Selasa, 25 Oktober 2016

Hari Keberuntungan -Karya Dinda Oktaviyanti

cklek..
Ada yang membuka pintu kamarku, namun rasanya mataku sangat berat untuk terbuka atau hanya sekedar melihat.
" Aya.. ayo bangun.. udah subuh ini" kata wanita yang aku panggil Bunda
"emmm.." gumamku dengan mata yang masih tertutup
"ayo bangun nak, nanti kesiangan salatnya" katanya lagi dengan lembut
"iyaa bun, 5 menit lagi" jawabku sambil mengubah posisi tidur agar lebih nyaman
"cepat nak, nanti kamu bisa terlambat" sahut Bunda sambil meninggalkan kamarku
" iyaa bun, aya bangun" kataku sambil merenggangkan badan
Ya namaku adalah Tengku Quenna Rayya keluarga biasa memanggilku dengan nama aya, aku adalah gadis keturunan Aceh. Aku mempunyai kakak bernama Tengku Rafid yang selalu mengantar aku pergi ke sekolah setiap hari. Aku juga mempunyai Abi dan Bunda yang selalu perhatian dan sayang kepada anaknya.
Setelah salat aku memulai aktifitas pagiku untuk siap-siap ke sekolah. Setelah selesai aku turun ke bawah untuk sarapan bersama ka Rafid, Abi, dan Bunda. Saat aku turun ternyata semuanya sudah berkumpul di ruang makan dan menungguku. Aku pun langsung bergabung.
Setelah selesai makan dan melihat jam yang terlingkar di tanganku menunjukkan pukul 06.10, aku pun meminta ka Rafid untuk mengantar aku ke sekolah seperti biasanya. Aku bersekolah di SMA Garuda, sekolahku masuk jam 06.30 karena sebelum memulai pelajaran kami tadarus Al-Qur'an terlebih dahulu.
Aku pun menyalami abi dan bunda untuk meminta izin berangkat ke sekolah. Setelah itu kami masuk ke dalam mobil, meninggalkan pelataran rumahku. Di dalam mobil aku terus saja memperhatikan jam di tanganku, karena 10 menit lagi pintu gerbang sekolah akan di tutup dan aku tidak ingin mendapat hukuman karena terlambat.
Tiba-tiba mobil yang aku naiki bersama ka Rafid berhenti di tengah jalan. Aku langsung menanyakan kepada Ka Rafid kenapa mobilnya berhenti yang dijawab dengan mengangkat bahunya. Ka Rafid pun keluar mobil untuk memeriksa apa yang terjadi. Karena menunggu ka Rafid yang lama, aku menghampiri ka Rafid.
" Ka, mobilnya kenapa?" tanyaku
" Bannya bocor dek" jawab ka Rafid setelah mengecek keadaan mobilnya
" yYahh kaa, aku sudah mau telat. terusnya gimana?" tanyaku lagi pada ka Arsyad sambil melirik jam di tanganku
" Emmm... Gini aja, lebih baik kamu cari tukang ojek. Kayaknya di pertigaan depan ada pangakalan ojek, coba kamu kesana. Kalau dianterin kakak kamu akan telat" saran ka rafid
" Yaudah ka, aku berangkat ya.. Assalamualaikum" kata aya sambil menyalami ka rafid
" Waalaikumsallam  maafin kakak ya, hati-hati di jalan" jawab ka rafid
Aku pun berlari menuju pangkalan ojek yang di beritahu ka Rafid yang berada di Pertigaan. Sesampainya disana , aku tidak menemukan tukang ojek.  Tanpa menunggu waktu lama, aku segera berlari menuju sekolah dengan lelah karena sebelumnya sudah berlari menuju pangkalan ojek. Saat aku sedang berlari terdengar suara.
Tinnnn...tinnn...
Aku berhenti berlari dan melihat mobil putih yang berhenti di depanku. Keluarlah Kanza sahabatku dari mobil itu. Kanza menghampiriku.
" Rayya, kamu kok sendirian memang nya tidak ada yang antar?" tanya Kazna
" Tadi aku di antar ka Rafid tapi ban mobilnya bocor jadi aku berangkat sendiri. Kalau aku menunggu ka Rafid akan terlambat sampai di sekolah" jawab Rayya
" Kenapa tidak naik ojek?" tanya Kazna
" Aku sudah berlari ke pangkalan ojek tetapi tidak menemukan tukang ojek" kata Rayya
" Ya sudah. ayoo berangkat sekarang bareng aku, nanti kita bisa terlambat" ajak Kazna
" Iyaa. makasih ya na kamu emang sahabat terbaikku" jawab Rayya
Akhirnya aku berangkat sekolah bersama kazna. Aku tidak terbayang seandainya kazna tidak melihatku di jalan dan aku akan terkena hukuman lari lapangan karena terlambat.
Saat pelajaran kedua sedang berjalan, kazna memintaku untuk menemaninya ke toilet. Penyakit pagi katanya. Di lapangan terlihat masih berlangsung hukuman lari yang diberikan guru kepada siswa yang terlambat. Untung tadi aku bertemu dengan kanza sehingga aku tidak perlu berlari mengelilingi lapangan seperti mereka batinku. Aku pun langsung memeluk kanza. Kanza bingung apa yang terjadi padaku sehingga aku memeluknya. Tetapi dihiraukannya karena memang kanza sudah kebelet  untuk pergi ke toilet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar