Selasa, 08 November 2016

Kritik Cerpen “Iringan Piano Berdarah” Karya Rafida Salma

Disusun Oleh: Safirah Hairulnisah



            Cerpen berjudul “Iringan Piano Berdarah” karya Rafida Salma menceritakan kehidupan sebuah keluarga yang awalnya tentram dan harmonis mengalami terror dari sesosok hantu anak kecil. Singkat cerita terror itu bermula dari terjadinya insiden dimana sebuah truk menabrak anak kecil hingga terpental dan akhirnya tewas. Pada saat itu keluarga tersebut tidak berada di rumah. Kemudian roh anak kecil itu bergentayangan dan meneror salah satu keluarga yang tinggal di sekitar tempat terjadinya insiden. Kanzia, tokoh utama dalam cerpen tersebut, adalah orang yang pertama kali menyadari kehadiran sosok hantu anak kecil yang diketahui bernama Nabila. Nabila kerap kali memunculkan diri seraya memainkan piano dirumah itu dan mengobrak-abrik rumah serta melukai Kanzia. Kanzia pun bercerita pada Ibunya bahwa dirumah mereka terdapat sesosok hantu. Namun, sang Ibu tidak mempercayai perkataan anaknya. Ternyata jasad Nabila masih berada di halaman rumah keluarga Kanzia dan Nabila menganggap bahwa manusia itu jahat. Sebab ia mati secara tragis disebabkan manusia. Setelah jasad Nabila dikuburkan, ia malah ingin membawa Kanzia dan Ibunya dalam maut. Namun niat Nabila berubah dengan membunuh supir truk yang menabraknya. Nabila pun mengucapkan terimakasih pada Kanzia dan Ibunya.
            Dalam cerpen ini, pengarang menggambarkan watak tokoh Kanzia yang cukup berani dan tegar ketika mengalami teror hantu selama satu minggu. Kemudian tokoh Ibu digambarkan sebagai seseorang yang tidak begitu percaya hantu. Namun pada akhirnya Ibu percaya setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri.
            Cerpen ini juga menggambarkan bagaimana manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Digambarkan dengan tabrak lari. Supir truk lari begitu saja setelah menabrak seorang anak kecil hingga tewas. Memang, jika dipikir sangat jarang manusia yang bersedia menjebloskan diri ke lubang hitam sehingga lari dari kenyataanlah yang dipilih. Tapi, sesungguhnya hal ini salah.
            Kelebihan dari cerpen ini adalah bahasanya yang mudah dimengerti oleh pembaca. Penggunaan makna konotasi tidak banyak. Jadi pengarang menceritakan tiap kejadian dengan gambling. Kita juga bisa menemukan nilai-nilai yang dapat dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.
            Disamping kelebihannya, ada beberapa hal yang saya anggap kurang masuk akal dan hal ini pula yang menjadi kekurangan cerpen ini. Pengarang kurang menceritakan dengan jelas beberapa peristiwa. Seperti pada kutipan berikut ini.
            “Malam itu, tepat saat bulan purnama muncul. Terlihat sebuah truk besar melaju amat kencang ke arah seorang anak kecil yang tengah berada di jalan mawar. Tanpa menunggu waktu lama, hanya dengan hitungan detik truk besar itu telah merelakan nyawa seorang anak kecil terbang melayang dengan amat sia-sia. Kejadian itu di akhiri dengan hujan yang sangat deras”
            Berdasarkan kutipan diatas, muncul beberapa pertanyaan yang mengacu pada anak kecil dalam cerita. Mengapa anak kecil itu bisa berada di jalan mawar pada malam hari? Apakah anak kecil itu berada disana sendirian? Apakah di jalan mawar itu tidak ada satu orang pun sehingga tidak ada yang mengetahui kecelakaan itu? Agak disayangkan karena penulis tidak menceritakannya dengan cukup detail. Pembaca pun merasa agak janggal dengan ceritanya.
            Selain itu kejanggalan juga terdapat pada saat hantu anak kecil berkata bahwa jasadnya masih ada disekitar rumah. Jasadnya ditemukan di halaman rumah Kanzia dengan keadaan berlumuran darah juga sudah dihinggapi rayap dan belatung. Jasad tersebut baru diketemukan seminggu setelah kecelakaan. Yang menjadi tidak masuk akal yaitu jasad yang baru bisa ditemukan setelah satu minggu berlalu. Seharusnya, jika jasad berada di halaman rumah, sangat mudah untuk menemukannya. Toh jasad itu pasti akan mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat.


             
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar