannya.
          Dalam hidupnya, higea ingin sekali dihargai. Sejak kecil ia diajarkan untuk berperilaku jujur oleh orang tuanya. Sayang, orang tua Higea jarang dirumah. Orang tua Higea kerap kali meninggalkan ia dan saudaranya untuk pergi bekerja. Oleh karena itu, Higea sering pula merasa kesepian. Beruntung Higea masih memiliki seorang nenek dari pihak ibunya.
          Higea hidup dikeluarga yang berkecukupan. Meski begitu, ia tetap tidak mau merepotkan orang lain. Bahkan jika ia diberikan bantuan ia tetap meyakinkan apakah orang yang bersangkutan berkenaan atau tidak, sekalipun itu keluarganya. Baginya, lebih baik jika ia melakukannya sendiri.
          Untuk pertama kali dalam hidupnya, Higea didekati seorang pria bernama Leonidas. Pada saat tu, Higea yang belum mengenal arti suka pun mulai memahaminya. Higea mulai menyukai Leonidas. Ia merasa senang bersama dengan Leonidas. Tetapi, hancur hati Higea ketika ia mengetahui bahwa Leonidas mendekati gadis lain yang terbilang lebih cantik dari dirinya.
          Merasa sedih dan dikecewakan, Higea memutuskan untuk tidak lagi menyukai seorang pria. Ia menjadi naif. Ia tidak ingin jika harus menyukai seorang pria dengan sepenuh hatinya, ia dilukai. Malamnya, Higea menulis buku harian sembari menangis.
“Mengapa aku harus menyukainya?” Higea bergumam sendirian didalam kamarnya. Ia merasa sulit untuk melupakan hal pertama seperti itu dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Jelas banyak pria yang diam-diam menyukai Higea namun baru Leonidas saja yang hanya mendekati Higea. Seolah perhiasan baru yang diberi kepadanya, dicuri begitu saja mengingat Leonidas menyukai yang lain
          Bangkit dari kesedihannya, Higea kembali didekati pria bernama Ares. Tampak dimata Higea bahwa Ares berusaha mendekati Higea. Higea kapok dengan kejadian sebelumnya. Sehingga ia bersikap cuek terhadap Ares yang berperilaku manis kepada dirinya.
“Tidak! Aku tidak mau mengalami hal seperti itu lagi.” Gumam Higea dalam hati.
          Ares benar- benar menyukai Higea. Ares sangat berjuang keras untuk mendapatkan Higea. Ares ingin menjadikan Higea sebagai kekasihnya. Berbagai cara Ares lakukan untuk menarik perhatian Higea. Hingga akhirnya Higea mulai melihat usahanya.
          Higea mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari sebelumnya saat ia menyukai Leonidas. Higea merasakan bahwa Ares tidak seperti Leonidas yang sebatas menemaninya saja. Higea melihat Ares berusaha keras untuk mendekatinya dan kemudian Higea merasa iba terhadap Ares. Ia mulai membuka kembali hatinya untuk menerima Ares dengan harapan Ares tidak seperti Leonidas. Higea berharap ia dapat menjalin hubungan lebih lama dari Leonidas.
“Umm… Higea, apakah ka… kaa… kamu mau menjadi kekasihku?” dengan tergagap Ares menyatakan tujuannya yang sedari awal mendekati Higea.
Higea yang hanya baru memahami apa itu rasa suka, ingin memahami lagi lebih dalam bagaimana rasanya menjalin kisah kasih dengan seseorang.
“Baiklah.” Jawab Higea.
          Sesuai dengan harapannya, Higea dan Ares menjalin hubungan cinta dan kasih layaknya seorang kekasih selama empat tahun. Pahit dan manisnya, suka dan duka mereka lewati bersama. Mulai dari harmonis hingga bertengkar dan berbaikan lagi. Hal tersebut selalu berulang.
          Ares dan Higea kini benar- benar saling menyayangi dan mencintai satu sama lain. Higea mengira Ares kelak akan datang melamarnya. Namun, Higea kini semakin meragukan Ares. Memang Ares seorang pria yang baik budi, sopan, santun, ramah, lemah lembut, dan sangat pintar tetapi ada satu yang tidak dilihat oleh Higea terhadap Ares, yaitu ketegasan seorang pria.
          Kian hari Ares semakin sibuk dengan urusannya. Ares berjanji akan membantu Higea apabila ia membutuhkan bantuan. Akan tetapi, Ares selalu mengecewakan Higea. Tidak hanya sekali, namun berulang kali Ares mengecewakan Higea hingga ia lelah. Belum lagi Higea yang pandai membaca kepribadian seseorang pun semakin ragu melihat Ares.
          Higea memang menyayangi Ares dengan tulus begitupun sebaliknya. Atas keraguan Higea, tiap hari ia berdoa meminta petunjuk kepada Tuhan apakah ia harus bertahan atau meninggalkan Ares, mengingat Ares mulai serius berhubungan dengan Higea dan Higea merasakan ada sesuatu yang kurang dan harus diperbaiki dalam diri Ares.
          Hari demi hari Higea lewati. Akhirnya, ia meminta melepas hubungannya dengan Ares dengan berharap Ares akan introspeksi diri dan memperbaiki apa yang kurang dalam dirinya dan memang seharusnya ada pada diri seorang pria.
          Banyak pria yang mendekati Higea. Mulai dari yang mendekatinya karena suka hingga yang membutuhkan saran dari seorang Higea dikarenakan Higea sering menjadi tempat curhat bagi teman- teman yang mempercayainya. Meski Higea lebih akrab bermain dengan teman-teman pria-nya, Higea tetap menjaga perasaan dan hatinya untuk Ares seorang.
          Bukannya berfikir mengapa Higea ingin lepas hubungan dari Ares, Ares malah ikut melepas Higea dan melampiaskannya kepada wanita lain. Higea benar- benar terguncang seakan istana yang ia bangun bersama Ares kini runtuh perlahan. Higea yang selalu menjaga perasaannya terhadap Ares juga telah melihat bagaimana Ares berdua dengan wanita tersebut.
          Higea tertegun. Ia terpuruk selama beberapa hari. Tubuhnya yang sudah kurus semakin turun beratnya. Bahkan ia pun harus mengalami sakit berminggu-minggu. Higea selalu berusaha berfikiran positif terhadap Ares. Baginya, wajar jika Ares melampiaskan pada wanita lain karena Higea melepaskan Ares dan mungkin Ares merasa kesepian.
          Karena sudah mendarah daging, ibu Higea curiga dan bertanya apa yang sedang terjadi pada dirinya. Higea pun bercerita dan berpura-pura tegar dihadapan ibunya. Ibu Higea mendengarkan ceritanya dengan seksama. Higea menjelaskan semua kepada ibunya tercinta. Menyimak ceritanya, ibu Higea berkata.
“Higea, kamu tidak perlu merasakan kesedihan berlarut hanya karena kehilangan sosok seseorang. Kamu adalah wanita yang bijaksana. Jika ia yang tidak memiliki prinsip, maka kamulah yang harus memilikinya. Jangan kamu terjatuh karena seorang pria yang kamu cintai meninggalkanmu demi yang lain atau karena alasan lain. Hal itu berarti ia adalah pria yang tidak visioner. Namanya melepaskan pasti ada penyesalan dikedua belah pihak. Kamu harus kuat, tunjukkan bahwa kamu adalah wanita yang tegar. Kelak ketika kamu bangkit, yang meninggalkanmu akan merasakan penyesalan terdalam. Dan pada saat itu terjadi, mungkin ia akan kembali kepadamu. Disini kamu akan diuji, apakah kamu adalah wanita yang tegas ataukah tidak dilihat dari keputusan yang kamu ambil. Tapi ingat, jangan kamu putuskan hubungan pertemananmu dengan dia, karena dia sudah banyak berjasa. Kelak barisan para mantan akan berguna dimasa depan. Bangun relasimu.”
          Higea merasa ditampar oleh nasihat ibunya dan ia mulai menjalani hidupnya kembali seperti sedia kala tanpa ada kekasih hatinya yang selama bertahun-tahun menemani kehidupannya.