Altan adalah mahasiswa asing dari
Indonesia. Dan seorang penggemar film animasi jepang. Altan sebelumnya pernah masuk
jurusun bahasa jepang di sebuah Universitas di Jakarta, namun ia ingin belajar
lebih dalam bahasa jepang. Maka ia datang ke Universitas untuk belajar bahasa
Jepang di Tokyo selama satu tahun. Hari
ini ia berjumpa dengan pendampingnya di universitas untuk pertama kalinya, yang
bernama Makoto. Pendamping adalah mahasiswa jepang yang membantu mahasiswa
asing dalam kuliah dan kehidupan sehari-hari.
Hajimemashite. Watashi wa
Altan desu. (Nama saya Altan.)
Hajimemashite. Makoto
desu. (Nama saya Makoto.)
Makoto memperkenalkan diri sambil
membungkukkan badan, jadi saya membalasnya dan mengucapkan.
Yoroshiku onegai shimasu.
(Senang berkenalan dengan anda.)
Kochirakoso. Jawab Makoto
(Senang berkenalan dengan anda juga.)
Di Jepang saat orang bertemu mereka selalu
membungkuk badan, mereka jarang melelakukan jabat tangan. Ini tidak seperti di
Indonesia, tadi hampir saja aku mengangkat tangan kananku untuk berjabat tangan
ketika Makoto memperkenalkan diri. Dan kami melanjutkan perbincangan.
Makoto-san. Hai, dozo.
(Makoto. Ini untuk anda).
Aku memberikan oleh-oleh dari Indonesia,
Makoto menerimanya dan bertanya.
Kore wan nan desu ka (Apa
ini?)
Sore wa Indonesia no
omiyage desu. (Itu adalah oleh-oleh dari Indonesia.)
Arigato gozaimasu.
(Terima kasih.)
Doitashimashite. (Terima
kasih kembali.)
Setelah
itu kami masuk ke dalam, bangunan
Universitas dijepang sangat luas. Makoto mengajakku berkeliling sekitar dan
Makoto memperlihatkan ruang kelas.
Koko
wa Kyoshitsu desu. (Ini adalah ruang kelas.)
Wah,
hiroi. (Wah, luas.)
Asoko
wa Toshokan. (Di sana adalah perpustakaannya.),
Makoto menunjuk ke sebuah bangunan besar,
perpustakan yang letaknya cukup jauh dari kelas. Aku mengiakan, Makoto
menghilangkan kata ‘desu’ ketika berbicara ‘Asoko wa Toshokan’. Mengucapkan
kata ‘desu’ orang akan terdengar lebih sopan, jika dihilangkan kalian akan
terdengar lebih santai. Biasanya kata “desu” digunakan di dalam kelas atau di lingkungan
bisnis. Jadi kata “desu” adalah kata sopan untuk mengakhiri kalimat. Dan aku
bertanya kembali di mana toiletnya.
Toire
wa doko desu ka. (Di mana toiletnya.)
Dan Makoto menjawab.
Sugu
soko desu. (Persis di sana.)
Toire
kata ini berasal dari kata toilet dalam bahasa inggris. Saat orang jepang
meminjam kata dari bahasa asing, orang jepang sering memperpendek kata
tersebut. Dan mengucapkan dengan khas orang jepang.
Contohnya
seperti television berubah menjadi ‘terebi’.
Lokasi Toilet tidak terlalu jauh dari
kelas. Baguslah karena sejak tadi aku ingin ke toilet. Ketika aku bertanya
‘Toire wa doko desu ka’. Makoto memberitahu tempatnya. Kalimat bahasa jepangku
dipahami. Sekarang aku bisa pergi kemana saja.
Setelah itu kami pulang, selama saya
belajar di Jepang saya tinggal di sebuah Asrama. Dan bersama pendamping Makoto
ikut untuk berkunjung. Saat Makoto masuk ke Asrama dan melepas sepatunya, ia
membalik arahnya dan meletakkannya dengan rapi di depan pintu masuk. Aku akan
melakukannya saat mengunjungi rumah orang nanti.
Dan kami kembali berbincang, Makoto
mengatakan ia memiliki impian mengajar bahasa jepang di luar negeri. Dan
impianku adalah membaca manga jepang tanpa kendala. Walaupun Makoto mengira aku
hanya suka membaca manga, tapi aku serius untuk belajar bahasa jepang. Jadi
saya harus belajar keras.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar