Selasa, 25 Oktober 2016

Sandiwara Raut Wajah -Karya Thalia Octavania Diatma

Aku menyusuri jalan nya malam, dalam hembusan angin yang menusuk tulang hingga rusuk ku. Tatapan ku lurus dan pikiran ku seperti sedang berlalang buana. mengapa aku harus merasakan perihnya tak di anggap oleh Ayah ku sendiri? aku tak selemah itu. Aku selalu tersenyum di hadapan mereka semua. pikiran ku seperti mengarah pada tadi siang saat teman ku Yola dicium oleh Ayahnya. Hatiku terasa terhempas ke dalam samudera. Aku ingin yah, aku ingin di manja seperti mereka.

Kepala terasa berat saat harus membuka mata, Oh shit! ternyata ini sudah jam 1 siang, aku seperti malas membangunkan badan ku. Untung hari ini aku libur, dan ucapan selamat siang diucapkan oleh wanita berumuran 39 tahun yang sedang memakai daster dan menyiapkan makanan. Ya itu mama ku, dia yang mencukupi segala kebutuhan ku sejak aku kecil hingga saat aku tumbuh dewasa. Dia bukan sekedar mama, tapi dia sekaligus jadi ayah, ketika ayah ku tak ada dan takan pernah ada.

Usia saat itu terlalu kecil untuk aku yang merasakan kepedihan bahwa orangtua ku harus bercerai. aku merasakan nya sendiri, tapi bagaimanapun aku tetap tersenyum seperti hal nya tidak terjadi apa apa. tapi saat sendirian aku merasakan ingin mempunya keluarga yang utuh.

Aku siang ini berniat menemani mamaku yang ingin berjalan jalan disuatu kawasan Mall di Jakarta, aku memang seperti teman ketika bersama mamaku, dan mamaku selalu jadi pendengar yang baik saat aku sedang terlibat masalah bahkan saat aku sedang dekat dengan lelaki. kami berjalan sambil tertawa melihat tingkah orang yang aneh. itu mama ku! dia sangat mengerti masa muda anaknya.

Ketika aku ingin mendaftar kerja di sebuah perusahaan ternama, mama yang mendampingi ku sampai aku bisa sesukses ini. dan saat aku bertemu dengan lelaki yang ingin meminang ku, mama sangat sedih, aku tahu itu berat bagi mama. Rasanya aku ingin meluk mamaku dengan erat. sangat erat.

Kau selalu mengajarkan ku bagaimana aku tidak bergantung kepada orang lain, dan bagaimana aku memilih pasangan hidupku, aku tahu apa yang dia ajarkan itu pasti pengalaman dia yang lalu.


Hingga tiba saat nya di hari pernikahan ku, aku melihat mamaku menangis bahagia. Ma tenang kau tetap bersama ku, batinku berbicara. Aku sangat bangga mempunyai Mama seperti mu, doakan aku bisa sekuat dan setegar seperti engkau mah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar