Selasa, 25 Oktober 2016

Seseorang Tak Bernama -Karya Shalsabila Octania L

                      Seseorang  tak bernama
Kala itu di pagi hari seperti biasa, Nada berangkat ke Sekolah bersama teman-temannya dengan mengendarai sepeda. Nada lebih memilih menaiki sepeda, mengingat jarak antara rumah dengan Sekolahnya tidak terlalu jauh. Sesampainya di Sekolah, mereka segera memakirkan sepedanya di parkiran Sekolah, Dan kemudian memasuki ruang kelas masing-masing. Ketika masuk ke dalam kelas,Nada menemukan secarik kertas di bangkunya yang bertuliskan “Hai,  to: Nada ”
        “Siapa yang menuliskan ini? Aneh...” kata Nada.
        “Wah, baru dateng udah dapet surat. Dari siapa Nad? ujar Abigail teman se-kelas Nada sambil merebut kertas kecil di tangan Nada.
        “Ah.. kamu gail, aku saja tidak tahu surat ini dari siapa” sambil merebut kertas itu kembali.
        “Tidak tahu? Kok bisa” Tanya kembali
        “ Malah sekarang aku mau nanya balik sama kamu. Apakah kamu tahu siapa yang meletakkan kertas konyol ini di bangkuku?”
        “ Aku tidak tahu Nad. Barang kali ada seseorang yang mau mengincarmu”
        “Gail, aku sudah berprinsip kalau aku tidak mau ada hubungan apa-apa selama masih SMA”
        “ Iya sih, tapi kan tidak semua lawan jenis berprinsip sama sepertimu”
        “ Tapi kalau menurut aku, surat ini tidak ada unsur apapun mengenai itu”
        “ Ah, sudahlah Nad, jangan terlalu paranoid. Barang kali itu hanya main-main”
        “Mungkin..” jawabnya.
        Setelah pulang sekolah, Nada melupakan tentang surat itu. Dan kemudian dibuangnya. Dan ia berharap bahwa dirinya tak menemukan lembaran konyol lagi di Sekolahnya. Akan tetapi, jauh di luar dugaan, ia justru terus menemukan lembaran konyol lainnya, dan bahkaan si pelaku semakin gencar dalam melakukan aksi terornya terhadap Nada. Bukan hanya di Sekoplah, tetapi dimanapun Nada berada.
        “ ah, aku merasa lelah sekali dengan hari ini, apa lagi setelah menemukan surat ini. Membuatku cemas saja” katanya sambil merobek dan membuang surat itu.
        Kemudian setelah ia membuang kertas kecil itu, tiba-tiba ia melihat ada kertas kecil lainnya di laci meja belajarnya.
        “ Lelah ya Nad, kasihan.. istirahat yang tenang ya, Semoga mimpi indah..” begitulah tulisan di kertas kecil itu.
        “ Astaga, siapa yang menulis surat ini? Dan dimana ia? Tidak salah lagi, surat ini pasti dari orang yang sama dan ia bukan saja berada di lingkungan sekolah! Awas saja kau. Kalau saja aku sudah menemukanmu, akan ku habisi kau!” jawabnya dengan gelisah dan kemudian membuang kertas itu. Kemudian Nada bergegas ke Kamar kecil dan ia menemukan lagi kertas kecil lainnya.
        “ Jangan tanya lagi siapa aku dan dimana aku Nada, Karena aku adalah mimpimu dan aku akan selalu ada di dekatmu :-D #gombal”
        “ Kurang ajar! Siapa kau sebenarnya? Berani sekali kau menyelinap ke dalam rumahku dan menyebarkan lembaran bodoh ini di Rumahku. Sungguh tidak sopan”
        Selesai ia mandi, ia segera berpakaian dan pergi ke rumah temannya untuk membicarakan hal tersebut. Namun, ketika dalam perjalanan ke rumah temannya, ia hampir tertabrak kendaraan, dan untung saja Nada terselamatkan karena ternyata ada seseorang yang telah menyelamatkan Nada.
        “Anda baik-baik saja?” tanya seorang pria gagah, ber jas hitam ala 90-an”
        “ya, aku baik-baik saja. Terima kasih telah menolong saya”
        “Sama-sama” jawabnya singkat.
        “Oh ya, boleh saya tahu siapa nama anda?”
        Pria itu hanya membalasnya dengan senyuman dan pergi berlalu begitu saja.
        “hay, saya bertanya siapa nama anda?”
        Pria itu tetap tidak membalas ucapannya dan malah pergi semakin menjauh.
        “Aneh, seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Ah, mungkin saja itu hanya dugaanku”
        Sesampainya di rumah temannya yaitu Abigail, Nada melihat ternyata ada keramaian di sana dan ia segera mengetuk dan membuka pintu rumah Abigail.
        “Gail?”
        “Bean Boozled!” sapa seluruh teman yang ada.
        “Astaga kalian, mengejutkan saja”
        “ya, kita lagi seru-seruan nih main bean boozled! Kau harus mencobanya!”ujar salah satu temannya.
        “tidak”
        “Ayolah..., hanya untuk sekali saja”
        “oke..” ujar Nada sambil memutar anak panah pada permainan itu.
        “oke, kau mendapatkan permen berwarna kuning. berarti rasa peach atau barf!”
Nada segera memakan permen itu dan tiba-tia ia merasa sangat terkejut.
        “Sial..” sambil memuntahkannya.
        “Unlucky girl...” ujar salah seorang temannya
Setelah lama bermain di rumah Abigail, teman teman-teman yang lainpun segera pulang ke rumahnya masing-masing. Kecuali Nada, dan sekarang ia bersama dengan temannya Abigail.
“Kamu nggak pulang Nad?” tanyanya
        “Gail, aku tiba-tiba jadi takut.. serius, Orang tuaku lagi ada tugas ke luar kota pula..”
        “oh, kira-kira berapa hari?”
        “ Sekitar semingguan Gail...”
        “ Oh, Nad, pasti kamu masih kebayang sama kertas yang tadi kamu temukan di bangkumu kan?”
        “ iya Gail,dan ternyata itu teror. Sekarang pelaku itu juga menerorku dengan hal yang sama di rumahku. Di setiap sudut ruangan aku menemukan kertas-kertas itu, dan berisikan kata-kata yang konyol.”
        “ Lalu, bagaimana bisa ia menyelinap begitu saja ke dalam rumahmu?”
        “Aku tidak tahu Gail, semua itu terjadi di luar dugaan. Aku jadi merasa seperti boneka yang hanya mengikuti permainannya karena aku tidak bisa menghentikannya.”
        “ Kamu tidak perlu merasa seperti itu..”
        “ Ya, seharusnya... oh iya, kau tahu, tadi pada saat aku sedang berjalan menuju rumahmu aku hampir saja tertabrak kendaraan, dan pada akhirnya aku terselamatkan karena ada seorang pria yang menolongku”
        “ Wah, syukurlah.. lain kali hati-hati Nad kalau di jalan, beruntung ada yang menolongmu..”
        “ Iya, tetapi aku merasa aneh karena ketika aku menanyakan namanya, orang itu tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum.”
        “Hah? Apa dia gila?”
        “Kalau menurut dugaanku tidak. Kalau saja ia gila, mana mungkin ia menolongku hingga aku selamat.”
        “iya juga sih.., tapi Nad, tiba-tiba saja aku merasa bahwa orang yang kamu bicarakan itu ada kaitannya dengan apa yang kamu alami saat ini.”
        “Maksudmu ia yang menerorku?”
        “Iya Nad. Seandainya saja orang itu tidak ada kaitan dengan kasus ini, mana mungkin ia menyembunyikan identitas dirinya darimu. Mungkin bisa saja ia juga memalsukan penampilannya.”
        “Gail, Kamu jangan berprasangka buruk, siapa tahu saja orang itu memang memiliki kepribadian yang tertutup sekali, sehingga ia tidak mau memberikan identitasnya sedikitpun apalagi dengan orang yang tidak dikenalnya.”
        “Tapi aku merasa seperti itu. Dan mungkin kau akan mengetahuinya nanti.”
        “Gail, kenapa tiba-tiba kamu menjadi seperti orang yang seolah-olah tahu semua masalah ini? Kamu yakin sekali Gail dengan pendapatmu yang salah itu”
        “Salah? Nad, asal kamu tahu, siapa tahu saja orang yang menolongmu itu kenal sekali tentang dirimu tetapi kau tidak mengenalnya. Dengar, kau berada dalam bahaya Nad..”
        “Dan ternyata aku salah memilih teman curhat sepertimu Gail, Kau tidak tahu tentang apapun, namun kau berkata seolah-olah kau tahu segalanya. Itu akan membuatku berprasangka buruk terhadap orang yang tidak bersalah. Dengar,sesungguhnya kau yang menempatkanku dalam masalah besar.
        “Oke, kita lihat saja nanti..”
        Pada akhirnya setelah mereka berseteru, mereka kembali kerumah masing-masing. Dan sekembalinya Nada ke rumahnya lagi-lagi  ia mendapati lembaran kecil di depan pintu rumahnya.
        “Terimakasih...” Begitulah isi pada kertas tersebut.
        “Terimakasih? Untuk apa?” tanya Nada nampak bingung.
        Setelah membaca surat tersebut, nada mendengar ponselnya berbunyi di sakunya dan ia segera mengangkatnya. Dan ternyata teman dari Nada menelponnya.
        “ Halo, Nad. Segera datang ya, ada kabar buruk!” ujar temannya.
        “Mengapa Dev?
        “Teman kita, Abigail meninggal dunia karena dibunuh oleh seseorang!”
        “Apa? Jadi...” sambil melihat tulisan di kertas kecil tadi.
        Dan akhirnya Nada merasa menyesal atas ketidak percayaannya terhadap temannya sendiri. Ia merasa sangat terpukul. Dia dapat menyimpulkan bahwa Abigail adalah teman yang sangat baik. Ia berani mengorbankan dirinya untuk bercerita tentang orang yang telah menerornya selama ini sekalipun ia tahu bahwa pelaku teror mendengar pembicaraannya, dan hingga pada akhirnya pelaku teror tersebut mengetahui apa yang telah Abigail ceritakan kepada Nada dan membunuhnya dengan sadis. Dan sampai sekarang seseorang tanpa nama itu akan selalu menjadi misteri dalam hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar