“Reina, cepat bangun!” Ujar Mama dengan suara tegasnya.
“Iya ma… sebentar lagi aku bangun.”
“Reina… ini sudah jam 06.00 tepat. waktunya kamu
siap-siap pergi ke sekolah.”
Mendengar Mama bicara begitu Reina segera terbangun
dan langsung berlari ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan mengenakan
seragam tiba-tiba, Mama memanggil Reina untuk segera sarapan bersama di ruang
makan.
Sementara itu, ditempat lain seorang gadis bernama
Renata sudah selesai membantu Ibunya merapikan rumah sejak masih sangat pagi
dan siap untuk berangkat ke sekolah.
“Bu… Aku berangkat sekolah dulu ya.” Renata berpamitan
dan mencium tangan Ibunya.
“Iya... Kamu hati-hati di jalan.”
Di jam yang bersamaan Reina dan Renata berangkat ke
sekolah dari rumah masing-masing. Tidak lama setelah Reina sampai di sekolah
bel masuk pun berbunyi dan semua murid bergegas memasuki ruang kelas mereka
masing-masing.
“Reina, Kamu sudah mengerjakan PR matematika?” Tanya Mita(teman
sebangku Reina).
“Memangnya kenapa? Kamu mau lihat?” Jawab Reina dengan
wajah yang meyakinkan.
“Kamu sudah selesai mengerjakan semuanya?” Mita
bertanya dengan wajah herannya.
“Ya sudah pasti, aku…(Reina menghentikan bicaranya dan
membuat Mita penasaran) Belum mengerjakannya sama sekali. Hahahaha... Mana
pernah aku mengerjakan PR dari rumah… Tadi pagi saja aku bangun kesiangan.”
“Hahahaha… Aku rasa kedua hal tersebut sudah menjadi
hobi kamu.” Mita berlari menjauhi Reina.
“Enak saja kamu… Awas yaa Mita aku akan mengejarmu.”
Saat Reina dan Mita sedang kejar-kejaran di kelas
tiba-tiba saja Pak Budi masuk kelas dengan seorang gadis. Kemudian mereka
langsung kembali ke tempat duduk dan
seketika saja suasana kelas menjadi hening.
“Selamat pagi… Hari ini saya ingin mengenalkan seorang
murid baru di sekolah kita ini.” Pak Budi mempersilakan Renata untuk
mengenalkan dirinya.
“Selamat pagi teman-teman… Perkenalkan, nama saya Renata
Tivania biasa dipanggil Renata. Saya pindah ke sekolah ini karena letaknya
lebih dekat dari rumah saya dibanding sekolah lama saya.”
“Nah, Renata kamu bisa duduk di bangku kosong itu
dengan Shilla.” Pak Budi menunjuk kearah bangku nomor 2 dari barisan ke 2
setelah pintu(lebih tepatnya Renata duduk di depan Reina).
Renata berjalan menghampiri tempat duduknya. Kemudian
Ia berkenalan dengan Shilla yang menjadi teman sebangkunya. Saat Renata
berbicara dengan Shilla, Mita dan Reina memotong pembicaraan mereka dan
langsung berkenalan dengan Renata.
“Hai… Namaku Mita!”
“Aku Reina… Kamu kelihatannya rajin dan pintar?!”
Memandang Renata dengan ekspresi yang tajam.
“Ahhh… Itu hanya perasaanmu saja kali.”
“Eh, Ngomong-ngomong kok nama kalian mirip sih! Renata
dan Reina.” Ungkap Shilla.
“Oh iya ya… Benar juga kata Shilla. Tapi kalau diperhatikan,
wajah kalian juga sama banget!” Jawab Mita
“Masa sihh…?” Tanya Reina dan Renata berbarengan.
“Tuh kan, Kalian jadi seperti anak kembar.” Ungkap
Shilla.
Setelah itu, mereka tertawa bersama dan menghentikan pembicaraannya
lalu lanjut belajar dengan serius dan fokus. Saat bel istirahat berbunyi Reina,
Mita, dan Shilla mengajak Renata untuk mengelilingi sekolah dan memberitahu
semua ruangan yang belum Renata ketahui. Namun, ketika mereka sedang berjalan
kearah kantin banyak terdengar suara dari murid-murid yang membicarakan
kemiripan antara Reina dengan Renata.
“Sepertinya mereka sedang membicarakan kita?!” Pikir
Reina.
“Aku juga merasa seperti itu.” Jawab Renata.
“Ahh… Itu hanya perasaan kalian saja kali.” Ucap
Shilla
Hari terus berjalan. Tidak terasa Renata sudah satu
bulan bersekolah di SMP Sinar Mentari(Tempat Reina dan teman-teman lainnya
bersekolah). Ia sudah memiliki banyak teman, dia juga terkenal sebagai murid yang
rajin, pintar, baik, sopan, dan ramah. Bahkan Renata sering dipuji oleh guru
dan teman-temannya karena sifat terpujinya. Berbeda dengan Renata, Reina malah
dikenal sebagai anak yang susah diatur, malas, dan keras kepala.
“Reina mana PR mu? Ayo cepat kumpulkan!” Perintah Pak
Budi.
“Saya…. Saya sudah mengerjakannya Pak, tetapi buku
saya tertinggal dirumah.” Reina mencari-cari alasan kepada Pak Budi.
“Reinaa… Kamu Bapak hukum berdiri di depan sampai jam
pelajaran Bapak selesai.”
“Saya tidak mau Pak. Karena saya sudah mengerjakan
tugas dari Bapak, lalu kenapa saya harus dihukum?!” Jawab Reina dengan nada
yang agak tinggi.”
“Saya sudah terlalu sering mendengar alasan seperti
itu dari mulut mu, Reina. Setiap saya beri kesempatan, kamu juga tidak pernah memberi
bukti bahwa kamu sudah mengerjakan tugas. Jadi… sekarang, cepat kamu berdiri di
depan sampai jam pelajaran ini selesai.”
Itulah keseharian Reina di sekolah, Ia sangat jarang
mengerjakan PR yang diberikan oleh guru. Sehingga Reina sering dihukum untuk
berdiri di depan kelas.
“Eh… Lihat deh Reina, beda banget ya sama Renata. Aku
kira dia benar-benar serupa, ternyata hanya wajah dan namanya aja yang mirip
banget sampai-sampai seperti anak kembar.” Seorang murid sedang membicarakan
Reina dengan temannya.
“Iyaa… Mereka itu memang sama tapi berbeda sifatnya.”
Jawab temennya.
“Kalian sedang membicarakan aku ya?” Tanya Reina.
“Kalo iya, emangnya kenapa? Kamu mau marah sama kami.”
“Dasar anak nakal… bisanya hanya membicarakan orang
saja.” Reina menarik rambut anak tersebut.
“Apa yang kamu lakukan Reina? Sudah, hentikan…” kata
Pak Budi.
Pak Budi mengajak Reina pergi ke ruang guru, lalu Pak
Budi juga memanggil Renata ke ruang guru. Setelah itu Pak Budi menasehati Reina
untuk berubah dan mencontoh Renata dalam bersikap. Sementara Renata diberi
tugas oleh Pak Budi untuk membantu Reina dalam belajar dan bersikap.
“Mulai hari ini aku akan membantumu dalam belajar,
jadi kamu harus menuruti semua perkataanku.”
“Aku tidak mau.” Tolak Reina dengan tegas.
“Baiklah kalau kamu tidak mau, Aku akan memberitahu
Pak Budi dan dia akan menelphone mamamu.”
“Oke-oke… Mau tidak mau aku harus menurutimu.” Jawab
Reina dengan separuh hati.
Sejak saat itulah Renata selalu mengajari Reina dan ia
juga datang ke rumah Reina setiap pulang sekolah untuk membantu Reina
mengerjakan PR. Karena Renata sering datang kerumah, maka Reina dan Renata
menjadi bersahabat. Hingga pada suatu hari, tibalah saat-saat mereka harus
melakukan ujian kenaikan kelas dan Reina berjanji pada Renata bahwa ia akan
berhasil dengan nilai yang bagus.
“Gimana Reina? Apakah kamu sudah siap?” Tanya Renata
dengan harap-harap cemas.
“Aku siap. Kan kemarin kita sudah belajar bersama
jadi, aku yakin pasti bisa.”
“Bagus deh kalo gitu… Aku senang mendengarnya.”
“Wah… Kalian semangat banget?!” Ungkap Shilla dan
Mita.
“Ya…iyalah kita ini kan ingin dapet nilai bagus jadi
harus bersemangat.” Jawab Reina sambil tertawa.
Tiba-tiba bel masukpun berbunyi. Seluruh murid masuk
ke kelasnya dan memulai ujian kenaikan kelas. Setelah melakukan ujian selama
beberapa hari, akhirnya ujian pun selesai dilakukan dan seluruh murid SMP Sinar
Mentari hanya tinggal menunggu hasilnya.
“Kamu kenapa diam saja?” Tanya Shilla.
“Aku tidak apa-apa.”
“Sudahlah Reina kamu jangan bohong sama kami.” Kata
Mita.
“Iya kamu cerita aja sama kami.” Ungkap Rena.
“Sebenarnya aku sedang memikirkan hasil ujiannya, Aku
takut kalau nilaiku jelek dan mengecewakan kalian.”
“Ya ampun Reina… Kamu jangan berpikiran buruk gitu
dong, yang penting kita kan udah berusaha dengan maksimal.” Renata berusaha
meyakinkan Reina.
“Iya itu benar… lebih baik sekarang kita berdoa
sama-sama agar nilai kita bagus.” Ajak Mita.
“Ayo kita berdoa bersama…Berdoa mulai!” Seru Shilla.
“AAMIIN……” Jawab mereka bersamaan.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Pak Budi
mengumumkan hasilnya. Dan… ternyata, Aku mendapat nilai rata-rata yang bagus
yaitu 95. Aku sangat senang dan bangga dengan hasilnya. Tidak hanya itu, Renata,
Mita ,dan Shilla juga sangat senang karena mereka juga mendapat nilai yang bagus
yaitu 98,93,dan 96.
“Saya sangat bangga padamu Reina.”
“Terima kasih Pak, ini semua juga berkat bantuan Renata
yang selalu mau menolong saya.”
“Rena, Saya sangat berterima kasih padamu karena kamu
sudah berhasil melakukan tugas dari saya.”
“Sama-sama Pak.”
“Renata, Aku juga mau berterima kasih sama kamu atas
kemauan kamu membantuku dalam belajar dan membuat nilaiku jadi bagus.”
“Kamu tidak perlu berterima kasih denganku, karena
kamu bisa berubah seperti ini atas kemauan dan usahamu sendiri.”
Sejak saat itu, Reina dan Renata terkenal sebagai
murid teladan di sekolahnya. Mereka juga dikenal dengan sebutan anak kembar
karena wajahnya yang sangat mirip dan sifatnya yang sama-sama baik, rajin, dan
pintar inilah membuat mereka banyak teman dan disukai oleh orang-orang.
SELESAI
J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar