Selasa, 25 Oktober 2016

Kebiasaan Orang Jepang-Karya Nugraha Gustyawan

Altan adalah mahasiswa asing dari Indonesia. Dan seorang penggemar film animasi jepang. Altan sebelumnya pernah masuk jurusun bahasa jepang di sebuah Universitas di Jakarta, namun ia ingin belajar lebih dalam bahasa jepang. Maka ia datang ke Universitas untuk belajar bahasa Jepang di Tokyo selama satu tahun.  Hari ini ia berjumpa dengan pendampingnya di universitas untuk pertama kalinya, yang bernama Makoto. Pendamping adalah mahasiswa jepang yang membantu mahasiswa asing dalam kuliah dan kehidupan sehari-hari.
Hajimemashite. Watashi wa Altan desu. (Nama saya Altan.)
Hajimemashite. Makoto desu. (Nama saya Makoto.)
Makoto memperkenalkan diri sambil membungkukkan badan, jadi saya membalasnya dan mengucapkan.
Yoroshiku onegai shimasu. (Senang berkenalan dengan anda.)
Kochirakoso. Jawab Makoto (Senang berkenalan dengan anda juga.)
Di Jepang saat orang bertemu mereka selalu membungkuk badan, mereka jarang melelakukan jabat tangan. Ini tidak seperti di Indonesia, tadi hampir saja aku mengangkat tangan kananku untuk berjabat tangan ketika Makoto memperkenalkan diri. Dan kami melanjutkan perbincangan.
Makoto-san. Hai, dozo. (Makoto. Ini untuk anda).
Aku memberikan oleh-oleh dari Indonesia, Makoto menerimanya dan bertanya.
Kore wan nan desu ka (Apa ini?)
Sore wa Indonesia no omiyage desu. (Itu adalah oleh-oleh dari Indonesia.)
Arigato gozaimasu. (Terima kasih.)
Doitashimashite. (Terima kasih kembali.)
            Setelah itu kami masuk  ke dalam, bangunan Universitas dijepang sangat luas. Makoto mengajakku berkeliling sekitar dan Makoto memperlihatkan ruang kelas.
                        Koko wa Kyoshitsu desu. (Ini adalah ruang kelas.)
                        Wah, hiroi. (Wah, luas.)
                        Asoko wa Toshokan. (Di sana adalah perpustakaannya.),
Makoto menunjuk ke sebuah bangunan besar, perpustakan yang letaknya cukup jauh dari kelas. Aku mengiakan, Makoto menghilangkan kata ‘desu’ ketika berbicara ‘Asoko wa Toshokan’. Mengucapkan kata ‘desu’ orang akan terdengar lebih sopan, jika dihilangkan kalian akan terdengar lebih santai. Biasanya kata “desu” digunakan di dalam kelas atau di lingkungan bisnis. Jadi kata “desu” adalah kata sopan untuk mengakhiri kalimat. Dan aku bertanya kembali di mana toiletnya.
            Toire wa doko desu ka. (Di mana toiletnya.)
Dan Makoto menjawab.
            Sugu soko desu. (Persis di sana.)
            Toire kata ini berasal dari kata toilet dalam bahasa inggris. Saat orang jepang meminjam kata dari bahasa asing, orang jepang sering memperpendek kata tersebut. Dan mengucapkan dengan khas orang jepang.
            Contohnya seperti television berubah menjadi ‘terebi’.
Lokasi Toilet tidak terlalu jauh dari kelas. Baguslah karena sejak tadi aku ingin ke toilet. Ketika aku bertanya ‘Toire wa doko desu ka’. Makoto memberitahu tempatnya. Kalimat bahasa jepangku dipahami. Sekarang aku bisa pergi kemana saja.
Setelah itu kami pulang, selama saya belajar di Jepang saya tinggal di sebuah Asrama. Dan bersama pendamping Makoto ikut untuk berkunjung. Saat Makoto masuk ke Asrama dan melepas sepatunya, ia membalik arahnya dan meletakkannya dengan rapi di depan pintu masuk. Aku akan melakukannya saat mengunjungi rumah orang nanti.

Dan kami kembali berbincang, Makoto mengatakan ia memiliki impian mengajar bahasa jepang di luar negeri. Dan impianku adalah membaca manga jepang tanpa kendala. Walaupun Makoto mengira aku hanya suka membaca manga, tapi aku serius untuk belajar bahasa jepang. Jadi saya harus belajar keras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar