Selasa, 25 Oktober 2016

Menjadi Pemain Sepak Bola Adalah Cita-citaku -Karya Dicky Darmawan

Sepak Bola adalah olahraga kesukaanku , dari kecil aku suka dengan olahraga sepak bola. Dari kecil aku sangat senang apabila ada pertandingan sepak bola di TV. Apabila ada pertandingan sepak bola di TV , aku tidak mau letinggalan dengan acara pertandingan sepak bola tersebut. Dan ketika orang tuaku bertanya , pertama ibuku bertanya kepadaku. “Dicky , ibu ingin bertanya kepadamu. Cita citamu apa?”. Kemudian aku menjawab “Aku bercita cita ingin menjadi pemain sepak bola seperti Bambang Pamungkas , dapat mengharumkan nama Indonesia di layar kaca sepak bola bu”. Kemudian ibuku memberiku saran agar aku tidak bercita cita menjadi pemain sepak bola. Tetapi aku ingin sekali menjadi pemain sepak bola terkenal , aku sangat bersyukur karena ayahku sangat mendukung aku meraih cita cita tersebut.
Sewaktu aku bersekolah SD , SMP , SMA aku selain bersekolah disekolah umum , aku juga bersekolah di sekolah sepakbola. Yang membiayai sekolah sepak bola adalah ayahku karena ia mendukung aku dalam meraih cita cita tersebut dan ayah juga suka dengan sepak bola apalagi aku juga berkeinginan menjadi pemain sepak bola terkenal. Namu ketika aku bersekolah sepak bola , ibuku tidak mengetahuinya kalau aku bergabung dengan sekola sepak bola. Selama aku bersekolah sepak bola ayahku selalu menemaniku dalam latihan maupun kompetisi. Ayahku juga membelikan aku perlengkapan sepak bola untukku , tetapi semua itu ayahku yang menyimpannya dikarenakan aku takut kalau ibu mengetahui aku mempunyai barang barang perlengkapan sepak bola itu. Setiap hari uang jajan sekolahku aku sisihkan dan aku tabung untuk membeli sepatu sepak bola yang aku inginkan. Dan akhirnya keinginanku itu tercapai , sudah banyak sepatu yang aku punya. Namun selama aku bergabung disekolah sepak bola tersebut ibuku selalu menemukan barang barang yang berhubungan dengan sepak bola seperti tas sepatu bola , sepatu sepak bola , kostum sepak bola , dan bola tentunya. Dan ketika ibuku menemukan sepatu sepak bola ditas sekolahku , ibuku pun langsung menanyakan kepadaku dengan wajah yang menurutku ia marah. Ibuku berkata padaku “Dicky , mengapa ada sepatu sepak bola ditas sekolahmu?”. Aku pun menjawab “Iya bu , karena aku pakai sepatu sepak bola itu bu.” Ibuku berkata “Ibu akan buang sepatu ini agar kamu tidak dapat bermain sepak bola lagi!”. Aku hanya bisa terdiam , karena kau tidak mau melawan ibuku.
Selama aku bersekolah sepak bola setaip ada kompetisi aku selalu mengikuti kompetisi tersebut bersama tim sepak bolaku. Sudah banyak piala yang timku raih dan kami juga mendapatkan banyak sertifikat dan piagam penghargaan serta medali dan juga uang tunai. Itu semua adalah kerja keras hasil dari setiap kami latihan dan kami membuktikannya dilapangan , dan ayahku selalu mendoakanku setiap aku ingin mengikuti kompetisi. Dan setiap timku menjuarai kompetisi tersebut kami mendapatkan uang tunai , setiap aku menpatkan uang itu selalu aku tabung uang tersebut. Aku targetkan uang tersebu untuk memberangkatkan orang tuaku untuk pergi haji ke tanah suci Mekkah. Dan ketika uangku sudah terkumpul , aku segera memberi tahu ayah kalau aku ingin memberangkatkan ayah dan ibu untuk pergi haji. Ayahku mendengar kata kata itu ayahku bingung , ia berpikir aku tidak mungkin bisa memberangkatkan ayah dan ibu pergi haji. Kemudian aku berkata pada ayahku bahwa uang yang ada ditabunganku tersebut adalah untuk memberangkatkan ayah dan ibu pergi haji. Aku juga menjelaskan kepada ayahku bahwa aku mendapatkan uang sebanyak itu hasil dari setiap aku menjuarai kompetisi dan aku mendapatkan uang tunai yang aku tabungkan selalu uang itu. Tetapi ayahku tidak berkata kepada ibuku bahwa uang untuk memberangkatkan ayah dan ibu pergi haji adalah hasil  dari aku bermain sepak bola dan menjuarai kompetisi sepak bola. Akhirnya ayah dan ibu pergi haji , dan ketika ayah dan ibu pulang ke Jakarta dan sesampainya ibu dirumah ibu langsungbertanya kepadaku. “Dicky , apa betul uang untuk pergi haji ayah dan ibu itu hasil dari kamu menjuarai kompetisi sepak bola?”. Aku pun menjawab , “Iya bu , maaf selama ini aku bermain sepak bola , bersekolah sepak bola , dan mengikuti kompetisi sepak bola secara diam diam sehingga ibu tidak mengetahuinya. Aku takut ibu marah , aku minta maaf bu. Ibu jangan marah ya sama Dicky”. Ibuku berkata “Ibu tidak marah kepadamu nak , justru ibu bangga padamu karena selama ini ibu melarangmu bermain sepak bola dan tidak menyetujui cita citamu itu yang pernah kamu ucapkan sejak kecil. Tetapi kamu tetap bermain sepak bola dan bisa menabung , dan uangnya kamu pergunakan untuk hal yang sangat mulia nak. Ibu tidak akan melarangmu lagi untuk bermain sepak bola dan ibu mulai sekarang mendukungmu dalam meraih cita citamu itu nak.”


Pada saat itu perasaanku sangat senang karena akhirnya ibu menyetujui keinginanku menjadi pemain sepak bola dan ibu selalu mendoakanku agar aku dapat meraih cita cita itu. Dan ketika aku sudah dewasa berumur 19 tahun aku mengikuti tes seleksi masuk timnas Garuda Indonesia dan tes seleksi masuk club Persija Jakarta. Dan dikedua seleksi tersebut aku berhasil lolos dan aku diterima di tim keduanya. Dan cukup lama aku bergabung dengan kedua tim tersebut aku pun menjadi pemain sepak bola Indonesia terkenal. Dan sekarang aku terkenal di Indonesia dalam bidang olahraga sepak bola dengan penampilan performance ku dalam bermain sepak bola. Akhirnya semua orang Indonesia dapat mengenalku. Hatiku berkata “Kami hanya anak kampung yang mempunyai cita cita tinggi , tetapi kami berusaha meraih cita cita tersebut”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar