Selasa, 25 Oktober 2016

Inspirasi Terhebat -Karya Dheanty Eka Pratiwi

Sosok lelaki paruh baya berkulit hitam berpostur tubuh tinggi dengan sepatu lars hitam, berseragam loreng hijau dengan bermacam lambang di dadanya. Ya, itu adalah ayah dari seorang puteri bernama Prita. Prita terlahir menjadi anak seorang prajurit dan itu bukan pilihan tapi sebuah kepastian dari takdir Illahi. Dibesarkan dalam didikan yang keras dan disiplin membawa karakter dalam diri Prita menjadi wanita yang tidak mudah menyerah akan sebuah kegagalan.
        
Karena terlalu seringnya Ayahanda Prita ditugaskan, Prita pun tidak asing lagi dengan keberadaan sang ayah, bahkan ketika teman temannya bertanya dimana ayah kamu? Prita hanya bisa menjawab Ayah saya sedang  tugas, ketika Prita sudah berusia 7 tahun, Prita baru merasakan kedekatan dengan seorang Ayah.
       
Bulan demi bulan pun berlalu tiba saatnya sang ayah pulang, sungguh luar biasa kerinduan Prita akan sosok yang begitu dia hormati, dengan rasa rindunya kepada sang anak, sang ayah pun memeluk anak tercinta. Waktu pun terus begulir, ketenangan dalam didikan ayah dan rangkulan kasih sayangnya benar-benar Prita rasakan, lama ayah tidak tugas ke luar jawa, namun kebahagiaan itu tersita sementara ketika ayahanda mendapat surat tugas ke Surabaya. Khawatir bahkan sangat khawatir karena maut adalah taruannya. Saat itu ibunda Prita yang membesarkan Prita, setiap tengah malam bangun untuk mendo’akan ayahanda tercinta agar selalu diberi lindungan oleh Tuhan. Ketika harus melakukan operasi melawan Gerakan Aceh Merdeka.
      
Sungguh sebuah ujian yang sangat besar namun mampu Prita dan sang ibunda lewati dengan tegar yaitu ketika Bencana Tsunami menimpa Nangroe Aceh Darussalam, keluarga Prita kehilangan kabar dari Ayahanda, hingga beberapa hari, inilah sosok ketegaran ibunda Prita akui luar biasa, ibunda Prita mampu menenangkan dan membesarkan hati Prita, bahkan sang ibunda selalu yakin bahwa Ayahanda di sana dalam keadaan baik baik saja dan dalam lindungan Tuhan, kabar dari media elektronik saat itu hanya membuat hati keluarga Prita semakin miris saja, dan pada saat itu teman sang ayah yang sudah seperti keluargalah yang berusaha mencarikan informasi keberadaan sang Ayah di sana melalui batalyon yang ada di banda aceh, sungguh kekeluargaan satu korps itu benar benar terjalin kuat dan erat, satu minggu sudah kejadian Tsunami ini menimpa dan di bawah keheningan malam kabar dari ayahanda tercinta sudah terdengar, walau hanya sebentar Prita bisa mendengar suara sang Ayah, namun itu bagai kemarau setahun yang terhapus hujan sehari, luar biasa bahagianya Prita, sosok yang sangat kami hormati dalam keadaan sehat dan terlindung dari maut.
      
Ujian keluarga Prita tak berhenti di sini, pada saat itu tugas sang Ayah bukan hanya pelindung NKRI dengan bertarung nyawa mencari segerombolan Gerakan Aceh Merdeka, namun sang ayah juga harus menjadi sukarelawan membantu menyelematkan korban bencana Tsunami dan membersihkan puing-puing bekas bencana, dengan berbekal ketulusan dalam menolong, semua dapat dijalankan dengan ikhlas dan penuh dengan tanggung jawab, namun Tuhan menguji keluarga Prita dengan ujian yang lain, Ayahanda Prita  harus terkena penyakit tipes dan sempat dirawat satu minggu di rumah sakit. Namun tahukah kalian bahwa ikatan batin antara suami dan istri itu kuat bukan?, tanpa komunikasi sama sekali, ibunda Prita mampu merasakan bahwa ayah sedang sakit, dengan berbagai cara ibunda Prita mencoba mendapatkan kabar keadaan sang ayah, namun semua kosong hasilnya karena komunikasi belum kembali normal, akhirnya hanya do’alah yang mampu menyampaikan bisikan hati ibunda Prita kepada sang ayah.
         
Selang berapa lama, sang Ayah pun menghubungi ibunda Prita dan berkata “bun, ayah sakit, minta do’a nya”, tak ada airmata yang keluar, hanya ucapan dari bibir ibunda Prita “Ayah kuat, bunda dengan Prita berdo’a untuk ayah”, Prita tahu secara lahiriah memang sang ibunda tidak menangis namun secara batin pasti ibunda Prita merintih, “andaikan bisa saya berada di sana dan merawatmu wahai Ayah, pasti itu akan membuat sakitmu terasa hilang”. Dari Tuhan ujian itu datang, dan pasti dari-Nya obat itu datang, semalaman tidak tidur hanya untuk mendo’akan Ayahanda di sana.
       
Setelah ujian demi ujian mampu terlewati, sudah saatnya sang Ayah kembali ke pelukan keluarganya, hari itu Prita masih ingat sekali, hari senin pagi sekeluarga Prita berangkat ke Semarang untuk menjemput ayah yang pagi itu sudah tiba di batalyon, dengan hati yang berdegup kencang, haru, senang semua bercampur menjadi satu. Ketika itu Prita melihat semua pasukan Marinir berbaris tegap dan rapi, segerombolan truk banyak yang berlalu-lalang membawa pasukan, dan ketika tatapan Prita terhenti pada seseorang yang baru saja turun dari truk sambil berlari menghampiri Prita dan sang ibunda, sosok beliau yang masih sehat dan berbadan tegap, pandangan penuh cinta dan kerinduan akan keluarga, tapi berbeda dengan Prita, Prita hanya mampu berdiri dan melihatnya dari kanan jalan, kaki Prita tak mampu melangkah karena kerinduan yang begitu dalam akan sosok yang berdiri di seberang jalan itu, dalam pikirannya, benarkah itu sang ayah yang selama ini sedang menjalankan pengabdian? Ternyata memang benar, bahwa itu merupakan sang Ayah yang sangat Prita rindukan.
       
Waktu terus bergulir, sang Ayah yang aktif bertugas di batalyon, semua pengalaman sang Ayah membuat Prita menjadi cinta dengan dunia militer, hal ini  melahirkan semangat dan inspirasi untuk Prita menjadi seorang  prajurit wanita, meski mimpi sang anak belum terwujud, tapi Prita masih mempunyai semangat untuk bisa meraih impiannya itu dan bisa bersama-sama berangkat dengan sang ayah ke tempat dinas sambil berkata “Ayah, engkaulah komandan terhebat yang akan Prita hormati sepanjang masa”. Restuilah Prita untuk meraih cita-cita ini wahai Ayahanda tercinta, dan meneruskan titahmu menjadi abdi Negara.
       
Bukan emas permata dan harta yang melimpah yang Prita kejar, namun pengabdian sang Ayahanda lah yang memberikan manfaat untuk Negeri ini adalah hal yang terindah untuk Prita, meski sekarang sang ayah belum merestui cita-cita Prita, tapi suatu saat nanti pasti Prita sudah bisa mencapainya, dan akan Prita persembahkan keberhasilan itu untuk Ibu Pertiwi, yang Prita dapatkan semangat itu dari sosok ayah yang sangat hebat.
       Wahai A
yahanda tercinta.. Ayahanda lah yang mengawali masa remaja Prita dengan konsistensi cinta yang besar, Ayahanda juga yang mengawali pelajaran masa muda Prita dengan satu filosofi yang bernama kesetiaan, dan Ayahanda pula yang membentuk mental Prita dengan nilai-nilai luhur yang baik. Dia Ayah, yang sangat Prita kasihi tanpa syarat apapun.
       Ayahanda yang seorang prajurit telah menjelaskan makna hidup kepada sang anak Prita, dan Ayahanda yang berkulit hitam legam, yang setiap hari terpapar terik matahari, yang selama ini membanting tulangnya dengan satu sikap yaitu setia.
      
Jayalah selalu pasukan Marinir di seluruh Indonesia, Jayalah untuk negerimu dan jadilah panutan untuk keluargamu, karena Engkau adalah Ayah terhebat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar