Selasa, 25 Oktober 2016

Kali Kedua −Karya Safirah Hairulnisah

Sinar mentari menelusup ke dalam sebuah ruangan melalui celah jendela yang lupa  ditutup oleh pemiliknya semalam. Disana terdapat seorang pria bertubuh tinggi, berbadan tidak gemuk dan tidak kurus, dengan parasnya yang rupawan masih asyik dengan alam bawah sadarnya. Sean Arya Pratama –nama pria itu− Nampak begitu lelap dan menikmati mimpinya. Bahkan suara alarm yang terdengar cukup nyaring pun tidak membuatnya gusar. Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul 8.15. Padahal, hari ini Sean harus pergi ke kampus pukul 8.30 dengan menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit. Itupun juga macet.
            “Tok! Tok! Tok!” Seseorang mengetuk pintu kamar Sean dari luar. Sean tak kkunjung bangun dari tidurnya.
            “Sean! Cepat bangun, Nak! Sudah hampir jam setengah Sembilan lho.” Suara yang lembut namun tegas dibalik pintu itu akhirnya berhasil membangunkan Sean.
            “Iya, Ma. Sean bangun nih.” Sahut Sean dengan mata masih tertutup.
            “Kamu sudah telat, Nak. Buruan mandi lalu sarapan!” Ibu Sean menginterupsi dan setelah itu beliau beranjak menuju lantai bawah rumahnya.
            Lima menit kemudian, Sean baru benar-benar membuka matanya. Sontak ia terbangun setelah mengetahui tinggal lima menit lagi jam mata kuliahnya dimulai. Sean langsung loncat dari tempat tidurnya dan dengan cepat menuju kamar mandi yang tersedia di dalam kamarnya. Sean mandi dengan tergesa-gesa. Hatinya gelisah mengingat jam kuliahnya pagi ini. Bahagimana tidak? Dosen pengajarnya adalah Pak Tomo. Dosen yang dikenal sebagai dosen killer, sangat disiplin, dan selalu tepat waktu masuk kelas.
            Tiga menit kemudian Sean keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk. Ia segera berpakaian dan memasukkan barang yang ia perlukan ke dalam tasnya. Setelah semuanya selesai, Sean bergegas menuju kampus. Namun, saat sedang terburu-buru menuruni anak tangga, kakinya salah mendarat dan akhirnya terkilir.
            “Akkkkhhh!” Ringisnya pelan. Beruntung kakinya terkilir tidak parah sehingga Sean masih bisa menahannya. Sean melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan rasa sakit akibat terkilir. Rasa sakit itu tidak seberapa disbanding rasa gelisahnya.
            Diruang tamu terlihat Ibu Sean sedang menonton acara televisi. Sean menghampiri Ibu.
            “Bu, aku berangkat, ya.” Sean langsung mencium tangan Ibu dan kemudian pergi. Mengingat Sean sudah benar-benar terlambat.
            “Eh kamu nggak sarapan dulu?”
            “Nggak, bu. Nanti aja di kantin.” Ucapnya. Sean pun menghilang dari pandangan Ibu.
------
Suasana kelas terlihat tertib dan kondusif. Semua mahasiswa memperhatikan dosen yang sedang memberikan materi. Hanya terdengar suara dosen yang nyaring dan juga suara mesin air conditioner dalam ruangan tersebut. Namun tiba-tiba ada seseorang yang memotong pembicaraan dosen itu.
“Emmm… Pe-permisi, Bu Dita” Orang itu berdiri diambang pintu dengan raut wajah agak cemas. Orang itu langsung dihujami belasan pasang mata. Bu Dita melihat jam tangannya.
“Duh malu banget gue. Gimana nih?” Batin orang itu.
“Lian!” Suara nyaring itu berhasil membuat seseorang yang berada di ambang pintu dan baru saja diketahui bernama Lian, agak terkejut.
“Kamu tahu nggak ini jam berapa? Ngapain kamu masih disini? Mending sarapan aja sana di kantin.” Ujar Bu Dita dengan nada suara tenang namun cukup menusuk hati.
Keadaan yang tadinya hening berubah menjadi agak ramai karena mahasiswa di kelas tersebut saling berbisik setelah melihat kejadian tadi. Bu Dita melanjutkan pelajaran dengan menuliskan beberapa kalimat di papan tulis.
“Ta-tapi, Bu saya tadi harus ke rum…” Belum selesai Lian berbicara, Bu Dita memotongnya.
You can attend my class next time. See you. But u have to be on time.” Ucap Bu Dita tanpa menatap Lian.
Lian pun pergi. Jujur ia agak kesal dengan sikap Bu Dita yang sudah membuatnya malu di depan teman-temannya. Tapi ia juga sadar bahwa inilah konsekuensi yang akan ia terima jika telat saat kelas Bu Dita. Lian punya alasan mengapa ia bisa telat. Sebab, ia harus membantu neneknya terlebih dahulu menjual berbagai aneka jajanan pasar di pusat jajanan pasar dekat rumahnya dan hal itu ia lakukan hampir setiap hari.
Langkah kakinya pun membawa Lian menuju taman kampus. Diperjalanan ia teringat sahabatnya dan ia segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Namun Lian terlihat kesulitan menvari ponselnya. Lian berjalan tanpa memperhatikan jalan tapi malah sibuk merogoh-rogoh tasnya. Terjadilah sebuah insiden dimana Lian menabrak seorangg pria. Kaki kanannya tidak sengaja membentur kaki kiri pria itu. Bahkan hampir membuat pria itu tersungkur ke tanah.
Akkkhhh!” Ringis pria itu.
-----
“Aduh apes banget gue, bro. Kesiangan, pagi-pagi udah keseleo aja, trus nggak boleh masuk kelas sama Pak Tomo. Udah kek jangan lagi, Ya Allah.” Sean mencurahkan apa yang sudah ia alami pagi tadi dengan teman seper-genk-annya, Dion dan Raka.
“Liat Rak. Anak teladan mah beda yak. Baru kesiangan satu kali seumur hidupnya.” Dion mengejek dan Raka pun tertawa diatas penderitaan temannya.
“Lah kita mah apa atuh. Kesiangan malah seneng ya, Yon. Jadi nggak usah ikut kelas.” Ucap Raka.
“Gile lu ndro. Emang dah temen banget lu pada.” Sean memukuli kedua temannya itu satu persatu. Namun perlu diketahui ia tidak sungguh-sungguh melakukannya.
“Mendingan lo urusin noh kaki lo. Jadi borok aja baru rasa lo.” Dion menendang pelan kaki Sean yang terkilir.
Shit! Sakit woy! Udah ah gue mau ke ukesma.” Sean beranjak dan kemudian pergi menuju ukesma.
Namun di perjalanan matanya malah fokus ke ponselnya sembari mengingat mimpinya semalam. Mimpi yang begitu indah. Sean didatangi sesosok wanita yang teramat ida rindukan. Mengingat mimpi itu Sean merasa sedikit sedih namun senang. Tiba-tiba Sean menabrak seseorang.
Akkkhhh kaki gue” Sean Nampak begitu kesakitan. Tabrakan tadi mengenai kaki Sean yang terkilir.
“Eh sorry gue nggak lihat tadi.”
Ternyata Sean bertabrakan dengan Lian. Sean terdiam sejenak setelah melihat wajah Lian. Rasanya seperti mimpi bisa melihat wajah itu lagi. Sean tak berkedip saat memandangi wajah Lian. Detak jantungnya menjadi lebih cepat. Bahkan rasa sakit yang baru saja ia rasakan seakan hilang begitu saja. Atau mungkin Sean tidak menyadarinya. Entahlah. Rasanya seperti mimpi saja.
“Jane?” Ucapnya pelan.
“Eh, apa?” Lian kebingungan mendengan Sean menyebut sebuah nama yang bukan namanya. Tapi itu bukanlah hal yang penting sekarang.
“Maaf, tadi aku dengar kamu berteriak menyebut kaki. A-apa kakimu terluka?” Lian terlihat mencemaskan Sean.
Akhirnya Sean tersadar. “Nggak. Gue nggak apa-apa.” Sean melontarkan padangannya kea rah lain.
“Serius?”
“Ya. Gue nggak apa-apa.” Sean meneruskan langkahnya. Kali ini ia tidak bisah menahan rasa kaki yang menyerang kakinya. Jalannya pun agak terpincang-pincang,
Lian yang melihat hal tersebut segera menahan Sean. “Tu-tunggu. Aku nggak yakin kamu baik-baik aja.” Bola mata Lian mengaharh ke Kaki Sean. “Jalanmu pincang. Aku jadi merasa bersalah. Aku mohon ikut denganku dan aku akan mengobati kakimu.” Raut wajah Lian terlihat memohon. Mungkin ia benar-benar merasa bersalah.
Entah apa yang terjadi dengan Sean. Ia mengiyakan permohonan Lian. Sungguh ini agak tidak biasa terjadi. Maklum, Sean selalu menolak ajakan dari wanita-wanita di kampusnya yang tidak begitu akrab dengannya. Cukup banyak wanita yang mendapat penolakan dari Sean dalam berbagai hal. Tidak dipungkiri lagi, Sean menjadi pria yang punya banyak fans walaupun ia bukanlah seorang artis. Pria yang tampan, pintar, ahli dalam banyak olahraga, kapten basket di kampus, dan masih banyak lagi hal darinya yang membuat wanita tertarik.
Lian membantu Sean berjalan. Untung saja keadaannya tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka. Karena jika ramai, mungkin Lian akan menjadi bahan pembicaraan banyak orang terutama para wanita. Beberapa saat kemudian mereka sampai di ukesma. Lian segera mengambil kotak P3K. Lalu melepaskan sepatu Sean yang sebelah kiri. Lian mendapati kaki Sean sudah memar. Lagi-lagi Sean menatap Lian dengan intens tanpa sepengetahuan Lian.
“Apa kakimu baru saja terkilir?” Lian mengambil obat gosok yang berada di kotak P3K.
“Ya.” Jawab Sean tanpa mengalihkan pandangannya terhadap Lian.
Lian mendangak dan mendapati Sean tengah menatapnya. Mungkin ia salah tingkah sebab Lian langsung mengalihkan pandangannya kembali ke kaki Sean yang memar. Kemudian Lian memijat kaki Sean secara perlahan. Terdengan Sean agak merintih kesakitan.
“Kalau mau sembuh, tahan ya.”
Kurang lebih sepuluh menit Lian memijat kaki Sean. Khasiatnya pun langsung bisa dirasakan. Memarnya dan rsa sakitnya berkurang.
“Dengan begini aku udah nggak merasa bersalah lagi. Ya, walaupun rasa sakit di kakimu itu bukan sepebuhhnya salahku, sih. Well. Aku pergi dulu.” Lian membereskan barang-barang yang tadi dipakainya.
“Thank you.” Sean membuang pandangannya ke arah tembok.
Sean bertanya-tanya pada dirinya sendiri. apa maksud dari semua ini? Semalam ia baru saja memimpikan orang yang sangat ia rindukan dan hari ini ia bertemu langsung dengan orang itu. Apakah ini kebetulan? Sean benar-benar butuh penjelasan.
“Ya.” Lian tersenyum. Sangat beruntung Sean sempat melirik Lian saat ia tersenyum. Senyumnya begitu indah. Seperti Déjà vu bagi Sean.
----
            Entah apa yang sedang Tuhan rencanakan. Tapi yang jelas pertemuan Sean dengan Lian seperti obat rindu. Ya. Sean teramat sangat merindukan kekasihnya yang telah pergi sangat jauh. Sean percaya bahwa kekasihnya sedang berbahagia di tempatnya sekarang, yaitu surge. Jane –nama mendiang kekasih Sean− menutup usia 1 tahun lalu akibat kecelakaan yang menimpanya. Sean sangat terpukul atas kematian kekasihnya saat itu. Namun secara perlahan Sean bisa mengikhlaskan kepergian Jane. Ada rasa bahagia yang dirasakan Sean saat bertemu dengan Lian sebab rasa rindunya sedikit terobati dengan melihat wajah Lian yang mirip dengan Jane. Mereka berdua begitu cantik, rambut hitam panjang, postur tubuh yang hampir sama, dan yang begitu mengingatkan Sean dengan Jane adalah tahi lalat kecil tipis di pipi kiri Lian. Disisi lain, Lian membuat Sean menginginkan Jane lagi untuk menemani hari-harinya. Hal itu sunngguh mustahil. Tapi tidak menutup kemungkinan ada Jane lain yang bisa melakukan hal tersebut. Mungkin, Lian akan terus berurusan dengan Sean setelah kejadian itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar