Selasa, 25 Oktober 2016

Tak Selamanya -Karya Sofia Nur Agustin

Tetes-tetes air terjatuh dari langit. Kuhirup dalam-dalam aroma tanah basah yang menguap menusuk indera penciumanku. Aku termenung di jendela kecil kamarku sambil menyesap secangkir cokelat panas. Pikiranku berkecamuk mengingat percakapan semalam dengan Mama. Saat Mama memintaku untuk pergi ke Jogja dan bersekolah disana.
Malam itu..
“Raina, Mama sudah membelikanmu tiket kereta untuk pemberangkatan besok siang”
“Maksud Mama?” tanyaku bangkit dan duduk bersebelahan dengan Mama. Mama menjelaskan jika keadaan ekonomi keluarga kami sedang terpuruk, jadi Mama dan Papa memutuskan untuk mengirimku ke Jogja. Untuk tinggal dan menetap di Jogja bersama tanteku.
“Kamu mau kan Rain?” tanya Mama. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan berlalu ke kamar tidurku, meninggalkan Mama dikeheningan.
Mengingat hal tersebut membuatku cepat-cepat mengelap air mata di sudut mataku. Dua jam lagi aku akan berangkat ke Jogja dan hidup berjauhan dengan Mama dan Papa. Memasukkan ponsel ke dalam tas kecil dan menggendong ranselku. Di ruang tamu aku mendapati Mama dan Papa sedang berbicara serius –sepertinya—terlihat dari raut keduannya yang menunjukkan bahwa mereka sedang cemas. Ku bersihkan tenggorokanku dengan berdeham, yang membuat mereka menatap kearahku.
“Sudah siap?” tanya Mama sambil berjalan menghampiriku dan mengelus pelan rambutku.
“Aku siap Ma” ucapku pelan.
“Tidak ada yang tertinggal kan?” tanyanya lagi. Ku gelengkan kepalaku sebagai jawaban.
“Kalau begitu lebih baik Rain berangkat sekarang, perjalanan ke stasiun membutuhkan waktu yang lumayan lama” ucap Mama sambil mengiringku ke pintu depan.

***

Disinilah aku, terduduk di dalam gerbong kereta. Sendiri. Sebelumnya aku sudah berdebat dengan Mama agar Papa tidak usah mengantarku sampai Jogja dan aku bersikeras untuk pergi sendiri, dengan alasan aku berumur 17 tahun dan bisa melakukannya sendiri.
Untuk menghilangkan rasa bosan kupasang earphone di telingaku dengan volume yang tidak terlalu keras.  Selama perjalanan tak terlalu banyak yang kulakukan selain  mengobrol dengan orang yang berada di sebelah dan di depanku. Ku pejamkan mataku karena sudah sangat lelah, walaupun teman mengobrolku masih asyik membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak ingin kuketahui.
Sinar mentari menyilaukan memaksaku untuk membuka mataku. Menyipitkan mata dan memandangi keadaan sekitar. Rea—orang yang duduk sebangku denganku baru kembali mungkin sehabis dari toilet. Ku lempar senyum kearahnya dan ia pun kembali duduk sambil menatap kearah jendela di samping tempat ku terduduk.
Aku memutuskan untuk ke kamar kecil sebelum sarapan. Setelah selesai dengan urusanku di kamar kecil, aku terpaku melihat sambungan gerbong. Aku selalu suka saat tepat berada di sambungan gerbong. Biasanya aku akan menghabiskan banyak waktu untuk hanya sekedar berdiri memandang keluar di sambungan gerbong. Tetesan dari langit perlahan turun. Air perlahan jatuh kebumi. Ku renggangkan satu tanganku ke luar dan satu lagi berpegangan pada gerbong menahan agar badanku tidak terjatuh . Ku nikmati air yang mengenai permukaan tanganku. Perlahan  kupejamkan mataku dan kukeluarkan kepalaku menyembul sedikit, sedetik kemudian kurasakan sensasi air yang mengenai permukaan wajahku dengan lembut. Hingga lima menit kurasa tangan ku ditarik dengan kencang oleh seseorang yang membuatku tersentak kaget.
“Apa kau sudah tidak waras nona?” ucapnya sambil mendorongku pelan ke pintu gerbong yang tertutup. Dia mengatupkan rahangnya seolah sedang menahan emosi, tatapannya menusuk mata dan cengkramannya ditanganku semakin megerat saat ku masih menutup rapat mulutku.
“Maksudmu? Kau menganggu acaraku” ucapku dengan penuh penekanan disetiap katanya. Aku pun mendesis nyeri saat cengkraman dilenganku menjadi nyeri.
“Shhh, kau ini apa apaan sih?” ucapku sedikit berteriak di depan wajahnya.
“Seharusnya kau berterima kasih karena saya sudah menyelamatkan nyawamu nona” ucapnya sinis sambil melepaskan cengkramannya dilengaku. Lenganku terasa berdenyut, aku yakin pasti merah karena cengkraman yang terlalu kuat.
“Kau pikir saya akan menjatuhkan diri dari gerbong hah?” kataku sambil terkekeh. Sungguh menggemaskan lelaki ini, dia pikir aku akan bunuh diri? Lucu sekali.
“Cepat bilang terima—” ucapannya terpotong karena seseorang yang membuka gerbong yang berada tepat di belakangku.
“Vin?” ucap laki-laki yang muncul dari balik badanku.
“Aku cari kemana mana ternyata lagi berduaan sama cewek” ucap laki-laki itu sambil menatap jahil kearahku. Kulangkahkan kakiku memasuki gerbong dan kembali ke tempat dudukku. Lelaki aneh tadi terus terbayang dalam benakku, tatapan tajam matanya tak lepas dari benakku. Menggelengkan kepalaku sambil mendesis nyeri karena perutku yang berteriak meminta asupan.
Aku berjalan ke gerbong restorasi untuk membeli makanan, dan tak kuduga ternyata lelaki yang tadi menarikku di sambungan gerbong, tepat duduk di belakang kursiku. Pandangan kami pun bertemu membuatku cepat cepat mengalihkan pandangan ke arah depan. Setelah memesan semangkuk Mie kuah kuputuskan untuk memesan minuman dan bermain ponsel, berniat menghubungi Mama.
“Ehem” dehem seseorang di sampingku. Kudongakkan kepalaku dan mendapati lelaki aneh tadi. Kupandangi dia dengan heran, menerka nerka apa lagi urusanku dengannya.
“Enggak ada tempat kosong lagi, jadi terpaksa saya duduk disini”
“Terserah” jawabku sekenanya. Aku makan dengan keheningan, namun terkadang aku mendapatinya sedang melirik dari balik bulu matanya.
“Kamu enggak makan?” tanyaku sehabis meneguk air. Dia menggelengkan kepalanya pertanda tidak.
“Terus kenapa kamu disini?” tanyaku masih enggan menatapnya.
“Saya pengen cari temen ngobrol”
“Lalu?” tanyaku, kuberanikan menatapnya yang sedang menatapku juga.
“Lalu...”  ucapnya bingung sambil menatapku gugup. Sudut bibirku terangkat karena tingkahnya.
“Kamu kalo lagi bingung, lucu ya?” ucapku sambil tertawa. Matanya menyipit, bibirnya terangkat dan di pipi kanannya terdapat lubang kecil jika ia tertawa.
“Kamu rese juga ya” katanya membuatku menghentikan tawaku.
“Mmm, aku Vino” ucapnya sambil mengulurkan tanganya meminta di jabat.
“Raina” ucapku sambil menyambut jabatan tangannya. Dan terjadilah perbincangan ringan antara aku dan Vino. Dia lelaki yang tertutup, pintar dan lebih suka menghabiskan waktu untuk tidur. Kurang lebih begitulah yang dapat kutangkap dari yang dia bicarakan. Dan satu lagi, dia suka bicara.
“Saya harus balik, temen saya pasti udah nyariin” ucapnya beranjak dari kursi. Mungkin ucapannya tadi hanya alasan karena ia tidak nyaman berbicara dengan cewek pendiam sepertiku. Mungkin ia ingin mencari teman ngobrol yang tidak membosankan, bukan sepertiku. Kugelengkan kepalaku dan beranjak untuk kembali ke tempat dudukku di gerbong. Sengaja aku mengalihkan pandanganku darinya saat aku lewat di sampingnya. Aku tahu saat ini ia sedang menatapku, tapi kuhiraukan.
Sesampainya di kursiku langsung ku jatuhkan tubuhku dan mengeluarkan ponsel untuk mengirim pesan pada Mama.
Kepada : Mama
Maaf Ma baru balas, aku baru selesai sarapan. Love you Ma.
Ku masukkan kembali ponselku kedalam saku dan menatap jendela di kereta di sampingku jenuh. Tersisa 3 jam lagi untuk sampai Jogja, dan itu bukan waktu yang sebentar. Saat waktu tersisa tinggal 1 jam, Vino duduk tepat di sampingku. Karena Rea—perempuan yang duduk sebangku denganku—sudah turun di stasiun sebelumnya.
“Saya bete. Saya lihat kamu juga bosen ya?” ucapnya sambil membuka komik yang sedari tadi di genggamannya.
“Begitulah”
“Turun dimana?” tanyanya, matanya fokus pada bacaannya tapi pertanyaannya pasti ditujukan untukku.
“Jogja”
“Ohhh, tinggal disana atau Cuma liburan?” tanyanya lagi.
“Mmm, Saya baru pindah kesana” ucapku mengalihkan pandangan ke jendela. Ia menutup komiknya dan mentapku dari jendela kaca.
“Jadi kamu bakal sekolah di Jogja juga?” tanyanya. Kuanggukan kepalaku.
“Kamu sekolah dimana?” tanyaku masih menatapnya melalui jendela kaca.
“Kalo kita jodoh, pasti ketemu” ucapnya. Membuatku menolehkan kepala kearahnya serta menggernyitkan dahi. Yang ditatap hanya tersenyum miring. Jogja itukan luas jadi tidak mungkin aku akan bertemu Vino lagi.

****

Sesampainya di Jogja, tante Dea menjemputku di stasiun. Jadi aku tidak repot mencari alamat tante Rea. Keesokannya aku sudah harus masuk sekolah baru yang ternyata sudah didaftarkan oleh tante Rea, yang tentu saja suruhan Mama.
Hari pertama di sekolah aku tidak mendapat teman banyak. Karena memang aku yang tidak pandai bergaul, sehingga aku hanya berkenalan dengan satu cewek. Itu pun ia duluan yang mengajakku berkenalan. Aku memang sangat payah dalam hal untuk berbaur.
Bel istirahat berbunyi, Gista—teman baruku—mengajakku ke kantin. Saat kami berjalan ke kantin, di koridor banyak murid murid yang sedang menyoraki –mensuport—. Aku dan Gista melihat sebentar apa yang menjadi bahan sorakan tersebut. Namun saat aku berusaha untuk menyelip diantara kerumunan, aku mendengar seperti ada yang memanggil namaku. Tidak mungkin ada yang mengenaliku karena aku baru satu hari masuk disini. Orang tersebut tidak berhenti memanggil namaku, sehingga kutolehkan kepalaku. Celingukan kesana kemari, dan kudapati laki-laki yang berdiri tidak jauh dariku dengan memasang senyum lebar.
“Kalo kita jodoh, pasti ketemu” ucapan laki-laki tersebut terus terputar seperti kaset kusut di benakku. Vino benar.


------Tamat------




Tidak ada komentar:

Posting Komentar