Selasa, 25 Oktober 2016

Everything −Karya Alma Amelya


“ ayodong cepat! ” ayah memanggilku yang sedang bersiap-siap tapi aku tak kunjung keluar dari kamarku.
“ sabar dong yah! nata kan lagi nyiapin buku nata “ jawabku
“ tapi ayah juga kan harus bekerja nata sayang! Ayah ada meeting pagi ini nata “ ayahku kembali berteriak
“ siap bos sebentar lagi selesai! Percaya padaku kaliini!! “ aku coba meyakinkan ayah
“ kalo kamu hampir setiap hari kaya gini, lamalama ayah tinggal ya nata “ balas ayahku yang sudah terlihat kesal

Karna mendengar ayahku yang sudah sangat kesal,aku pun segera lari keluar.

“ siap komandan ! “
“ lain kali naik angkot saja ya nat, ayah cape nunggu kamu setiap pagi “ ayah dengan ekspresi lelah yang dibuat-buat
“ Mau liat anaknya kenapa-napa emang? “ ledekku
“ eh! kamu kalo ngomong deh nat kebiasaan “ mamaku menyambar yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah
“ yaengga lah sayang, ayah kan Cuma bercanda “ jawab ayah dengan cengiran khasnya

Pagi itu aku berangkat bersama ayah dengan canda dan tawa yang seperti biasa kita lakukan setiap paginya, ayahku adalah orang yang sangat humoris. Dia selalu membuatku tertawa walaupun lawakkan yang dia lontarkan adalah lawakkan yang sudah berkali-kali dia berikan kepadaku, tapi tidak bosannya juga aku mendengarnya. Menurutku ayahku adalah ayah terbaik. Aku sangat takut kehilangan ia.
Ayahku pernah berkata “ tidak akan ada orang yang berani nyakitin kamu nat, karna kalau ada yang berani nyakitin kamu, ayah akan makan dia hidup-hidup! “karna saat itu aku masih kecil  aku hanya tertawa karna dia berkata ingin memakannya hidup-hidup...
Karna begitu takutnya aku kehilangan ayahku, sekarang aku tidak tau harus bagaimana menghadapi ini. Aku tidak tahan mendengar isakan setiap orang didekatku, mamaku , kakaku dan nenek kakek ku. Mungkin orang bingung yang melihat setiap orang menangis tersedu-sedu tetapi hanya aku yang hanya bisa membeku tidak berkedip.

Aku tidak bisa berkata apapun setelah mendengar apa yang terjadi sore tadi setelah pulang sekolah . Ingin sekali aku menumpahkan semua air mataku hanya untuk membuat lega dadaku. Rasanya aku sudah tidak bisa lagi melangkah tetapi aku harus tetap melangkah agar aku bisa melihat orang yang sangat aku sayangi untuk yang terakhir kalinya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar