Seseorang tak bernama
Kala itu di pagi hari seperti biasa, Nada berangkat ke
Sekolah bersama teman-temannya dengan mengendarai sepeda. Nada lebih memilih
menaiki sepeda, mengingat jarak antara rumah dengan Sekolahnya tidak terlalu
jauh. Sesampainya di Sekolah, mereka segera memakirkan sepedanya di parkiran
Sekolah, Dan kemudian memasuki ruang kelas masing-masing. Ketika masuk ke dalam
kelas,Nada menemukan secarik kertas di bangkunya yang bertuliskan “Hai, to: Nada ”
“Siapa yang menuliskan ini? Aneh...”
kata Nada.
“Wah, baru dateng udah dapet surat. Dari
siapa Nad? ujar Abigail teman se-kelas Nada sambil merebut kertas kecil di
tangan Nada.
“Ah.. kamu gail, aku saja tidak tahu
surat ini dari siapa” sambil merebut kertas itu kembali.
“Tidak tahu? Kok bisa” Tanya kembali
“ Malah sekarang aku mau nanya balik
sama kamu. Apakah kamu tahu siapa yang meletakkan kertas konyol ini di
bangkuku?”
“ Aku tidak tahu Nad. Barang kali ada
seseorang yang mau mengincarmu”
“Gail, aku sudah berprinsip kalau aku
tidak mau ada hubungan apa-apa selama masih SMA”
“ Iya sih, tapi kan tidak semua lawan
jenis berprinsip sama sepertimu”
“ Tapi kalau menurut aku, surat ini
tidak ada unsur apapun mengenai itu”
“ Ah, sudahlah Nad, jangan terlalu
paranoid. Barang kali itu hanya main-main”
“Mungkin..” jawabnya.
Setelah pulang sekolah, Nada melupakan
tentang surat itu. Dan kemudian dibuangnya. Dan ia berharap bahwa dirinya tak
menemukan lembaran konyol lagi di Sekolahnya. Akan tetapi, jauh di luar dugaan,
ia justru terus menemukan lembaran konyol lainnya, dan bahkaan si pelaku
semakin gencar dalam melakukan aksi terornya terhadap Nada. Bukan hanya di
Sekoplah, tetapi dimanapun Nada berada.
“ ah, aku merasa lelah sekali dengan
hari ini, apa lagi setelah menemukan surat ini. Membuatku cemas saja” katanya
sambil merobek dan membuang surat itu.
Kemudian setelah ia membuang kertas
kecil itu, tiba-tiba ia melihat ada kertas kecil lainnya di laci meja
belajarnya.
“ Lelah ya Nad, kasihan.. istirahat yang
tenang ya, Semoga mimpi indah..” begitulah tulisan di kertas kecil itu.
“ Astaga, siapa yang menulis surat ini?
Dan dimana ia? Tidak salah lagi, surat ini pasti dari orang yang sama dan ia
bukan saja berada di lingkungan sekolah! Awas saja kau. Kalau saja aku sudah
menemukanmu, akan ku habisi kau!” jawabnya dengan gelisah dan kemudian membuang
kertas itu. Kemudian Nada bergegas ke Kamar kecil dan ia menemukan lagi kertas
kecil lainnya.
“ Jangan tanya lagi siapa aku dan dimana
aku Nada, Karena aku adalah mimpimu dan aku akan selalu ada di dekatmu :-D
#gombal”
“ Kurang ajar! Siapa kau sebenarnya?
Berani sekali kau menyelinap ke dalam rumahku dan menyebarkan lembaran bodoh
ini di Rumahku. Sungguh tidak sopan”
Selesai ia mandi, ia segera berpakaian dan
pergi ke rumah temannya untuk membicarakan hal tersebut. Namun, ketika dalam
perjalanan ke rumah temannya, ia hampir tertabrak kendaraan, dan untung saja
Nada terselamatkan karena ternyata ada seseorang yang telah menyelamatkan Nada.
“Anda baik-baik saja?” tanya seorang
pria gagah, ber jas hitam ala 90-an”
“ya, aku baik-baik saja. Terima kasih
telah menolong saya”
“Sama-sama” jawabnya singkat.
“Oh ya, boleh saya tahu siapa nama
anda?”
Pria itu hanya membalasnya dengan
senyuman dan pergi berlalu begitu saja.
“hay, saya bertanya siapa nama anda?”
Pria itu tetap tidak membalas ucapannya
dan malah pergi semakin menjauh.
“Aneh, seperti ada sesuatu yang sedang
disembunyikan. Ah, mungkin saja itu hanya dugaanku”
Sesampainya di rumah temannya yaitu
Abigail, Nada melihat ternyata ada keramaian di sana dan ia segera mengetuk dan
membuka pintu rumah Abigail.
“Gail?”
“Bean Boozled!” sapa seluruh teman yang
ada.
“Astaga kalian, mengejutkan saja”
“ya, kita lagi seru-seruan nih main bean
boozled! Kau harus mencobanya!”ujar salah satu temannya.
“tidak”
“Ayolah..., hanya untuk sekali saja”
“oke..” ujar Nada sambil memutar anak
panah pada permainan itu.
“oke, kau mendapatkan permen berwarna
kuning. berarti rasa peach atau barf!”
Nada segera memakan permen itu dan tiba-tia ia merasa
sangat terkejut.
“Sial..”
sambil memuntahkannya.
“Unlucky
girl...” ujar salah seorang temannya
Setelah lama bermain di rumah Abigail, teman
teman-teman yang lainpun segera pulang ke rumahnya masing-masing. Kecuali Nada,
dan sekarang ia bersama dengan temannya Abigail.
“Kamu nggak pulang Nad?” tanyanya
“Gail, aku tiba-tiba jadi takut.. serius,
Orang tuaku lagi ada tugas ke luar kota pula..”
“oh, kira-kira berapa hari?”
“ Sekitar semingguan Gail...”
“ Oh, Nad, pasti kamu masih kebayang
sama kertas yang tadi kamu temukan di bangkumu kan?”
“ iya Gail,dan ternyata itu teror.
Sekarang pelaku itu juga menerorku dengan hal yang sama di rumahku. Di setiap
sudut ruangan aku menemukan kertas-kertas itu, dan berisikan kata-kata yang
konyol.”
“ Lalu, bagaimana bisa ia menyelinap
begitu saja ke dalam rumahmu?”
“Aku tidak tahu Gail, semua itu terjadi
di luar dugaan. Aku jadi merasa seperti boneka yang hanya mengikuti
permainannya karena aku tidak bisa menghentikannya.”
“ Kamu tidak perlu merasa seperti itu..”
“ Ya, seharusnya... oh iya, kau tahu,
tadi pada saat aku sedang berjalan menuju rumahmu aku hampir saja tertabrak
kendaraan, dan pada akhirnya aku terselamatkan karena ada seorang pria yang
menolongku”
“ Wah, syukurlah.. lain kali hati-hati
Nad kalau di jalan, beruntung ada yang menolongmu..”
“ Iya, tetapi aku merasa aneh karena
ketika aku menanyakan namanya, orang itu tidak menjawabnya, dia hanya
tersenyum.”
“Hah? Apa dia gila?”
“Kalau menurut dugaanku tidak. Kalau
saja ia gila, mana mungkin ia menolongku hingga aku selamat.”
“iya juga sih.., tapi Nad, tiba-tiba
saja aku merasa bahwa orang yang kamu bicarakan itu ada kaitannya dengan apa
yang kamu alami saat ini.”
“Maksudmu ia yang menerorku?”
“Iya Nad. Seandainya saja orang itu
tidak ada kaitan dengan kasus ini, mana mungkin ia menyembunyikan identitas
dirinya darimu. Mungkin bisa saja ia juga memalsukan penampilannya.”
“Gail, Kamu jangan berprasangka buruk,
siapa tahu saja orang itu memang memiliki kepribadian yang tertutup sekali,
sehingga ia tidak mau memberikan identitasnya sedikitpun apalagi dengan orang
yang tidak dikenalnya.”
“Tapi aku merasa seperti itu. Dan
mungkin kau akan mengetahuinya nanti.”
“Gail, kenapa tiba-tiba kamu menjadi
seperti orang yang seolah-olah tahu semua masalah ini? Kamu yakin sekali Gail
dengan pendapatmu yang salah itu”
“Salah? Nad, asal kamu tahu, siapa tahu
saja orang yang menolongmu itu kenal sekali tentang dirimu tetapi kau tidak
mengenalnya. Dengar, kau berada dalam bahaya Nad..”
“Dan ternyata aku salah memilih teman
curhat sepertimu Gail, Kau tidak tahu tentang apapun, namun kau berkata
seolah-olah kau tahu segalanya. Itu akan membuatku berprasangka buruk terhadap
orang yang tidak bersalah. Dengar,sesungguhnya kau yang menempatkanku dalam
masalah besar.
“Oke, kita lihat saja nanti..”
Pada akhirnya setelah mereka berseteru,
mereka kembali kerumah masing-masing. Dan sekembalinya Nada ke rumahnya
lagi-lagi ia mendapati lembaran kecil di
depan pintu rumahnya.
“Terimakasih...” Begitulah isi pada
kertas tersebut.
“Terimakasih? Untuk apa?” tanya Nada
nampak bingung.
Setelah membaca surat tersebut, nada
mendengar ponselnya berbunyi di sakunya dan ia segera mengangkatnya. Dan
ternyata teman dari Nada menelponnya.
“ Halo, Nad. Segera datang ya, ada kabar
buruk!” ujar temannya.
“Mengapa Dev?
“Teman kita, Abigail meninggal dunia
karena dibunuh oleh seseorang!”
“Apa? Jadi...” sambil melihat tulisan di
kertas kecil tadi.
Dan akhirnya Nada merasa menyesal atas
ketidak percayaannya terhadap temannya sendiri. Ia merasa sangat terpukul. Dia
dapat menyimpulkan bahwa Abigail adalah teman yang sangat baik. Ia berani
mengorbankan dirinya untuk bercerita tentang orang yang telah menerornya selama
ini sekalipun ia tahu bahwa pelaku teror mendengar pembicaraannya, dan hingga
pada akhirnya pelaku teror tersebut mengetahui apa yang telah Abigail ceritakan
kepada Nada dan membunuhnya dengan sadis. Dan sampai sekarang seseorang tanpa
nama itu akan selalu menjadi misteri dalam hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar