Terkadang, aku merasa menjadi bukan diriku. Ketika hati sudah
tak menemukan arahnya lagi. dan itu semua hanya karna sebuah perasaan ini.
“Namaku dian rahmawati, kalian bisa memanggilku dian. Dan
aku senang bertemu kalian semua,” kataku memperkenalkan diri pada wajah-wajah
asing di depanku.
Ya, aku siswi baru di sekolah. dan perlu kuberi tahu bahwa
ini bukan pertama kalinya aku mengalami ini. Maksudku, berdiri kaku dengan
senyum yang ku paksakan seperti ini. Ayahku seorang Pegawai Negeri yang entah
berapa kali berpindah-pindah tugas. Imbasnya, aku harus berpindah-pindah
sekolah mengikuti tempat dimana Ayahku bekerja.
Pak Wisnu mempersilahkanku untuk memilih tempat duduk yang
ingin kududuki, dan seorang laki-laki dengan wajah dingin sukses menarik
perhatianku untuk duduk di sebelahnya. Semua orang menatapku bingung, aku pun
tak kalah bingungnya dengan apa yang salah.
“Pindah,” kata laki-laki di sebelahku.
“Kenapa?” tanyaku keheranan.
“gua ngga mau siapa pun duduk di sebelah gua jawabnya datar.
“Untungnya aku bukan siapa pun,” jawabku yang langsung
membungkam mulutnya.
Dia menghela nafasnya perlahan, kemudian tanpa banyak bicara
dia segera berdiri dan beranjak keluar kelas. Misterius.
-----
Entah berapa kali kulirik dentingan jam dinding itu, seolah
bait novel yang sedari tadi kubaca tak ingin bersahabat dengan mataku. Waktu
berjalan sangat lambat menurutku. Bahkan jam istirahat yang kuharapkan berlalu
sangat cepat, nyatanya justru menertawai kebosananku.
“Suka baca novel ya?” sahut sebuah suara membuat wajahku
menoleh reflek.
Kali ini laki-laki yang berbeda dengan teman sebangkuku. Dia
tersenyum ramah, dan tanpa meminta izin dia menarik bangku di sebelahku dan
mendudukinya.
“andri,” katanya yang menyadari kebingunganku. “Namaku Andri,
aku duduk tiga meja di sebelah kananmu.”
“Oh,” balasku singkat. Aku kembali sibuk dengan novel.
“Kenapa lebih memilih duduk di kelas?” tanyanya lagi. “Tidak
lapar kah?”
“Sama sekali tidak,” jawabku berbohong karena kenyataannya
perutku sejak tadi menari-nari meminta diisi.
“Aku suka novelmu, caramu menceritakan benar-benar membuat
pembacanya terbawa suasana,” kata Andri yang membuatku tertegun sesaat.
“Novelku?” tanyaku takut salah dengar.
Andri mengangguk. “Kamu dian, si penulis novel Senja kan?”
katanya yang langsung membungkam mulutku. Dia tahu novelku. Novel yang
menurutku langsung terbenam setelah ia terbit.
“Iya. Aku penulis novel Senja, novel yang gagal di pasaran,”
kataku.
“Siapa bilang?” sangkalnya cepat. “Novelmu itu bagus. Kamu
hanya kurang berani untuk mengirimkannya pada penerbit terkenal.”
“Jangan memuji, kalau pun aku mengirimkannya pada penerbit
ternama, aku yakin pasti ditolak,” kataku pesimis.
Aku menyadari tatapan herannya dari sudut-sudut mataku,
kemudian perhatiannya tertuju pada novel yang kubaca.
“Akhir dari novel ini bagaimana?” tanyanya.
“Tidak tau. Aku belum selesai membacanya,” jawabku tanpa
menoleh.
“Kamu tidak bisa menebak?” tanyanya lagi.
“Tentu tidak.”
“Tentu tidak ya? Lalu bagaimana mungkin kamu tahu soal
novelmu akan ditolak padahal kamu belum mengirimkannya?” tanya Andri yang kali
ini benar-benar membuatku tertegun.
Aku diam seribu bahasa, meski di sisi lain aku suka dengan
caranya mengumpamakan sesuatu. Dan tanpa kusadari, bibirku yang pucat merekahkan
senyumnya. Kali ini benar-benar tersenyum, bukan lagi senyuman palsu.
Sore itu sebuah buku kecil dan sebatang pensil telah
kumasukkan ke dalam tas kecilku. Rumah tidak selalu membuatku nyaman. Aku
memutuskan untuk menghabiskan sisa hari ini di luar. Aku rindu dengan sesuatu.
Sungai kecil dengan jembatan kayu yang melintang di atasnya
ternyata cukup untuk menarik perhatian kedua kakiku. Kuambil posisi menghadap
ke pinggir jembatan. Dari sana aku bisa melihat senja. Suasana senyaman inilah
yang aku rindukan. Segera kutulis apa pun yang melintas di pikiranku.
Aku tidak tahu entah berapa lama aku sibuk dengan tulisanku,
sampai-sampai tidak menyadari kehadiran seorang laki-laki yang belum kukenal
namanya. Ya, dia teman sebangku di sekolah. Orang misterius itu berdiri tepat
di sebelahku.
“Kamu,” kataku menghentikan tulisanku sejenak.
“Sigit,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari senja
yang memerah. “Namaku Sigit.”
“Oh, ngapain di sini?” tanyaku.
“Ini Kota gua. gua bebas pergi kemana pun gua suka,”
jawabnya, kemudian melirik tulisanku sekali. “kenapa lu suka banget senja?”
Aku melirik kembali tulisanku yang belum selesai, dan
kemudian menutupnya. “Senja memberiku pelukan nyaman saat aku menatapnya. Jika
aku kesepian, aku kembali melihat senja.”
“Masa lalu ya?” kata sigit.
“Masa lalu?” ulangku tidak mengerti.
“Ya. Tulisan lu itu jelas jelas menggambarkan senja adalah
sosok yang menggantikan seseorang dalam hidup lu. Seseorang yang bisa gua tebak
sangat berharga, di masa lalu,” katanya lagi.
Aku diam. Kata-kata Sigit barusan benar-benar seperti anak
panah yang menancap tepat pada sasaran. Dia pintar membaca keadaan. Aku akui
itu. Sigit meraih kamera yang dari tadi tergantung di lehernya, kemudian
mengambil beberapa sudut-sudut pemandangan yang menarik perhatiannya.
“Soal tadi siang, kenapa kamu memintaku pindah?” tanyaku
begitu keingintahuan itu muncul.
“Karena gua orang nomer satu di sekolah,” jawabnya tanpa
berhenti memotret. Dari sudut bibirnya, aku bisa melihat bahwa ia tersenyum.
Tepat setelah dia selesai bicara.
-----
Kuhempaskan pensil yang sedari tadi melekat di jemariku,
seakan jemariku tak lagi akrab dengannya. Kutatap rintikan hujan di jendela
kamarku. Satu-satunya yang patut aku salahkan adalah hujan.
Aku benci hujan. Imajinasiku seakan ikut buyar karena
derasnya. Dan bukan cuma itu, irama rintikannya seolah mencoba membuka kembali
kenangan lama yang telah kusimpan di balik debu-debu masa lalu.
“Kenapa? Kamu baik-baik aja?” tanya Andri yang
memperhatikanku. Dia meneguk teh hangat yang sengaja kusajikan karena
menemaniku mengerjakan tugas cerpen yang diberikan Pak Bowo.
“Aku benci hujan,” kataku pelan.
“Kenapa?”
“Hujan membuka kembali memori yang sejak lama kusembunyikan
darinya,” jawabku yang masih menatap rintikan hujan.
Andri menarik sebuah bangku, dan mendudukinya tepat di
sebelahku. “Jadi, mau cerita sesuatu?”
Aku menimbang-nimbang sebentar, dan akhirnya kuputuskan
untuk bercerita. Ini tentang seseorang. Aku pertama kali mengenalnya saat hujan
yang turun di akhir Desember. Dia datang dengan menyelamatkanku dari derasnya
hujan. Dia baik, sangat baik karena semua perkataan indahnya mampu membuatku
tetap terjaga dari kantukku. Bahkan pundaknya selalu kumiliki jika aku lelah.
Aku dan dia telah menghabiskan waktu yang cukup lama
menurutku. Orang tuaku pun menyukai sikapnya yang santun. Semua orang
mengatakan aku wanita yang beruntung. Tapi ternyata tidak. Dia pergi dengan
memilih orang lain tepat di hadapanku. Aku tidak sendiri saat itu, hujan
lagi-lagi menemaniku. Dan sejak saat itulah aku mulai membenci hujan.
Andri meneguk kembali tehnya, kemudian terdiam seolah
merasakan kesedihanku. Aku pun tak ingin berkata-kata. Dia memandang keluar
jendela untuk beberapa saat, dan bibir merahnya kemudian tersenyum.
“Kamu tau tidak, bukan salah hujan jika semua itu terjadi,”
kata Andri. “Dia cuma kiriman Tuhan yang menjadi saksi atas kepergian ‘orang
yang salah’ itu. Tuhan tidak ingin kamu bersama dengan orang yang salah, itu
sebabnya dia mengirimkan hujan sebagai saksi yang selalu mengingatkanmu, agar
suatu saat kamu tidak kembali bersama orang itu.”
“Menurutmu begitu?” kataku yang terketuk oleh kata-kata Andri
barusan.
Dia mengangguk yakin, kemudian berdiri dari tempat duduknya,
membuka jendela kamarku, dan melompat keluar menyerbu derasnya hujan. Aku hampir
saja berteriak namun wajahnya membungkam mulutku. Andri tampak menyukai hujan.
Dia tidak takut sama sekali. Direntangkannya kedua tangannya sementara wajahnya
mengadah ke atas, tersenyum. Aku diam, takjub.
“Lihat kan? Hujan tidak seburuk yang kamu pikir. Buktinya,
dia membelaiku dengan lembut,” katanya setengah berteriak mengalahkan
gemuruhnya suara hujan.
Aku menatap matanya dalam-dalam. Mata yang teduh itu
menggerakkan bibirku untuk kembali tersenyum.
“Dengar Dian, aku tau ini mungkin terlihat konyol. Tapi aku
yakinkan satu hal, bahwa aku mampu menghapus kenangan pahit itu. Hanya saja aku
tidak bisa melakukannya sendirian, aku butuh izin untuk masuk ke dalam hatimu,
menuntunmu keluar dari bayang bayang masa lalu,” katanya lagi yang masih
berteriak.
Aku terdiam membeku di tempatku berdiri, telingaku terasa
berdenging menerima kata-kata indah Andri barusan. Bahkan jantungku ikut
memberontak dari tempatnya.
“Aku tidak pernah berpikir bahwa kamu bisa melakukan hal
segila ini,” kataku.
Andri tersenyum. “Dian, cinta itu ajaib.”
-----
Aku menatap kertas yang tertempel di pintu kelas, dan
seketika senyum pun tak kuasa kutahan. Cerpen yang kuangkat tentang Andri
ternyata mendapat nilai tertinggi. Dia bahkan sampai malu karenanya. Kucari
nama Andri yang ternyata berada di urutan tiga. Aku baru tahu kalau Andri
menyukai dunia tulis-menulis. Dan oh ya, aku masih mencari nama seseorang, dan
kutemui di urutan terbawah. Sigit.
“Cerpen lu bagus,” kata sebuah suara yang tidak asing di
telingaku.
Aku menoleh dan mendapati Sigit berdiri di belakangku.
Segera saja kutarik jari telunjukku yang menempel tepat di atas namanya.
“Jangan salting begitu. Gua udah biasa dapet nilai paling
jelek,” katanya tanpa beban.
“Bukannya kamu bilang kalau kamu orang nomer satu di
sekolah? Lantas kenapa nilaimu malah yang terbawah?” tanyaku heran.
“Ya. Gua emang orang nomer satu. Tapi bukan berarti gua yang
paling pintar soal pelajaran. Asal lu tau aja, gua payah dalam semua
pelajaran,” kata Sigit.
“Lalu, kamu nomer satu dalam soal apa?”
“Nakal. Gua paling berandalan di sekolah. Ngga ada pelajaran
yang gua suka dan gua lebih milih main sama kamera gua. Bukan tanpa alasan
orang-orang memanggi gua preman fotografer,” jawabnya sambil tertawa renyah.
Aku ikut tertawa, dan sedetik kemudian tawaku lenyap ketika
seseorang yang sangat akrab di benakku muncul dari belakang Sigit. Dia
tersenyum padaku.
“Dian,” sapanya, membuat Sigit tampak kaget dengan orang
yang tiba-tiba muncul itu.
“Nople?” kataku heran. “Kamu . . .”
“Aku ke sini untuk kamu, Di,” katanya memotong ucapanku.
“Aku mau minta maaf.”
Sigit menatap aku dan Nople bergantian, dan seperti sudah
mengerti, dia segera masuk ke dalam kelas. Aku baru saja akan mengikutinya,
namun tangan Nople menahan lenganku.
“Jangan pergi. Kita punya banyak hal yang harus
dibicarakan,” katanya menghentikan langkahku.
Aku membalikkan tubuhku dan menatap wajah itu. Wajah yang
dulu mengukir luka di atas kebahagiaan. Wajah yang menjadi hujan di atas
indahnya pelangi.
“Nggak ada yang perlu dibahas, ple,” kataku perlahan. “Kamu
udah nentuin pilihan kamu, dan aku pergi dengan coretan luka yang kamu
goreskan.”
“Aku nyesel, di". Aku ingin kamu dan aku kembali
menjadi ‘kita’. Kamu mau kan? Kamu mau kembali menyusun mimpi-mimpi kita yang
pernah hancur karena keegoisanku?” katanya.
Aku menatap mata yang tidak pernah berubah itu. Andai Nople
tidak merusak segalanya, andai tidak pernah ada orang lain di antara kita, aku
pasti sudah memeluk tubuh tegap di hadapanku ini. Dan entah keajaiban apa yang
membuat hujan turun saat itu. Namun kali ini aku bersyukur karenanya, aku ingat
bahwa hujan adalah saksi kepergian Adam demi orang lain. Aku sadar bahwa hujan
menyimpan makna di balik derasnya. Aku tidak akan kembali. Tidak lagi.
“Di?” suara Nople menyadarkanku. Dia menunggu jawaban. Dan
aku telah membuat jawaban.
“Tahukah kamu betapa sulitnya menemukan kembali hari-hariku
yang selama ini terkunci di balik bayang-bayangmu? Dan aku menemukannya. Lalu,
apa yang membuatmu ingin kembali merusak hari-hariku dengan hadirmu?” kataku
yang membuatnya tertegun.
“Dian . . .”
“Udah, ple. Kita udah lalui banyak hal. Kita udah buat
keputusan kita masing-masing, aku berterima kasih telah mengenalmu. Semua yang
kita lalui, adalah pelajaran menuju kedewasaan bagi kita. Sekarang aku dan kamu
bukan lagi ‘kita’. Ingat ple, ada hati yang harus kamu jaga di sana,” kataku
lagi.
Aku menundukkan wajahku, menyembunyikan air mata yang
seharusnya tak kujatuhkan di hadapannya. Dia tidak berhak untuk melihat air
mata yang jatuh itu.
“Dian, kamu . . .”
“woy bocah alus ga tau sopan-santun apa lu!” suara Sigit membuat
wajahku terangkat.
Sigit berjalan menghampiriku, dia menyadari air mata yang
membendung kedua mataku namun sikapnya seolah tidak melihat apa pun. Dia malah
melepaskan tangan Nople yang sedari tadi menahan lenganku.
“Dengar ya sialan. Gua ga tau lu dan gua ngga peduli juga soal
itu. Dian jawab pertanyaan lu dan udah ngebuat keputusan. Kalau lu masih
memaksa, itu artinya lu buat ulah, dan ingat,” kata Sigit menghentikan
ucapannya, dia lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Nople, keduanya saling
menatap tak mau kalah. “Ini sekolah gua,wilayah gua , sekarang pergi dan jangan
tunjukkan wajah sialan lu itu di sini atau gua lipet lu!”
Aku tidak bisa membohongi diriku bahwa aku merasa takut. Aku
takut sesuatu terjadi pada mereka. Nople tidak pintar dalam berkelahi,
sedangkan Sigit jelas-jelas diakui keberandalannya. Dan sekali lagi keajaiban
terjadi, Adam memilih untuk pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tubuhnya
menerobos derasnya hujan, dan sesaat kemudian hilang di balik pagar sekolah.
“lu udah buat keputusan yang tepat,” kata Sigit sambil
menepuk pundakku, kemudian berjalan meninggalkanku yang masih diam menatap
hujan, hujan yang tidak lagi kubenci.
-----
29 Desember, pukul 16:50
Akhir Desember di musim hujan, aku, Andri, dan Sigit kembali
ke tempat dimana aku bisa melihat senja. Aku berdiri di antara Andri dan Sigit.
Kami sama-sama menunggu senja yang tampak malu menunjukkan pesonanya. Aku tetap
menunggu, karena aku yakin dia akan muncul.
"Kamu tau nggak, arti namaku?" tanya Andri memecah
kesunyian.
"Tidak. Memang apa?" tanyaku ingin tahu.
"Penjaga hati," jawabnya "dan rasanya tak
berguna jika aku tak bisa menjaga hati seseorang yang membutuhkan itu"
Aku terdiam, kulirik Sigit yang asik memotret pemandangan
dengan kameranya, seolah tidak mendengar apa pun. Jantungku mulai berdegup.
"Maukah kamu menjadi sesuatu yang berharga itu?"
tanya Andri akhirnya.
Aku mendekap mulutku. Akhirnya yang kubayangkan terjadi. Dan
aku sekali lagi dituntut untuk membuat keputusan.
"Kamu tau, Ndri. Aku nggak bisa . . ." jawabku
yang langsung membuat rona wajahnya berubah. Bahkan Sigit sampai berhenti
memotret. "Aku nggak bisa nolak permintaan itu," lanjutku.
Andri tersenyum. Aku telah memilih senja yang baru. Segera
kutarik pikiranku dulu bahwa tak akan kutemukan bahagiaku di Kota Solo.
Senyatanya, Andri menjadi 'senja terakhirku'. Dan aku tidak takut untuk
mencintai, karena jika aku memikirkan resiko yang akan terjadi, maka artinya
aku tidak tulus. Inilah secercah harapan baru yang akan kutulis di halaman awal
kisahku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar