Itu dia. Sosok berbadan tegap
dengan pandangan yang selalu lurus ke depan. Sosok yang berjalan cepat tanpa
memedulikan wajah2 manis anak kelas sepuluh yang entah mengapa selalu siap
menebar pesona di taman, kantin dan sepanjang koridor sekolah. Sosok seorang
mantan ketua OSIS yang baru saja melepas jabatannya, senior paling baik yang
nggak pernah jahil ke juniornya. Sosok yang mudah saja kau temui di
perpustakaan dan mushalla. Sosok yang begitu mencintai anak2.Sosok yang
kukagumi selama ini.
Aku yang tengah duduk di tangga segera mengalihkan
pandangan ke buku yang tergeletak di sebelahku, pura-pura berkonsentrasi pada
apa yang kubaca. Yang benar saja, masa iya aku harus tertangkap basah tengah
memperhatikannya?
“Assalaamualaikum.” “Waalaikumussalaam.”Terjadi lagi. Percakapan rutin setiap pagi. Ia yang
tengah berjalan menuju kelasnya, melewati tangga tempat aku (berpura-pura)
belajar. Ia mengucap salam, lalu kujawab. Tanpa ada saling tatap. Tanpa ada
saling melempar senyum, apalagi percakapan yang lebih dari 30 detik. Tapi,
tetap, membuat jantungku kehilangan detak normalnya untuk berdetak.
Aku berjalan sambil membawa
sekardus baju layak pakai yang akan disumbangkan ke panti asuhan. Hari ini,
perwakilan dari SMA tempatku bersekolah akan mengunjungi sebuah panti asuhan
yang terletak di pinggir kota. Dan seperti yang kupikirkan, ia ikut
berpartisipasi dalam kegiatan ini. Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi memikirkannya
seperti ini sih?
Acara pembukaan diisi dengan
pertunjukan dari anak2panti. Mereka tampak begitu ceria. Yah, seandainya saja
tak ada luka karena tak memiliki orangtua, yang tampaknya berhasil mereka
sembunyikan rapat2.Dalam hati aku bersyukur, berterimakasih pada-Nya yang telah
menghadirkan aku di antara orangtua yang lengkap, disertai bonus bahwa mereka
serba berkecukupan.
Tiba-tiba seorang anak panti
mendekatiku. Umurnya kira2 4 atau 5 tahun. Ia memintaku untuk membacakan sebuah
cerita. Aku tersenyum dan mulai membaca, meski masih tak bisa sebagus Ibu panti
saat mendongeng di pembukaan tadi, senangsekali rasanya bisa melihat mata
mereka yang berbinar penasaran. Membuat mereka tersenyum geli dan tertawa.
“Eh kakak itu juga baca
cerita lho!” Seorang anak berseru, dan menunjuk ke suatu titik. Lalu serentak
sekelompok anak yang tadi mendengarkanku berlari ke seorang kakak yang tengah
membacakan kisah sahabat rasul itu. Aku hanya ikut memandangi tujuan anak2 itu
berlari, namun tanpa kuduga, kakak itu tersenyum ke arahku. Dan sudut2 bibirku
pun tertarik begitu saja. Membalas senyumnya, senyum yang selama ini
kuperhatikan diam2.Senyum milik seseorang yang kukagumi. Ya Allah, tak bisakah
Kau membiarkanku menikmati senyumnya setiap hari? Disaat senang dan sedihku, di
pagi dan malamku?
---
Waktu semakin cepat, hari
demi hari terlewati dengan cepat. Tujuh tahun telah berlalu, menyisakan beribu
kenangan, dan berjuta harapan. Jejak kekaguman itu masih ada, memberi warna di
hatiku yang kosong. Ah, jodohku, maafkan aku yang tak bisa sepenuhnya menjaga
hatiku untukmu. Karena ternyata, hati ini masih saja menyimpan setitik kagum
pada seseorang.
Kuliahku selesai tiga tahun lalu. Kini, aku adalah
seorang desainer yang bekerja di sebuah
perusahaan. Dan , yah, masih melajang. Hehehe , entahlah. Aku hanya belum siap
menerima orang lain di hatiku. Lalu bagaimana dengannya? Yang kutau, sosok itu
telah menjadi seorang dokter dan bekerja di sebuah rumah sakit swasta, dan
tengah melanjutkan studi spesialis. Statusnya? Entah, tak menutup kemungkinan
bahwa telah ada seorang wanita yang menemaninya, atau bahkan ditambah seorang
anak yang lucu. Hmm, lagi2 senyumku terkembang begitu saja. Yah, aku hanya bisa
tersenyum mengingat sosok yang kukagumi itu.
Aku mendengar suara ketukan
di pintu kamarku. Saat pintu terbuka, terlihat sosok mama yang tengah tersenyum
lebar masuk. Ah, ekspresi itu lagi. Yang belakangan ini mama tunjukkan saat
ingin mengenalkanku pada seorang laki2.entah anak teman mama atau anak adjudan
bapa.“Mama, Aila kan udah bilang.
Aila belum siap ma,” ucapku. Mama mendecakan lidah. Pura2 kecewa melihat
ekspresinya sudah ditebak.“Udah, turun aja dulu, La! Setidaknya hargailah dia yang sudah meluangkan
waktu datang kesini.” Kata mama kemudian. “Kalo mama jadi kamu sih, mama mau
sama yang ini,” dan senyum jahil terlihat di paras awet muda mama. Ah, mamaku ini, ada2 aja deh. Aku lantas mengganti
pakaian dengan baju yag ‘lebih pantas’ dan mengenakan jilbab seadanya. Hm,
siapa ya? Anak adjudan bapa kah? Atau anak teman arisan mama? Ah, lebih baik
kucari tau sendiri. Aku langsung menuju ruang tamu, dan mendapat bapaku
tersenyum lebar.
“Nah, ini dia Aila. Sini, nak! Ada kabar baik buat
kamu.” Papa menyambutku, dan terlihat seorang pria dengan kedua orangtuanya
ikut berdiri dan tersenyum padaku.
Tunggu. Benarkah itu? Bisakah aku percaya pada penglihatanku
sekarang? Pada sepasang mata yang tengah menangkap bayangan orang yang selalu
dikaguminya. Yang membuat otakku mengirim sinyal ke jantung dan membuatnya
berdetak lebih cepat. Yang membuat senyumku terkembang kalomengingatnya. Atau,
mungkinkah ternyata semua ini khayalku saja? Begitu merindunya, hingga wajah
pria itu terlihat seperti dirinya. Aku membeku di tempat... “Kak Rian?” Bahkan kini lidahku kelu, dan hanya nama
itu yang terucap. Ah, aku mulai mengkhawatirkan tingkat kesadaranku. Jangan2
esok hari aku terbangun dan menemuka diriku terjatuh dari kasur. Namun
ternyata, pria itu justru tersenyum kecil. “Assalaamualaikum, Aila.”Ya Allah, mungkin saja
percakapan yang dulu tak lebih dari tiga puluh detik itu berubah menjadi kisah
indah hingga akhir nafasku nanti? hehehee
Tidak ada komentar:
Posting Komentar