Sepak Bola
adalah olahraga kesukaanku , dari kecil aku suka dengan olahraga sepak bola.
Dari kecil aku sangat senang apabila ada pertandingan sepak bola di TV. Apabila
ada pertandingan sepak bola di TV , aku tidak mau letinggalan dengan acara
pertandingan sepak bola tersebut. Dan ketika orang tuaku bertanya , pertama
ibuku bertanya kepadaku. “Dicky , ibu ingin bertanya kepadamu. Cita citamu
apa?”. Kemudian aku menjawab “Aku bercita cita ingin menjadi pemain sepak bola
seperti Bambang Pamungkas , dapat mengharumkan nama Indonesia di layar kaca
sepak bola bu”. Kemudian ibuku memberiku saran agar aku tidak bercita cita
menjadi pemain sepak bola. Tetapi aku ingin sekali menjadi pemain sepak bola
terkenal , aku sangat bersyukur karena ayahku sangat mendukung aku meraih cita
cita tersebut.
Sewaktu aku
bersekolah SD , SMP , SMA aku selain bersekolah disekolah umum , aku juga
bersekolah di sekolah sepakbola. Yang membiayai sekolah sepak bola adalah
ayahku karena ia mendukung aku dalam meraih cita cita tersebut dan ayah juga
suka dengan sepak bola apalagi aku juga berkeinginan menjadi pemain sepak bola
terkenal. Namu ketika aku bersekolah sepak bola , ibuku tidak mengetahuinya
kalau aku bergabung dengan sekola sepak bola. Selama aku bersekolah sepak bola
ayahku selalu menemaniku dalam latihan maupun kompetisi. Ayahku juga membelikan
aku perlengkapan sepak bola untukku , tetapi semua itu ayahku yang menyimpannya
dikarenakan aku takut kalau ibu mengetahui aku mempunyai barang barang
perlengkapan sepak bola itu. Setiap hari uang jajan sekolahku aku sisihkan dan
aku tabung untuk membeli sepatu sepak bola yang aku inginkan. Dan akhirnya
keinginanku itu tercapai , sudah banyak sepatu yang aku punya. Namun selama aku
bergabung disekolah sepak bola tersebut ibuku selalu menemukan barang barang
yang berhubungan dengan sepak bola seperti tas sepatu bola , sepatu sepak bola
, kostum sepak bola , dan bola tentunya. Dan ketika ibuku menemukan sepatu
sepak bola ditas sekolahku , ibuku pun langsung menanyakan kepadaku dengan
wajah yang menurutku ia marah. Ibuku berkata padaku “Dicky , mengapa ada sepatu
sepak bola ditas sekolahmu?”. Aku pun menjawab “Iya bu , karena aku pakai
sepatu sepak bola itu bu.” Ibuku berkata “Ibu akan buang sepatu ini agar kamu
tidak dapat bermain sepak bola lagi!”. Aku hanya bisa terdiam , karena kau
tidak mau melawan ibuku.
Selama aku
bersekolah sepak bola setaip ada kompetisi aku selalu mengikuti kompetisi
tersebut bersama tim sepak bolaku. Sudah banyak piala yang timku raih dan kami
juga mendapatkan banyak sertifikat dan piagam penghargaan serta medali dan juga
uang tunai. Itu semua adalah kerja keras hasil dari setiap kami latihan dan
kami membuktikannya dilapangan , dan ayahku selalu mendoakanku setiap aku ingin
mengikuti kompetisi. Dan setiap timku menjuarai kompetisi tersebut kami
mendapatkan uang tunai , setiap aku menpatkan uang itu selalu aku tabung uang
tersebut. Aku targetkan uang tersebu untuk memberangkatkan orang tuaku untuk
pergi haji ke tanah suci Mekkah. Dan ketika uangku sudah terkumpul , aku segera
memberi tahu ayah kalau aku ingin memberangkatkan ayah dan ibu untuk pergi
haji. Ayahku mendengar kata kata itu ayahku bingung , ia berpikir aku tidak
mungkin bisa memberangkatkan ayah dan ibu pergi haji. Kemudian aku berkata pada
ayahku bahwa uang yang ada ditabunganku tersebut adalah untuk memberangkatkan
ayah dan ibu pergi haji. Aku juga menjelaskan kepada ayahku bahwa aku
mendapatkan uang sebanyak itu hasil dari setiap aku menjuarai kompetisi dan aku
mendapatkan uang tunai yang aku tabungkan selalu uang itu. Tetapi ayahku tidak
berkata kepada ibuku bahwa uang untuk memberangkatkan ayah dan ibu pergi haji
adalah hasil dari aku bermain sepak bola
dan menjuarai kompetisi sepak bola. Akhirnya ayah dan ibu pergi haji , dan
ketika ayah dan ibu pulang ke Jakarta dan sesampainya ibu dirumah ibu
langsungbertanya kepadaku. “Dicky , apa betul uang untuk pergi haji ayah dan
ibu itu hasil dari kamu menjuarai kompetisi sepak bola?”. Aku pun menjawab ,
“Iya bu , maaf selama ini aku bermain sepak bola , bersekolah sepak bola , dan
mengikuti kompetisi sepak bola secara diam diam sehingga ibu tidak
mengetahuinya. Aku takut ibu marah , aku minta maaf bu. Ibu jangan marah ya
sama Dicky”. Ibuku berkata “Ibu tidak marah kepadamu nak , justru ibu bangga
padamu karena selama ini ibu melarangmu bermain sepak bola dan tidak menyetujui
cita citamu itu yang pernah kamu ucapkan sejak kecil. Tetapi kamu tetap bermain
sepak bola dan bisa menabung , dan uangnya kamu pergunakan untuk hal yang
sangat mulia nak. Ibu tidak akan melarangmu lagi untuk bermain sepak bola dan
ibu mulai sekarang mendukungmu dalam meraih cita citamu itu nak.”
Pada saat
itu perasaanku sangat senang karena akhirnya ibu menyetujui keinginanku menjadi
pemain sepak bola dan ibu selalu mendoakanku agar aku dapat meraih cita cita
itu. Dan ketika aku sudah dewasa berumur 19 tahun aku mengikuti tes seleksi
masuk timnas Garuda Indonesia dan tes seleksi masuk club Persija Jakarta. Dan
dikedua seleksi tersebut aku berhasil lolos dan aku diterima di tim keduanya.
Dan cukup lama aku bergabung dengan kedua tim tersebut aku pun menjadi pemain
sepak bola Indonesia terkenal. Dan sekarang aku terkenal di Indonesia dalam
bidang olahraga sepak bola dengan penampilan performance ku dalam bermain sepak
bola. Akhirnya semua orang Indonesia dapat mengenalku. Hatiku berkata “Kami
hanya anak kampung yang mempunyai cita cita tinggi , tetapi kami berusaha
meraih cita cita tersebut”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar