Aku menyusuri jalan nya
malam, dalam hembusan angin yang menusuk tulang hingga rusuk ku. Tatapan ku
lurus dan pikiran ku seperti sedang berlalang buana. mengapa aku harus
merasakan perihnya tak di anggap oleh Ayah ku sendiri? aku tak selemah itu. Aku
selalu tersenyum di hadapan mereka semua. pikiran ku seperti mengarah pada tadi
siang saat teman ku Yola dicium oleh Ayahnya. Hatiku terasa terhempas ke dalam
samudera. Aku ingin yah, aku ingin di manja seperti mereka.
Kepala terasa berat saat
harus membuka mata, Oh shit! ternyata ini sudah jam 1 siang, aku seperti malas
membangunkan badan ku. Untung hari ini aku libur, dan ucapan selamat siang
diucapkan oleh wanita berumuran 39 tahun yang sedang memakai daster dan
menyiapkan makanan. Ya itu mama ku, dia yang mencukupi segala kebutuhan ku
sejak aku kecil hingga saat aku tumbuh dewasa. Dia bukan sekedar mama, tapi dia
sekaligus jadi ayah, ketika ayah ku tak ada dan takan pernah ada.
Usia saat itu terlalu kecil
untuk aku yang merasakan kepedihan bahwa orangtua ku harus bercerai. aku
merasakan nya sendiri, tapi bagaimanapun aku tetap tersenyum seperti hal nya
tidak terjadi apa apa. tapi saat sendirian aku merasakan ingin mempunya
keluarga yang utuh.
Aku siang ini berniat
menemani mamaku yang ingin berjalan jalan disuatu kawasan Mall di Jakarta, aku
memang seperti teman ketika bersama mamaku, dan mamaku selalu jadi pendengar
yang baik saat aku sedang terlibat masalah bahkan saat aku sedang dekat dengan
lelaki. kami berjalan sambil tertawa melihat tingkah orang yang aneh. itu mama
ku! dia sangat mengerti masa muda anaknya.
Ketika aku ingin mendaftar
kerja di sebuah perusahaan ternama, mama yang mendampingi ku sampai aku bisa
sesukses ini. dan saat aku bertemu dengan lelaki yang ingin meminang ku, mama
sangat sedih, aku tahu itu berat bagi mama. Rasanya aku ingin meluk mamaku
dengan erat. sangat erat.
Kau selalu mengajarkan ku bagaimana aku tidak
bergantung kepada orang lain, dan bagaimana aku memilih pasangan hidupku, aku
tahu apa yang dia ajarkan itu pasti pengalaman dia yang lalu.
Hingga tiba saat nya di hari pernikahan ku, aku
melihat mamaku menangis bahagia. Ma tenang kau tetap bersama ku, batinku
berbicara. Aku sangat bangga mempunyai Mama seperti mu, doakan aku bisa sekuat
dan setegar seperti engkau mah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar