Disusun Oleh: Safirah Hairulnisah
Cerpen berjudul “Iringan Piano Berdarah” karya Rafida
Salma menceritakan kehidupan sebuah keluarga yang awalnya tentram dan harmonis
mengalami terror dari sesosok hantu anak kecil. Singkat cerita terror itu bermula
dari terjadinya insiden dimana sebuah truk menabrak anak kecil hingga terpental
dan akhirnya tewas. Pada saat itu keluarga tersebut tidak berada di rumah. Kemudian
roh anak kecil itu bergentayangan dan meneror salah satu keluarga yang tinggal
di sekitar tempat terjadinya insiden. Kanzia, tokoh utama dalam cerpen
tersebut, adalah orang yang pertama kali menyadari kehadiran sosok hantu anak
kecil yang diketahui bernama Nabila. Nabila kerap kali memunculkan diri seraya
memainkan piano dirumah itu dan mengobrak-abrik rumah serta melukai Kanzia. Kanzia
pun bercerita pada Ibunya bahwa dirumah mereka terdapat sesosok hantu. Namun,
sang Ibu tidak mempercayai perkataan anaknya. Ternyata jasad Nabila masih
berada di halaman rumah keluarga Kanzia dan Nabila menganggap bahwa manusia itu
jahat. Sebab ia mati secara tragis disebabkan manusia. Setelah jasad Nabila
dikuburkan, ia malah ingin membawa Kanzia dan Ibunya dalam maut. Namun niat
Nabila berubah dengan membunuh supir truk yang menabraknya. Nabila pun
mengucapkan terimakasih pada Kanzia dan Ibunya.
Dalam cerpen ini, pengarang menggambarkan watak tokoh
Kanzia yang cukup berani dan tegar ketika mengalami teror hantu selama satu
minggu. Kemudian tokoh Ibu digambarkan sebagai seseorang yang tidak begitu
percaya hantu. Namun pada akhirnya Ibu percaya setelah melihatnya dengan mata
kepala sendiri.
Cerpen ini juga menggambarkan bagaimana manusia tidak
bertanggung jawab atas perbuatannya. Digambarkan dengan tabrak lari. Supir truk
lari begitu saja setelah menabrak seorang anak kecil hingga tewas. Memang, jika
dipikir sangat jarang manusia yang bersedia menjebloskan diri ke lubang hitam
sehingga lari dari kenyataanlah yang dipilih. Tapi, sesungguhnya hal ini salah.
Kelebihan dari cerpen ini adalah bahasanya yang mudah
dimengerti oleh pembaca. Penggunaan makna konotasi tidak banyak. Jadi pengarang
menceritakan tiap kejadian dengan gambling. Kita juga bisa menemukan nilai-nilai
yang dapat dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.
Disamping kelebihannya, ada beberapa hal yang saya anggap
kurang masuk akal dan hal ini pula yang menjadi kekurangan cerpen ini. Pengarang
kurang menceritakan dengan jelas beberapa peristiwa. Seperti pada kutipan
berikut ini.
“Malam itu, tepat saat bulan purnama muncul. Terlihat sebuah
truk besar melaju amat kencang ke arah seorang anak kecil yang tengah berada di
jalan mawar. Tanpa menunggu waktu lama, hanya dengan hitungan detik truk besar
itu telah merelakan nyawa seorang anak kecil terbang melayang dengan amat
sia-sia. Kejadian itu di akhiri dengan hujan yang sangat deras”
Berdasarkan kutipan diatas, muncul beberapa pertanyaan
yang mengacu pada anak kecil dalam cerita. Mengapa anak kecil itu bisa berada
di jalan mawar pada malam hari? Apakah anak kecil itu berada disana sendirian? Apakah
di jalan mawar itu tidak ada satu orang pun sehingga tidak ada yang mengetahui
kecelakaan itu? Agak disayangkan karena penulis tidak menceritakannya dengan
cukup detail. Pembaca pun merasa agak janggal dengan ceritanya.
Selain itu kejanggalan juga terdapat pada saat hantu anak
kecil berkata bahwa jasadnya masih ada disekitar rumah. Jasadnya ditemukan di
halaman rumah Kanzia dengan keadaan berlumuran darah juga sudah dihinggapi
rayap dan belatung. Jasad tersebut baru diketemukan seminggu setelah
kecelakaan. Yang menjadi tidak masuk akal yaitu jasad yang baru bisa ditemukan
setelah satu minggu berlalu. Seharusnya, jika jasad berada di halaman rumah,
sangat mudah untuk menemukannya. Toh jasad itu pasti akan mengeluarkan bau
busuk yang sangat menyengat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar