Sinar mentari menelusup ke
dalam sebuah ruangan melalui celah jendela yang lupa ditutup oleh pemiliknya semalam. Disana
terdapat seorang pria bertubuh tinggi, berbadan tidak gemuk dan tidak kurus,
dengan parasnya yang rupawan masih asyik dengan alam bawah sadarnya. Sean Arya
Pratama –nama pria itu− Nampak begitu lelap dan menikmati mimpinya. Bahkan
suara alarm yang terdengar cukup
nyaring pun tidak membuatnya gusar. Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul
8.15. Padahal, hari ini Sean harus pergi ke kampus pukul 8.30 dengan menempuh
perjalanan kurang lebih 20 menit. Itupun juga macet.
“Tok! Tok! Tok!” Seseorang mengetuk pintu
kamar Sean dari luar. Sean tak kkunjung bangun dari tidurnya.
“Sean!
Cepat bangun, Nak! Sudah hampir jam setengah Sembilan lho.” Suara yang lembut
namun tegas dibalik pintu itu akhirnya berhasil membangunkan Sean.
“Iya,
Ma. Sean bangun nih.” Sahut Sean dengan mata masih tertutup.
“Kamu
sudah telat, Nak. Buruan mandi lalu sarapan!” Ibu Sean menginterupsi dan
setelah itu beliau beranjak menuju lantai bawah rumahnya.
Lima
menit kemudian, Sean baru benar-benar membuka matanya. Sontak ia terbangun
setelah mengetahui tinggal lima menit lagi jam mata kuliahnya dimulai. Sean
langsung loncat dari tempat tidurnya dan dengan cepat menuju kamar mandi yang
tersedia di dalam kamarnya. Sean mandi dengan tergesa-gesa. Hatinya gelisah
mengingat jam kuliahnya pagi ini. Bahagimana tidak? Dosen pengajarnya adalah
Pak Tomo. Dosen yang dikenal sebagai dosen killer,
sangat disiplin, dan selalu tepat waktu masuk kelas.
Tiga
menit kemudian Sean keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk. Ia
segera berpakaian dan memasukkan barang yang ia perlukan ke dalam tasnya.
Setelah semuanya selesai, Sean bergegas menuju kampus. Namun, saat sedang
terburu-buru menuruni anak tangga, kakinya salah mendarat dan akhirnya
terkilir.
“Akkkkhhh!” Ringisnya pelan. Beruntung
kakinya terkilir tidak parah sehingga Sean masih bisa menahannya. Sean
melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan rasa sakit akibat terkilir. Rasa
sakit itu tidak seberapa disbanding rasa gelisahnya.
Diruang
tamu terlihat Ibu Sean sedang menonton acara televisi. Sean menghampiri Ibu.
“Bu,
aku berangkat, ya.” Sean langsung mencium tangan Ibu dan kemudian pergi.
Mengingat Sean sudah benar-benar terlambat.
“Eh
kamu nggak sarapan dulu?”
“Nggak,
bu. Nanti aja di kantin.” Ucapnya. Sean pun menghilang dari pandangan Ibu.
------
Suasana kelas terlihat tertib
dan kondusif. Semua mahasiswa memperhatikan dosen yang sedang memberikan
materi. Hanya terdengar suara dosen yang nyaring dan juga suara mesin air
conditioner dalam ruangan tersebut. Namun tiba-tiba ada seseorang yang memotong
pembicaraan dosen itu.
“Emmm… Pe-permisi, Bu Dita”
Orang itu berdiri diambang pintu dengan raut wajah agak cemas. Orang itu
langsung dihujami belasan pasang mata. Bu Dita melihat jam tangannya.
“Duh malu banget gue. Gimana
nih?” Batin orang itu.
“Lian!” Suara nyaring itu
berhasil membuat seseorang yang berada di ambang pintu dan baru saja diketahui
bernama Lian, agak terkejut.
“Kamu tahu nggak ini jam
berapa? Ngapain kamu masih disini? Mending sarapan aja sana di kantin.” Ujar Bu
Dita dengan nada suara tenang namun cukup menusuk hati.
Keadaan yang tadinya hening
berubah menjadi agak ramai karena mahasiswa di kelas tersebut saling berbisik
setelah melihat kejadian tadi. Bu Dita melanjutkan pelajaran dengan menuliskan
beberapa kalimat di papan tulis.
“Ta-tapi, Bu saya tadi harus
ke rum…” Belum selesai Lian berbicara, Bu Dita memotongnya.
“You can attend my class next time. See you. But u have to be on time.”
Ucap Bu Dita tanpa menatap Lian.
Lian pun pergi. Jujur ia agak
kesal dengan sikap Bu Dita yang sudah membuatnya malu di depan teman-temannya.
Tapi ia juga sadar bahwa inilah konsekuensi yang akan ia terima jika telat saat
kelas Bu Dita. Lian punya alasan mengapa ia bisa telat. Sebab, ia harus
membantu neneknya terlebih dahulu menjual berbagai aneka jajanan pasar di pusat
jajanan pasar dekat rumahnya dan hal itu ia lakukan hampir setiap hari.
Langkah kakinya pun membawa
Lian menuju taman kampus. Diperjalanan ia teringat sahabatnya dan ia segera
mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Namun Lian terlihat kesulitan
menvari ponselnya. Lian berjalan tanpa memperhatikan jalan tapi malah sibuk
merogoh-rogoh tasnya. Terjadilah sebuah insiden dimana Lian menabrak seorangg
pria. Kaki kanannya tidak sengaja membentur kaki kiri pria itu. Bahkan hampir
membuat pria itu tersungkur ke tanah.
“Akkkhhh!” Ringis pria itu.
-----
“Aduh apes banget gue, bro.
Kesiangan, pagi-pagi udah keseleo aja, trus nggak boleh masuk kelas sama Pak
Tomo. Udah kek jangan lagi, Ya Allah.” Sean mencurahkan apa yang sudah ia alami
pagi tadi dengan teman seper-genk-annya, Dion dan Raka.
“Liat Rak. Anak teladan mah
beda yak. Baru kesiangan satu kali seumur hidupnya.” Dion mengejek dan Raka pun
tertawa diatas penderitaan temannya.
“Lah kita mah apa atuh.
Kesiangan malah seneng ya, Yon. Jadi nggak usah ikut kelas.” Ucap Raka.
“Gile lu ndro. Emang dah temen
banget lu pada.” Sean memukuli kedua temannya itu satu persatu. Namun perlu
diketahui ia tidak sungguh-sungguh melakukannya.
“Mendingan lo urusin noh kaki
lo. Jadi borok aja baru rasa lo.” Dion menendang pelan kaki Sean yang terkilir.
“Shit! Sakit woy! Udah ah gue mau ke ukesma.” Sean beranjak dan
kemudian pergi menuju ukesma.
Namun di perjalanan matanya
malah fokus ke ponselnya sembari mengingat mimpinya semalam. Mimpi yang begitu
indah. Sean didatangi sesosok wanita yang teramat ida rindukan. Mengingat mimpi
itu Sean merasa sedikit sedih namun senang. Tiba-tiba Sean menabrak seseorang.
“Akkkhhh kaki gue” Sean Nampak begitu kesakitan. Tabrakan tadi
mengenai kaki Sean yang terkilir.
“Eh sorry gue nggak lihat
tadi.”
Ternyata Sean bertabrakan
dengan Lian. Sean terdiam sejenak setelah melihat wajah Lian. Rasanya seperti
mimpi bisa melihat wajah itu lagi. Sean tak berkedip saat memandangi wajah
Lian. Detak jantungnya menjadi lebih cepat. Bahkan rasa sakit yang baru saja ia
rasakan seakan hilang begitu saja. Atau mungkin Sean tidak menyadarinya.
Entahlah. Rasanya seperti mimpi saja.
“Jane?” Ucapnya pelan.
“Eh, apa?” Lian kebingungan
mendengan Sean menyebut sebuah nama yang bukan namanya. Tapi itu bukanlah hal
yang penting sekarang.
“Maaf, tadi aku dengar kamu
berteriak menyebut kaki. A-apa kakimu terluka?” Lian terlihat mencemaskan Sean.
Akhirnya Sean tersadar.
“Nggak. Gue nggak apa-apa.” Sean melontarkan padangannya kea rah lain.
“Serius?”
“Ya. Gue nggak apa-apa.” Sean meneruskan
langkahnya. Kali ini ia tidak bisah menahan rasa kaki yang menyerang kakinya.
Jalannya pun agak terpincang-pincang,
Lian yang melihat hal tersebut
segera menahan Sean. “Tu-tunggu. Aku nggak yakin kamu baik-baik aja.” Bola mata
Lian mengaharh ke Kaki Sean. “Jalanmu pincang. Aku jadi merasa bersalah. Aku
mohon ikut denganku dan aku akan mengobati kakimu.” Raut wajah Lian terlihat
memohon. Mungkin ia benar-benar merasa bersalah.
Entah apa yang terjadi dengan
Sean. Ia mengiyakan permohonan Lian. Sungguh ini agak tidak biasa terjadi.
Maklum, Sean selalu menolak ajakan dari wanita-wanita di kampusnya yang tidak
begitu akrab dengannya. Cukup banyak wanita yang mendapat penolakan dari Sean
dalam berbagai hal. Tidak dipungkiri lagi, Sean menjadi pria yang punya banyak
fans walaupun ia bukanlah seorang artis. Pria yang tampan, pintar, ahli dalam
banyak olahraga, kapten basket di kampus, dan masih banyak lagi hal darinya
yang membuat wanita tertarik.
Lian membantu Sean berjalan. Untung
saja keadaannya tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa pasang mata yang
memperhatikan mereka. Karena jika ramai, mungkin Lian akan menjadi bahan
pembicaraan banyak orang terutama para wanita. Beberapa saat kemudian mereka
sampai di ukesma. Lian segera mengambil kotak P3K. Lalu melepaskan sepatu Sean
yang sebelah kiri. Lian mendapati kaki Sean sudah memar. Lagi-lagi Sean menatap
Lian dengan intens tanpa sepengetahuan Lian.
“Apa kakimu baru saja terkilir?”
Lian mengambil obat gosok yang berada di kotak P3K.
“Ya.” Jawab Sean tanpa
mengalihkan pandangannya terhadap Lian.
Lian mendangak dan mendapati
Sean tengah menatapnya. Mungkin ia salah tingkah sebab Lian langsung
mengalihkan pandangannya kembali ke kaki Sean yang memar. Kemudian Lian memijat
kaki Sean secara perlahan. Terdengan Sean agak merintih kesakitan.
“Kalau mau sembuh, tahan ya.”
Kurang lebih sepuluh menit
Lian memijat kaki Sean. Khasiatnya pun langsung bisa dirasakan. Memarnya dan
rsa sakitnya berkurang.
“Dengan begini aku udah nggak
merasa bersalah lagi. Ya, walaupun rasa sakit di kakimu itu bukan sepebuhhnya
salahku, sih. Well. Aku pergi dulu.” Lian membereskan barang-barang yang tadi
dipakainya.
“Thank you.” Sean membuang
pandangannya ke arah tembok.
Sean bertanya-tanya pada
dirinya sendiri. apa maksud dari semua ini? Semalam ia baru saja memimpikan
orang yang sangat ia rindukan dan hari ini ia bertemu langsung dengan orang
itu. Apakah ini kebetulan? Sean benar-benar butuh penjelasan.
“Ya.” Lian tersenyum. Sangat beruntung
Sean sempat melirik Lian saat ia tersenyum. Senyumnya begitu indah. Seperti Déjà
vu bagi Sean.
----
Entah
apa yang sedang Tuhan rencanakan. Tapi yang jelas pertemuan Sean dengan Lian
seperti obat rindu. Ya. Sean teramat sangat merindukan kekasihnya yang telah
pergi sangat jauh. Sean percaya bahwa kekasihnya sedang berbahagia di tempatnya
sekarang, yaitu surge. Jane –nama mendiang kekasih Sean− menutup usia 1 tahun
lalu akibat kecelakaan yang menimpanya. Sean sangat terpukul atas kematian
kekasihnya saat itu. Namun secara perlahan Sean bisa mengikhlaskan kepergian
Jane. Ada rasa bahagia yang dirasakan Sean saat bertemu dengan Lian sebab rasa
rindunya sedikit terobati dengan melihat wajah Lian yang mirip dengan Jane. Mereka
berdua begitu cantik, rambut hitam panjang, postur tubuh yang hampir sama, dan
yang begitu mengingatkan Sean dengan Jane adalah tahi lalat kecil tipis di pipi
kiri Lian. Disisi lain, Lian membuat Sean menginginkan Jane lagi untuk menemani
hari-harinya. Hal itu sunngguh mustahil. Tapi tidak menutup kemungkinan ada
Jane lain yang bisa melakukan hal tersebut. Mungkin, Lian akan terus berurusan
dengan Sean setelah kejadian itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar