Tetes-tetes air
terjatuh dari langit. Kuhirup dalam-dalam aroma tanah basah yang menguap
menusuk indera penciumanku. Aku termenung di jendela kecil kamarku sambil
menyesap secangkir cokelat panas. Pikiranku berkecamuk mengingat percakapan semalam
dengan Mama. Saat Mama memintaku untuk pergi ke Jogja dan bersekolah disana.
Malam itu..
“Raina, Mama sudah membelikanmu tiket kereta untuk
pemberangkatan besok siang”
“Maksud Mama?” tanyaku bangkit dan duduk bersebelahan
dengan Mama. Mama menjelaskan jika keadaan ekonomi keluarga kami sedang
terpuruk, jadi Mama dan Papa memutuskan untuk mengirimku ke Jogja. Untuk
tinggal dan menetap di Jogja bersama tanteku.
“Kamu mau kan Rain?” tanya Mama. Aku hanya mengangguk
sebagai jawaban dan berlalu ke kamar tidurku, meninggalkan Mama dikeheningan.
Mengingat hal
tersebut membuatku cepat-cepat mengelap air mata di sudut mataku. Dua jam lagi
aku akan berangkat ke Jogja dan hidup berjauhan dengan Mama dan Papa.
Memasukkan ponsel ke dalam tas kecil dan menggendong ranselku. Di ruang tamu
aku mendapati Mama dan Papa sedang berbicara serius –sepertinya—terlihat dari
raut keduannya yang menunjukkan bahwa mereka sedang cemas. Ku bersihkan tenggorokanku
dengan berdeham, yang membuat mereka menatap kearahku.
“Sudah siap?”
tanya Mama sambil berjalan menghampiriku dan mengelus pelan rambutku.
“Aku siap Ma”
ucapku pelan.
“Tidak ada yang
tertinggal kan?” tanyanya lagi. Ku gelengkan kepalaku sebagai jawaban.
“Kalau begitu
lebih baik Rain berangkat sekarang, perjalanan ke stasiun membutuhkan waktu
yang lumayan lama” ucap Mama sambil mengiringku ke pintu depan.
***
Disinilah aku,
terduduk di dalam gerbong kereta. Sendiri. Sebelumnya aku sudah berdebat dengan
Mama agar Papa tidak usah mengantarku sampai Jogja dan aku bersikeras untuk
pergi sendiri, dengan alasan aku berumur 17 tahun dan bisa melakukannya
sendiri.
Untuk
menghilangkan rasa bosan kupasang earphone di telingaku dengan volume yang
tidak terlalu keras. Selama perjalanan
tak terlalu banyak yang kulakukan selain
mengobrol dengan orang yang berada di sebelah dan di depanku. Ku
pejamkan mataku karena sudah sangat lelah, walaupun teman mengobrolku masih
asyik membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak ingin kuketahui.
Sinar mentari
menyilaukan memaksaku untuk membuka mataku. Menyipitkan mata dan memandangi
keadaan sekitar. Rea—orang yang duduk sebangku denganku baru kembali mungkin
sehabis dari toilet. Ku lempar senyum kearahnya dan ia pun kembali duduk sambil
menatap kearah jendela di samping tempat ku terduduk.
Aku memutuskan
untuk ke kamar kecil sebelum sarapan. Setelah selesai dengan urusanku di kamar
kecil, aku terpaku melihat sambungan gerbong. Aku selalu suka saat tepat berada
di sambungan gerbong. Biasanya aku akan menghabiskan banyak waktu untuk hanya
sekedar berdiri memandang keluar di sambungan gerbong. Tetesan dari langit
perlahan turun. Air perlahan jatuh kebumi. Ku renggangkan satu tanganku ke luar
dan satu lagi berpegangan pada gerbong menahan agar badanku tidak terjatuh . Ku
nikmati air yang mengenai permukaan tanganku. Perlahan kupejamkan mataku dan kukeluarkan kepalaku
menyembul sedikit, sedetik kemudian kurasakan sensasi air yang mengenai
permukaan wajahku dengan lembut. Hingga lima menit kurasa tangan ku ditarik
dengan kencang oleh seseorang yang membuatku tersentak kaget.
“Apa kau sudah
tidak waras nona?” ucapnya sambil mendorongku pelan ke pintu gerbong yang
tertutup. Dia mengatupkan rahangnya seolah sedang menahan emosi, tatapannya
menusuk mata dan cengkramannya ditanganku semakin megerat saat ku masih menutup
rapat mulutku.
“Maksudmu? Kau
menganggu acaraku” ucapku dengan penuh penekanan disetiap katanya. Aku pun
mendesis nyeri saat cengkraman dilenganku menjadi nyeri.
“Shhh, kau ini apa
apaan sih?” ucapku sedikit berteriak di depan wajahnya.
“Seharusnya kau
berterima kasih karena saya sudah menyelamatkan nyawamu nona” ucapnya sinis
sambil melepaskan cengkramannya dilengaku. Lenganku terasa berdenyut, aku yakin
pasti merah karena cengkraman yang terlalu kuat.
“Kau pikir saya
akan menjatuhkan diri dari gerbong hah?” kataku sambil terkekeh. Sungguh
menggemaskan lelaki ini, dia pikir aku akan bunuh diri? Lucu sekali.
“Cepat bilang
terima—” ucapannya terpotong karena seseorang yang membuka gerbong yang berada
tepat di belakangku.
“Vin?” ucap
laki-laki yang muncul dari balik badanku.
“Aku cari kemana
mana ternyata lagi berduaan sama cewek” ucap laki-laki itu sambil menatap jahil
kearahku. Kulangkahkan kakiku memasuki gerbong dan kembali ke tempat dudukku.
Lelaki aneh tadi terus terbayang dalam benakku, tatapan tajam matanya tak lepas
dari benakku. Menggelengkan kepalaku sambil mendesis nyeri karena perutku yang
berteriak meminta asupan.
Aku berjalan ke
gerbong restorasi untuk membeli makanan, dan tak kuduga ternyata lelaki yang
tadi menarikku di sambungan gerbong, tepat duduk di belakang kursiku. Pandangan
kami pun bertemu membuatku cepat cepat mengalihkan pandangan ke arah depan.
Setelah memesan semangkuk Mie kuah kuputuskan untuk memesan minuman dan bermain
ponsel, berniat menghubungi Mama.
“Ehem” dehem
seseorang di sampingku. Kudongakkan kepalaku dan mendapati lelaki aneh tadi.
Kupandangi dia dengan heran, menerka nerka apa lagi urusanku dengannya.
“Enggak ada tempat
kosong lagi, jadi terpaksa saya duduk disini”
“Terserah” jawabku
sekenanya. Aku makan dengan keheningan, namun terkadang aku mendapatinya sedang
melirik dari balik bulu matanya.
“Kamu enggak
makan?” tanyaku sehabis meneguk air. Dia menggelengkan kepalanya pertanda
tidak.
“Terus kenapa kamu
disini?” tanyaku masih enggan menatapnya.
“Saya pengen cari
temen ngobrol”
“Lalu?” tanyaku,
kuberanikan menatapnya yang sedang menatapku juga.
“Lalu...” ucapnya bingung sambil menatapku gugup. Sudut
bibirku terangkat karena tingkahnya.
“Kamu kalo lagi
bingung, lucu ya?” ucapku sambil tertawa. Matanya menyipit, bibirnya terangkat
dan di pipi kanannya terdapat lubang kecil jika ia tertawa.
“Kamu rese juga
ya” katanya membuatku menghentikan tawaku.
“Mmm, aku Vino”
ucapnya sambil mengulurkan tanganya meminta di jabat.
“Raina” ucapku
sambil menyambut jabatan tangannya. Dan terjadilah perbincangan ringan antara
aku dan Vino. Dia lelaki yang tertutup, pintar dan lebih suka menghabiskan
waktu untuk tidur. Kurang lebih begitulah yang dapat kutangkap dari yang dia
bicarakan. Dan satu lagi, dia suka bicara.
“Saya harus balik,
temen saya pasti udah nyariin” ucapnya beranjak dari kursi. Mungkin ucapannya
tadi hanya alasan karena ia tidak nyaman berbicara dengan cewek pendiam
sepertiku. Mungkin ia ingin mencari teman ngobrol yang tidak membosankan, bukan
sepertiku. Kugelengkan kepalaku dan beranjak untuk kembali ke tempat dudukku di
gerbong. Sengaja aku mengalihkan pandanganku darinya saat aku lewat di
sampingnya. Aku tahu saat ini ia sedang menatapku, tapi kuhiraukan.
Sesampainya di
kursiku langsung ku jatuhkan tubuhku dan mengeluarkan ponsel untuk mengirim pesan
pada Mama.
Kepada : Mama
Maaf Ma baru balas, aku baru selesai sarapan. Love you
Ma.
Ku masukkan
kembali ponselku kedalam saku dan menatap jendela di kereta di sampingku jenuh.
Tersisa 3 jam lagi untuk sampai Jogja, dan itu bukan waktu yang sebentar. Saat
waktu tersisa tinggal 1 jam, Vino duduk tepat di sampingku. Karena
Rea—perempuan yang duduk sebangku denganku—sudah turun di stasiun sebelumnya.
“Saya bete. Saya
lihat kamu juga bosen ya?” ucapnya sambil membuka komik yang sedari tadi di
genggamannya.
“Begitulah”
“Turun dimana?”
tanyanya, matanya fokus pada bacaannya tapi pertanyaannya pasti ditujukan
untukku.
“Jogja”
“Ohhh, tinggal
disana atau Cuma liburan?” tanyanya lagi.
“Mmm, Saya baru
pindah kesana” ucapku mengalihkan pandangan ke jendela. Ia menutup komiknya dan
mentapku dari jendela kaca.
“Jadi kamu bakal
sekolah di Jogja juga?” tanyanya. Kuanggukan kepalaku.
“Kamu sekolah
dimana?” tanyaku masih menatapnya melalui jendela kaca.
“Kalo kita jodoh,
pasti ketemu” ucapnya. Membuatku menolehkan kepala kearahnya serta
menggernyitkan dahi. Yang ditatap hanya tersenyum miring. Jogja itukan luas
jadi tidak mungkin aku akan bertemu Vino lagi.
****
Sesampainya di
Jogja, tante Dea menjemputku di stasiun. Jadi aku tidak repot mencari alamat
tante Rea. Keesokannya aku sudah harus masuk sekolah baru yang ternyata sudah
didaftarkan oleh tante Rea, yang tentu saja suruhan Mama.
Hari pertama di
sekolah aku tidak mendapat teman banyak. Karena memang aku yang tidak pandai
bergaul, sehingga aku hanya berkenalan dengan satu cewek. Itu pun ia duluan
yang mengajakku berkenalan. Aku memang sangat payah dalam hal untuk berbaur.
Bel istirahat
berbunyi, Gista—teman baruku—mengajakku ke kantin. Saat kami berjalan ke kantin,
di koridor banyak murid murid yang sedang menyoraki –mensuport—. Aku dan Gista
melihat sebentar apa yang menjadi bahan sorakan tersebut. Namun saat aku
berusaha untuk menyelip diantara kerumunan, aku mendengar seperti ada yang
memanggil namaku. Tidak mungkin ada yang mengenaliku karena aku baru satu hari
masuk disini. Orang tersebut tidak berhenti memanggil namaku, sehingga
kutolehkan kepalaku. Celingukan kesana kemari, dan kudapati laki-laki yang berdiri
tidak jauh dariku dengan memasang senyum lebar.
“Kalo kita jodoh,
pasti ketemu” ucapan laki-laki tersebut terus terputar seperti kaset kusut di
benakku. Vino benar.
------Tamat------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar