Seseorag gadis cantik muda
berumur 20 tahun sedang memandang gemerlap cahaya lapu kota NewYork dari sebuah
gedung pencakar langit, ia adalah Avelyn Tedjantara. Avelyn harus melakukan hal
yang tidah ia sukai yaitu memimpin salah satu perusahaan milik keluarganya. Itu
adalah perintah dari kakeknya, karna bagi Avelyn keluarga adalah selagalanya
dan Ia tida dapat menolak apa yang diperintahkan keluarganya.
“kringgggg…” dering telpon
menyadarkannya dari lamunanya.
“iya ada apa kek?” Tanya Avelyn
setelah memencet tombol hijau dihpnya
“aku akan pulang kek, 30 menit
lagi aku akan sampai di rumah” jawabnya
“iya kek” Avelyn pun memutuskan
telponnya dan segera membereskan peralatan kantornta. Kakek menyuruhnya untuk
segera pulang karena ada hal yang ingin kakek bicarakan
Mobil yang ditumpangi Evelyn
memasuki sebuah rumah besar nan indah,
“Avelyn pulang” teriaknya setelah memasuki rumah tersebut.
Avelyn mencium mamanya yang
sedang menonton televise dan berkata “Ave kau sudah ditunggu kakek di ruang
kerjanya”
“duduklah dulu Eve, kakek akan
menjelaskan semuanya” kata kakek dan menuntun Evelyn duduk disebelahnya.
“Ave sebenarnya kakek akan
menjodohkan kamu dengan anak teman bisnis kakek dan tidak ada penolakan untuk
mu Ave” tutur kakek membuat Evelyn terkejut bahkan sangat terkejut, karena apa
yang dikatakan kekeknya tidak bis ditentang.
“aku tidak bisa kek. Umurku masih
20 tahun, itu masih sangat muda bagiku kek. Bahkan aku tidak mengenalnya kek,
bagai mana bisa kami menikah?” jawab Evelyn dengan air mata yang membendung di
kelopak matanya.
“sudah lah Eve, masih ada waktu
sebulan untuk mengenalnya lebih jauh”
“pernikahan bukan lah hal sepele
bangi ku kek” bantah Avelyn dengan air mata yang telah jatuh dari kelopak
matanya
“bisakan kau mengikuti apa yang
kekek perintahkan Ave” tegas kakek
“tapi kek” kata katanya terputus
oleh bantahan kakeknya
“tidak ada yang ada yang harus
dibantah dan dipermasalahkan, keputusan kakes sudah bulat. Sebaiknya kau pergi
istirahat, Karena besok kamu akan pergi olehnya” Avelyn keluar dari ruang kerja
kakeknya dengan air mata yang terus mengalir.
“Kau tidak apa-apa Ave? Maafkan
kakak, kakak sudah berusaha menolak perjodohan itu tapi kakek tetap akan
melaksanakannya” kata Evan kakak Avelyn sambil memeluknya
“tidak apa apa kak perjodohan itu
pasti akan terjadi. Ave pergi kekamar dulu ya kak dan Ave tidak ingin diganggu”
melepas pelukan kakaknya dan berjalan meuju kamarnya
Keesokan paginya Avelyn terbangun
dengan mata bengkaknya, karena hamper semalaman ia menangisi pejodohan
tersebut. Ia pun segera membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap. Ia yakin pasti
lali-laki yang akan menikah dengannya akan datang keruahnya.
Avelyn pun keluar dari kamarnya
dan menuruni anak tangga. Ia melihat seorang laki-laki yang tidak ia kenal
sedang berbicarang dengan kakek dan orang tuanya.
“Ave kemari nak” panggil mamanya
“Ave kenalkan ini Werren smith,
dia yang akan menikah dengan mu. Dan Werren ini Avelyn, kau pasti sudah
mengetahuinya kan” jelas kakek memperkenalkan kami. Aku ahanya tersenyum
canggung, sepertinya aku pernah melihatnya di salah satu majalah bisnis.
“sepertinya kami akan pergih
sekarang, kami pergi dulu. Ayo Ave” katanya berpamitan.
“hati-hati dijalan” aku mendengar
suara mama tapi aku tidak menengok kearahnya.
Diperjalanan maupun di restoran Werren
sering mengajaknya berbicara, tapi dia hanya menjawabnya dengan seadanya
ataupun kata-kata sigkat.
Mereka saling berhungungan selama
satu bulan sebelum pernikahan mereka. Mereka sering bertemu untuk berkencan,
jalan jalan atau pun mempersiapkan pernikahan mereka. Semua berjalan rancar dan
hubungan mereka berjalan semakin baik.
Acara pernikaha mereka
berlangsung dengan meggah, dengan menggundang kerabat ataupun rekan bisnis
keluarga mereka. Avelyn tampak cantik menggunakan gaun pernikahannya, bahkan
Werren juga berkata bawa Avelyn sangat cantik ketika sedang berjalannya acara.
Rumahtangganya berjalan dengan
lancar, Avelyn berusaha melayani Werren dan menjadi iburumahtangga yang
baik.hari hari mereka jalani berdua dengan bahagai.
Hingga sustu ketika sikap Werren
berubah kepadanya. Werren selalu pulang malam dan selelu menghindari Avelyn,
Avelyn sangan bingung dengan perubahan sikap Werren. Avelyn pun pergi ke taman
untuk bertemu dengan Ray teman lamanya. Akhir-akhir ini Evelyn sering bertemu Ray dan
menceritakan apa yang terjadi dengan rumahtangganya. Avelyn bercerita kalau
tadi malam bahkan werren tidak pulang, Avelyn sangat sedih Karen sikap Wrren
tersebut. Ray pun menarik Avelyn kedalam pelukannya, sampai Rai merasa bahwa
Avelyn sudah tenang dan ia melepaskan pelukannya dan memberikan saran kepaba
Avelyn tenytang masalahnya.
Sesmpainya Avelyn di rumahnya ,
Avelyn melihat Werren duduk dikursi ruang temu ruamh mereka. Avelyn pun
mendekati Werren, tapi Avelyn baru
menyadari kalu Werren menatapnya dengan tatapan marah.
“apa yang kau lakukan?!” Tanya
Werren dengan nada marah dan dengan suara yang kencang
“Werren..” jawab Avelyn pelan, ia
sangat takut saat ini
“apa kau kalukan dengan laki-laki
itu!!”
“siapa yang kau maksud Werren?”
tanyanya dengan air mata yang menetes deras.
“apa kau berpura-pura melupainya?
Padahal kau selalu bertemu dengannya, bahkan kauberpekuakan dengannya di
taman!!”
Avelyn mencoba menjelaskan
semuanya kepada werren, tapi Werren tidak mau mendengarkan Penjelasannya.
Sampai akhirnya Werren ingin pergi dari raumah itu, tapi Avelyn mencegahnya
dengan menarik tanggannya dan Werren menghentakan tangan Avelyn dan mendorong
avelyn untuk menjauh darinya. Dorongan Werren terlalu keras menyyebabkan tubuh
Avelyn terjatuh dan kepalanya terpentok oleh meja. Avelyn sangat takut dengan
apa yang werren lakukan kepadannya bahkan sekarang kepalanya terasa sanggat
sakit. Sampai akhirrnya ia kehilangan kesadarannya denga darah yang mengalir
dari kepalanya.
Werren sangat panik Karen ia
telah melukai avelyn, dia pun segera membawa Avelyn ke Rumah sakit. Kata dokter
kondsi Avelyn tidak parah dan Avelyn pingsan dikarenakan keleahan. Ketika
Avelyn sadar Werren langgung meminta maaf kepada Avelyn dan ia juga mempercai
semua yang dikataka avelyn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar