Selasa, 25 Oktober 2016

Senja Terakhir -Karya Andri Sumar Krisjayana

Terkadang, aku merasa menjadi bukan diriku. Ketika hati sudah tak menemukan arahnya lagi. dan itu semua hanya karna sebuah perasaan ini.
“Namaku dian rahmawati, kalian bisa memanggilku dian. Dan aku senang bertemu kalian semua,” kataku memperkenalkan diri pada wajah-wajah asing di depanku.
Ya, aku siswi baru di sekolah. dan perlu kuberi tahu bahwa ini bukan pertama kalinya aku mengalami ini. Maksudku, berdiri kaku dengan senyum yang ku paksakan seperti ini. Ayahku seorang Pegawai Negeri yang entah berapa kali berpindah-pindah tugas. Imbasnya, aku harus berpindah-pindah sekolah mengikuti tempat dimana Ayahku bekerja.

Pak Wisnu mempersilahkanku untuk memilih tempat duduk yang ingin kududuki, dan seorang laki-laki dengan wajah dingin sukses menarik perhatianku untuk duduk di sebelahnya. Semua orang menatapku bingung, aku pun tak kalah bingungnya dengan apa yang salah.
“Pindah,” kata laki-laki di sebelahku.
“Kenapa?” tanyaku keheranan.
“gua ngga mau siapa pun duduk di sebelah gua jawabnya datar.
“Untungnya aku bukan siapa pun,” jawabku yang langsung membungkam mulutnya.
Dia menghela nafasnya perlahan, kemudian tanpa banyak bicara dia segera berdiri dan beranjak keluar kelas. Misterius.
-----

Entah berapa kali kulirik dentingan jam dinding itu, seolah bait novel yang sedari tadi kubaca tak ingin bersahabat dengan mataku. Waktu berjalan sangat lambat menurutku. Bahkan jam istirahat yang kuharapkan berlalu sangat cepat, nyatanya justru menertawai kebosananku.
“Suka baca novel ya?” sahut sebuah suara membuat wajahku menoleh reflek.

Kali ini laki-laki yang berbeda dengan teman sebangkuku. Dia tersenyum ramah, dan tanpa meminta izin dia menarik bangku di sebelahku dan mendudukinya.
“andri,” katanya yang menyadari kebingunganku. “Namaku Andri, aku duduk tiga meja di sebelah kananmu.”
“Oh,” balasku singkat. Aku kembali sibuk dengan novel.
“Kenapa lebih memilih duduk di kelas?” tanyanya lagi. “Tidak lapar kah?”
“Sama sekali tidak,” jawabku berbohong karena kenyataannya perutku sejak tadi menari-nari meminta diisi.
“Aku suka novelmu, caramu menceritakan benar-benar membuat pembacanya terbawa suasana,” kata Andri yang membuatku tertegun sesaat.
“Novelku?” tanyaku takut salah dengar.

Andri mengangguk. “Kamu dian, si penulis novel Senja kan?” katanya yang langsung membungkam mulutku. Dia tahu novelku. Novel yang menurutku langsung terbenam setelah ia terbit.
“Iya. Aku penulis novel Senja, novel yang gagal di pasaran,” kataku.
“Siapa bilang?” sangkalnya cepat. “Novelmu itu bagus. Kamu hanya kurang berani untuk mengirimkannya pada penerbit terkenal.”
“Jangan memuji, kalau pun aku mengirimkannya pada penerbit ternama, aku yakin pasti ditolak,” kataku pesimis.
Aku menyadari tatapan herannya dari sudut-sudut mataku, kemudian perhatiannya tertuju pada novel yang kubaca.
“Akhir dari novel ini bagaimana?” tanyanya.
“Tidak tau. Aku belum selesai membacanya,” jawabku tanpa menoleh.
“Kamu tidak bisa menebak?” tanyanya lagi.
“Tentu tidak.”
“Tentu tidak ya? Lalu bagaimana mungkin kamu tahu soal novelmu akan ditolak padahal kamu belum mengirimkannya?” tanya Andri yang kali ini benar-benar membuatku tertegun.
Aku diam seribu bahasa, meski di sisi lain aku suka dengan caranya mengumpamakan sesuatu. Dan tanpa kusadari, bibirku yang pucat merekahkan senyumnya. Kali ini benar-benar tersenyum, bukan lagi senyuman palsu.

Sore itu sebuah buku kecil dan sebatang pensil telah kumasukkan ke dalam tas kecilku. Rumah tidak selalu membuatku nyaman. Aku memutuskan untuk menghabiskan sisa hari ini di luar. Aku rindu dengan sesuatu.
Sungai kecil dengan jembatan kayu yang melintang di atasnya ternyata cukup untuk menarik perhatian kedua kakiku. Kuambil posisi menghadap ke pinggir jembatan. Dari sana aku bisa melihat senja. Suasana senyaman inilah yang aku rindukan. Segera kutulis apa pun yang melintas di pikiranku.

Aku tidak tahu entah berapa lama aku sibuk dengan tulisanku, sampai-sampai tidak menyadari kehadiran seorang laki-laki yang belum kukenal namanya. Ya, dia teman sebangku di sekolah. Orang misterius itu berdiri tepat di sebelahku.
“Kamu,” kataku menghentikan tulisanku sejenak.
“Sigit,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari senja yang memerah. “Namaku Sigit.”
“Oh, ngapain di sini?” tanyaku.
“Ini Kota gua. gua bebas pergi kemana pun gua suka,” jawabnya, kemudian melirik tulisanku sekali. “kenapa lu suka banget senja?”

Aku melirik kembali tulisanku yang belum selesai, dan kemudian menutupnya. “Senja memberiku pelukan nyaman saat aku menatapnya. Jika aku kesepian, aku kembali melihat senja.”
“Masa lalu ya?” kata sigit.
“Masa lalu?” ulangku tidak mengerti.
“Ya. Tulisan lu itu jelas jelas menggambarkan senja adalah sosok yang menggantikan seseorang dalam hidup lu. Seseorang yang bisa gua tebak sangat berharga, di masa lalu,” katanya lagi.
Aku diam. Kata-kata Sigit barusan benar-benar seperti anak panah yang menancap tepat pada sasaran. Dia pintar membaca keadaan. Aku akui itu. Sigit meraih kamera yang dari tadi tergantung di lehernya, kemudian mengambil beberapa sudut-sudut pemandangan yang menarik perhatiannya.

“Soal tadi siang, kenapa kamu memintaku pindah?” tanyaku begitu keingintahuan itu muncul.
“Karena gua orang nomer satu di sekolah,” jawabnya tanpa berhenti memotret. Dari sudut bibirnya, aku bisa melihat bahwa ia tersenyum. Tepat setelah dia selesai bicara.
-----

Kuhempaskan pensil yang sedari tadi melekat di jemariku, seakan jemariku tak lagi akrab dengannya. Kutatap rintikan hujan di jendela kamarku. Satu-satunya yang patut aku salahkan adalah hujan.

Aku benci hujan. Imajinasiku seakan ikut buyar karena derasnya. Dan bukan cuma itu, irama rintikannya seolah mencoba membuka kembali kenangan lama yang telah kusimpan di balik debu-debu masa lalu.
“Kenapa? Kamu baik-baik aja?” tanya Andri yang memperhatikanku. Dia meneguk teh hangat yang sengaja kusajikan karena menemaniku mengerjakan tugas cerpen yang diberikan Pak Bowo.
“Aku benci hujan,” kataku pelan.
“Kenapa?”
“Hujan membuka kembali memori yang sejak lama kusembunyikan darinya,” jawabku yang masih menatap rintikan hujan.
Andri menarik sebuah bangku, dan mendudukinya tepat di sebelahku. “Jadi, mau cerita sesuatu?”
Aku menimbang-nimbang sebentar, dan akhirnya kuputuskan untuk bercerita. Ini tentang seseorang. Aku pertama kali mengenalnya saat hujan yang turun di akhir Desember. Dia datang dengan menyelamatkanku dari derasnya hujan. Dia baik, sangat baik karena semua perkataan indahnya mampu membuatku tetap terjaga dari kantukku. Bahkan pundaknya selalu kumiliki jika aku lelah.
Aku dan dia telah menghabiskan waktu yang cukup lama menurutku. Orang tuaku pun menyukai sikapnya yang santun. Semua orang mengatakan aku wanita yang beruntung. Tapi ternyata tidak. Dia pergi dengan memilih orang lain tepat di hadapanku. Aku tidak sendiri saat itu, hujan lagi-lagi menemaniku. Dan sejak saat itulah aku mulai membenci hujan.

Andri meneguk kembali tehnya, kemudian terdiam seolah merasakan kesedihanku. Aku pun tak ingin berkata-kata. Dia memandang keluar jendela untuk beberapa saat, dan bibir merahnya kemudian tersenyum.
“Kamu tau tidak, bukan salah hujan jika semua itu terjadi,” kata Andri. “Dia cuma kiriman Tuhan yang menjadi saksi atas kepergian ‘orang yang salah’ itu. Tuhan tidak ingin kamu bersama dengan orang yang salah, itu sebabnya dia mengirimkan hujan sebagai saksi yang selalu mengingatkanmu, agar suatu saat kamu tidak kembali bersama orang itu.”
“Menurutmu begitu?” kataku yang terketuk oleh kata-kata Andri barusan.

Dia mengangguk yakin, kemudian berdiri dari tempat duduknya, membuka jendela kamarku, dan melompat keluar menyerbu derasnya hujan. Aku hampir saja berteriak namun wajahnya membungkam mulutku. Andri tampak menyukai hujan. Dia tidak takut sama sekali. Direntangkannya kedua tangannya sementara wajahnya mengadah ke atas, tersenyum. Aku diam, takjub.
“Lihat kan? Hujan tidak seburuk yang kamu pikir. Buktinya, dia membelaiku dengan lembut,” katanya setengah berteriak mengalahkan gemuruhnya suara hujan.
Aku menatap matanya dalam-dalam. Mata yang teduh itu menggerakkan bibirku untuk kembali tersenyum.
“Dengar Dian, aku tau ini mungkin terlihat konyol. Tapi aku yakinkan satu hal, bahwa aku mampu menghapus kenangan pahit itu. Hanya saja aku tidak bisa melakukannya sendirian, aku butuh izin untuk masuk ke dalam hatimu, menuntunmu keluar dari bayang bayang masa lalu,” katanya lagi yang masih berteriak.
Aku terdiam membeku di tempatku berdiri, telingaku terasa berdenging menerima kata-kata indah Andri barusan. Bahkan jantungku ikut memberontak dari tempatnya.
“Aku tidak pernah berpikir bahwa kamu bisa melakukan hal segila ini,” kataku.
Andri tersenyum. “Dian, cinta itu ajaib.”
-----

Aku menatap kertas yang tertempel di pintu kelas, dan seketika senyum pun tak kuasa kutahan. Cerpen yang kuangkat tentang Andri ternyata mendapat nilai tertinggi. Dia bahkan sampai malu karenanya. Kucari nama Andri yang ternyata berada di urutan tiga. Aku baru tahu kalau Andri menyukai dunia tulis-menulis. Dan oh ya, aku masih mencari nama seseorang, dan kutemui di urutan terbawah. Sigit.
“Cerpen lu bagus,” kata sebuah suara yang tidak asing di telingaku.


Aku menoleh dan mendapati Sigit berdiri di belakangku. Segera saja kutarik jari telunjukku yang menempel tepat di atas namanya.
“Jangan salting begitu. Gua udah biasa dapet nilai paling jelek,” katanya tanpa beban.
“Bukannya kamu bilang kalau kamu orang nomer satu di sekolah? Lantas kenapa nilaimu malah yang terbawah?” tanyaku heran.
“Ya. Gua emang orang nomer satu. Tapi bukan berarti gua yang paling pintar soal pelajaran. Asal lu tau aja, gua payah dalam semua pelajaran,” kata Sigit.
“Lalu, kamu nomer satu dalam soal apa?”
“Nakal. Gua paling berandalan di sekolah. Ngga ada pelajaran yang gua suka dan gua lebih milih main sama kamera gua. Bukan tanpa alasan orang-orang memanggi gua preman fotografer,” jawabnya sambil tertawa renyah.

Aku ikut tertawa, dan sedetik kemudian tawaku lenyap ketika seseorang yang sangat akrab di benakku muncul dari belakang Sigit. Dia tersenyum padaku.
“Dian,” sapanya, membuat Sigit tampak kaget dengan orang yang tiba-tiba muncul itu.
“Nople?” kataku heran. “Kamu . . .”
“Aku ke sini untuk kamu, Di,” katanya memotong ucapanku. “Aku mau minta maaf.”

Sigit menatap aku dan Nople bergantian, dan seperti sudah mengerti, dia segera masuk ke dalam kelas. Aku baru saja akan mengikutinya, namun tangan Nople menahan lenganku.
“Jangan pergi. Kita punya banyak hal yang harus dibicarakan,” katanya menghentikan langkahku.
Aku membalikkan tubuhku dan menatap wajah itu. Wajah yang dulu mengukir luka di atas kebahagiaan. Wajah yang menjadi hujan di atas indahnya pelangi.
“Nggak ada yang perlu dibahas, ple,” kataku perlahan. “Kamu udah nentuin pilihan kamu, dan aku pergi dengan coretan luka yang kamu goreskan.”
“Aku nyesel, di". Aku ingin kamu dan aku kembali menjadi ‘kita’. Kamu mau kan? Kamu mau kembali menyusun mimpi-mimpi kita yang pernah hancur karena keegoisanku?” katanya.

Aku menatap mata yang tidak pernah berubah itu. Andai Nople tidak merusak segalanya, andai tidak pernah ada orang lain di antara kita, aku pasti sudah memeluk tubuh tegap di hadapanku ini. Dan entah keajaiban apa yang membuat hujan turun saat itu. Namun kali ini aku bersyukur karenanya, aku ingat bahwa hujan adalah saksi kepergian Adam demi orang lain. Aku sadar bahwa hujan menyimpan makna di balik derasnya. Aku tidak akan kembali. Tidak lagi.
“Di?” suara Nople menyadarkanku. Dia menunggu jawaban. Dan aku telah membuat jawaban.
“Tahukah kamu betapa sulitnya menemukan kembali hari-hariku yang selama ini terkunci di balik bayang-bayangmu? Dan aku menemukannya. Lalu, apa yang membuatmu ingin kembali merusak hari-hariku dengan hadirmu?” kataku yang membuatnya tertegun.
“Dian . . .”
“Udah, ple. Kita udah lalui banyak hal. Kita udah buat keputusan kita masing-masing, aku berterima kasih telah mengenalmu. Semua yang kita lalui, adalah pelajaran menuju kedewasaan bagi kita. Sekarang aku dan kamu bukan lagi ‘kita’. Ingat ple, ada hati yang harus kamu jaga di sana,” kataku lagi.
Aku menundukkan wajahku, menyembunyikan air mata yang seharusnya tak kujatuhkan di hadapannya. Dia tidak berhak untuk melihat air mata yang jatuh itu.
“Dian, kamu . . .”
“woy bocah alus ga tau sopan-santun apa lu!” suara Sigit membuat wajahku terangkat.

Sigit berjalan menghampiriku, dia menyadari air mata yang membendung kedua mataku namun sikapnya seolah tidak melihat apa pun. Dia malah melepaskan tangan Nople yang sedari tadi menahan lenganku.
“Dengar ya sialan. Gua ga tau lu dan gua ngga peduli juga soal itu. Dian jawab pertanyaan lu dan udah ngebuat keputusan. Kalau lu masih memaksa, itu artinya lu buat ulah, dan ingat,” kata Sigit menghentikan ucapannya, dia lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Nople, keduanya saling menatap tak mau kalah. “Ini sekolah gua,wilayah gua , sekarang pergi dan jangan tunjukkan wajah sialan lu itu di sini atau gua lipet lu!”
Aku tidak bisa membohongi diriku bahwa aku merasa takut. Aku takut sesuatu terjadi pada mereka. Nople tidak pintar dalam berkelahi, sedangkan Sigit jelas-jelas diakui keberandalannya. Dan sekali lagi keajaiban terjadi, Adam memilih untuk pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tubuhnya menerobos derasnya hujan, dan sesaat kemudian hilang di balik pagar sekolah.
“lu udah buat keputusan yang tepat,” kata Sigit sambil menepuk pundakku, kemudian berjalan meninggalkanku yang masih diam menatap hujan, hujan yang tidak lagi kubenci.
-----


29 Desember, pukul 16:50
Akhir Desember di musim hujan, aku, Andri, dan Sigit kembali ke tempat dimana aku bisa melihat senja. Aku berdiri di antara Andri dan Sigit. Kami sama-sama menunggu senja yang tampak malu menunjukkan pesonanya. Aku tetap menunggu, karena aku yakin dia akan muncul.
"Kamu tau nggak, arti namaku?" tanya Andri memecah kesunyian.
"Tidak. Memang apa?" tanyaku ingin tahu.
"Penjaga hati," jawabnya "dan rasanya tak berguna jika aku tak bisa menjaga hati seseorang yang membutuhkan itu"

Aku terdiam, kulirik Sigit yang asik memotret pemandangan dengan kameranya, seolah tidak mendengar apa pun. Jantungku mulai berdegup.
"Maukah kamu menjadi sesuatu yang berharga itu?" tanya Andri akhirnya.
Aku mendekap mulutku. Akhirnya yang kubayangkan terjadi. Dan aku sekali lagi dituntut untuk membuat keputusan.
"Kamu tau, Ndri. Aku nggak bisa . . ." jawabku yang langsung membuat rona wajahnya berubah. Bahkan Sigit sampai berhenti memotret. "Aku nggak bisa nolak permintaan itu," lanjutku.

Andri tersenyum. Aku telah memilih senja yang baru. Segera kutarik pikiranku dulu bahwa tak akan kutemukan bahagiaku di Kota Solo. Senyatanya, Andri menjadi 'senja terakhirku'. Dan aku tidak takut untuk mencintai, karena jika aku memikirkan resiko yang akan terjadi, maka artinya aku tidak tulus. Inilah secercah harapan baru yang akan kutulis di halaman awal kisahku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar