Selasa, 25 Oktober 2016

Perbedaan Pada Persamaan -Karya Risna Musviana

“Reina, cepat bangun!” Ujar Mama dengan suara tegasnya.
“Iya ma… sebentar lagi aku bangun.”
“Reina… ini sudah jam 06.00 tepat. waktunya kamu siap-siap pergi ke sekolah.”
Mendengar Mama bicara begitu Reina segera terbangun dan langsung berlari ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan mengenakan seragam tiba-tiba, Mama memanggil Reina untuk segera sarapan bersama di ruang makan.
Sementara itu, ditempat lain seorang gadis bernama Renata sudah selesai membantu Ibunya merapikan rumah sejak masih sangat pagi dan siap untuk berangkat ke sekolah.
“Bu… Aku berangkat sekolah dulu ya.” Renata berpamitan dan mencium tangan Ibunya.
“Iya... Kamu hati-hati di jalan.”
Di jam yang bersamaan Reina dan Renata berangkat ke sekolah dari rumah masing-masing. Tidak lama setelah Reina sampai di sekolah bel masuk pun berbunyi dan semua murid bergegas memasuki ruang kelas mereka masing-masing.
“Reina, Kamu sudah mengerjakan PR matematika?” Tanya Mita(teman sebangku Reina).
“Memangnya kenapa? Kamu mau lihat?” Jawab Reina dengan wajah yang meyakinkan.
“Kamu sudah selesai mengerjakan semuanya?” Mita bertanya dengan wajah herannya.
“Ya sudah pasti, aku…(Reina menghentikan bicaranya dan membuat Mita penasaran) Belum mengerjakannya sama sekali. Hahahaha... Mana pernah aku mengerjakan PR dari rumah… Tadi pagi saja aku bangun kesiangan.”
“Hahahaha… Aku rasa kedua hal tersebut sudah menjadi hobi kamu.” Mita berlari menjauhi Reina.
“Enak saja kamu… Awas yaa Mita aku akan mengejarmu.”
Saat Reina dan Mita sedang kejar-kejaran di kelas tiba-tiba saja Pak Budi masuk kelas dengan seorang gadis. Kemudian mereka langsung kembali ke tempat duduk  dan seketika saja suasana kelas menjadi hening.
“Selamat pagi… Hari ini saya ingin mengenalkan seorang murid baru di sekolah kita ini.” Pak Budi mempersilakan Renata untuk mengenalkan dirinya.
“Selamat pagi teman-teman… Perkenalkan, nama saya Renata Tivania biasa dipanggil Renata. Saya pindah ke sekolah ini karena letaknya lebih dekat dari rumah saya dibanding sekolah lama saya.”
“Nah, Renata kamu bisa duduk di bangku kosong itu dengan Shilla.” Pak Budi menunjuk kearah bangku nomor 2 dari barisan ke 2 setelah pintu(lebih tepatnya Renata duduk di depan Reina).
Renata berjalan menghampiri tempat duduknya. Kemudian Ia berkenalan dengan Shilla yang menjadi teman sebangkunya. Saat Renata berbicara dengan Shilla, Mita dan Reina memotong pembicaraan mereka dan langsung berkenalan dengan Renata.
“Hai… Namaku Mita!”
“Aku Reina… Kamu kelihatannya rajin dan pintar?!” Memandang Renata dengan ekspresi yang tajam.
“Ahhh… Itu hanya perasaanmu saja kali.”
“Eh, Ngomong-ngomong kok nama kalian mirip sih! Renata dan Reina.” Ungkap Shilla.
“Oh iya ya… Benar juga kata Shilla. Tapi kalau diperhatikan, wajah kalian juga sama banget!” Jawab Mita
“Masa sihh…?” Tanya Reina dan Renata berbarengan.
“Tuh kan, Kalian jadi seperti anak kembar.” Ungkap Shilla.
Setelah itu, mereka tertawa bersama dan menghentikan pembicaraannya lalu lanjut belajar dengan serius dan fokus. Saat bel istirahat berbunyi Reina, Mita, dan Shilla mengajak Renata untuk mengelilingi sekolah dan memberitahu semua ruangan yang belum Renata ketahui. Namun, ketika mereka sedang berjalan kearah kantin banyak terdengar suara dari murid-murid yang membicarakan kemiripan antara Reina dengan Renata.
“Sepertinya mereka sedang membicarakan kita?!” Pikir Reina.
“Aku juga merasa seperti itu.” Jawab Renata.
“Ahh… Itu hanya perasaan kalian saja kali.” Ucap Shilla
Hari terus berjalan. Tidak terasa Renata sudah satu bulan bersekolah di SMP Sinar Mentari(Tempat Reina dan teman-teman lainnya bersekolah). Ia sudah memiliki banyak teman, dia juga terkenal sebagai murid yang rajin, pintar, baik, sopan, dan ramah. Bahkan Renata sering dipuji oleh guru dan teman-temannya karena sifat terpujinya. Berbeda dengan Renata, Reina malah dikenal sebagai anak yang susah diatur, malas, dan keras kepala.
“Reina mana PR mu? Ayo cepat kumpulkan!” Perintah Pak Budi.
“Saya…. Saya sudah mengerjakannya Pak, tetapi buku saya tertinggal dirumah.” Reina mencari-cari alasan kepada Pak Budi.
“Reinaa… Kamu Bapak hukum berdiri di depan sampai jam pelajaran Bapak selesai.”
“Saya tidak mau Pak. Karena saya sudah mengerjakan tugas dari Bapak, lalu kenapa saya harus dihukum?!” Jawab Reina dengan nada yang agak tinggi.”
“Saya sudah terlalu sering mendengar alasan seperti itu dari mulut mu, Reina. Setiap saya beri kesempatan, kamu juga tidak pernah memberi bukti bahwa kamu sudah mengerjakan tugas. Jadi… sekarang, cepat kamu berdiri di depan sampai jam pelajaran ini selesai.”
Itulah keseharian Reina di sekolah, Ia sangat jarang mengerjakan PR yang diberikan oleh guru. Sehingga Reina sering dihukum untuk berdiri di depan kelas.
“Eh… Lihat deh Reina, beda banget ya sama Renata. Aku kira dia benar-benar serupa, ternyata hanya wajah dan namanya aja yang mirip banget sampai-sampai seperti anak kembar.” Seorang murid sedang membicarakan Reina dengan temannya.
“Iyaa… Mereka itu memang sama tapi berbeda sifatnya.” Jawab temennya.
“Kalian sedang membicarakan aku ya?” Tanya Reina.
“Kalo iya, emangnya kenapa? Kamu mau marah sama kami.”
“Dasar anak nakal… bisanya hanya membicarakan orang saja.” Reina menarik rambut anak tersebut.
“Apa yang kamu lakukan Reina? Sudah, hentikan…” kata Pak Budi.
Pak Budi mengajak Reina pergi ke ruang guru, lalu Pak Budi juga memanggil Renata ke ruang guru. Setelah itu Pak Budi menasehati Reina untuk berubah dan mencontoh Renata dalam bersikap. Sementara Renata diberi tugas oleh Pak Budi untuk membantu Reina dalam belajar dan bersikap.
“Mulai hari ini aku akan membantumu dalam belajar, jadi kamu harus menuruti semua perkataanku.”
“Aku tidak mau.” Tolak Reina dengan tegas.
“Baiklah kalau kamu tidak mau, Aku akan memberitahu Pak Budi dan dia akan menelphone mamamu.”
“Oke-oke… Mau tidak mau aku harus menurutimu.” Jawab Reina dengan separuh hati.
Sejak saat itulah Renata selalu mengajari Reina dan ia juga datang ke rumah Reina setiap pulang sekolah untuk membantu Reina mengerjakan PR. Karena Renata sering datang kerumah, maka Reina dan Renata menjadi bersahabat. Hingga pada suatu hari, tibalah saat-saat mereka harus melakukan ujian kenaikan kelas dan Reina berjanji pada Renata bahwa ia akan berhasil dengan nilai yang bagus.
“Gimana Reina? Apakah kamu sudah siap?” Tanya Renata dengan harap-harap cemas.
“Aku siap. Kan kemarin kita sudah belajar bersama jadi, aku yakin pasti bisa.”
“Bagus deh kalo gitu… Aku senang mendengarnya.”
“Wah… Kalian semangat banget?!” Ungkap Shilla dan Mita.
“Ya…iyalah kita ini kan ingin dapet nilai bagus jadi harus bersemangat.” Jawab Reina sambil tertawa.
Tiba-tiba bel masukpun berbunyi. Seluruh murid masuk ke kelasnya dan memulai ujian kenaikan kelas. Setelah melakukan ujian selama beberapa hari, akhirnya ujian pun selesai dilakukan dan seluruh murid SMP Sinar Mentari hanya tinggal menunggu hasilnya.
“Kamu kenapa diam saja?” Tanya Shilla.
“Aku tidak apa-apa.”
“Sudahlah Reina kamu jangan bohong sama kami.” Kata Mita.
“Iya kamu cerita aja sama kami.” Ungkap Rena.
“Sebenarnya aku sedang memikirkan hasil ujiannya, Aku takut kalau nilaiku jelek dan mengecewakan kalian.”
“Ya ampun Reina… Kamu jangan berpikiran buruk gitu dong, yang penting kita kan udah berusaha dengan maksimal.” Renata berusaha meyakinkan Reina.
“Iya itu benar… lebih baik sekarang kita berdoa sama-sama agar nilai kita bagus.” Ajak Mita.
“Ayo kita berdoa bersama…Berdoa mulai!” Seru Shilla.
“AAMIIN……” Jawab mereka bersamaan.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Pak Budi mengumumkan hasilnya. Dan… ternyata, Aku mendapat nilai rata-rata yang bagus yaitu 95. Aku sangat senang dan bangga dengan hasilnya. Tidak hanya itu, Renata, Mita ,dan Shilla juga sangat senang karena mereka juga mendapat nilai yang bagus yaitu 98,93,dan 96.
“Saya sangat bangga padamu Reina.”
“Terima kasih Pak, ini semua juga berkat bantuan Renata yang selalu mau menolong saya.”
“Rena, Saya sangat berterima kasih padamu karena kamu sudah berhasil melakukan tugas dari saya.”
“Sama-sama Pak.”
“Renata, Aku juga mau berterima kasih sama kamu atas kemauan kamu membantuku dalam belajar dan membuat nilaiku jadi bagus.”
“Kamu tidak perlu berterima kasih denganku, karena kamu bisa berubah seperti ini atas kemauan dan usahamu sendiri.”
Sejak saat itu, Reina dan Renata terkenal sebagai murid teladan di sekolahnya. Mereka juga dikenal dengan sebutan anak kembar karena wajahnya yang sangat mirip dan sifatnya yang sama-sama baik, rajin, dan pintar inilah membuat mereka banyak teman dan disukai oleh orang-orang.



SELESAI J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar