Sejuk pagi merasuk jiwa, juga hawa dingin yang menusuk
sampai ke tulangnya. Alunan musik Beautiful Things milik Tori Kelly ditambah
hujan, membuat gadis bernama Arletta Prisillia yang baru saja makan jeruk enggan
beranjak dari tempatnya.
Bayang – bayang masa lalunya kembali terlintas.
Di kala matahari
meredup dan mendung menghiasi akhir pekannya. Hatinya pundung, ingin sekali ia
berlari ke arah Gellar dan berhambur kepadanya. Namun pikiran itu segera ia
tepis. Gellar berada jauh dari jangkauannya, meski matanya tengah bertemu tepat
di manik.
Laki-laki itu terlihat
memakai lingkaran emas di jari manisnya.
“Gellar, aku rindu” ujarnya.
Bukannya Gellar
diam saja, akan tetapi Letta mengatakan hal itu dalam hati dan Gelllar tentu
saja tak mampu mendengarnya.
“Aku pergi dulu ya Let. See you
letter” kemudian ia mengendarai Maybach hitamnya dan menghilang di tikungan
itu.
“Hati – hati Lar” lirihnya.
***
Sabtu pagi ini
Letta meminta Gellar untuk menemaninya membeli novel. Bukan sekedar membunuh
rasa bosan, namun untuk menghabiskan satu hari ini bersama Gellar.
“Letta, aku engga bisa nemenin kamu
nyari novel. Aku udah ada janji sama Aura”
“Oke Lar, lain kali aja ga pa pa”
pancaran sinar matanya meredup.
“Sori ya Let” sambil ia mengusap
puncak kepala Letta dan pergi.
Tidak masalah jika
Letta harus pergi ke toko buku sendiri. Pasalnya Gellar hanya menginap seminggu
di sini dan akan kembali lagi ke Yogja. Dan ia ingin Gellar menemaninya,
setidaknya mencari novel bersamanya adalah hal yang paling ia tunggu – tunggu.
Dengan enggan ia
pun tetap pergi ke toko buku seorang diri.
Matanya terus
melihat ke arah sepatunya yang berjalan beriringan, bergantian. Ia menghitung
setiap langkahnya karena tak ada kegiatan lain. Tepat pada hitungan ke dua
puluh delapan seseorang menabraknya.
“Sori ga sengaja” Letta yang malas
menatap seseorang yang menabraknya tadi langsung melanjutkan perjalanannya.
Namun setelah satu langkah, laki – laki itu memanggil namanya.
“Letta?” panggil seseorang yang
ternyata adalah Kelvin, teman sekolahnya.
“Eh?” Letta menoleh dan mendapati
Kelvin yang sedang menatapnya.
“Mau kemana Let?”
Letta nampak berfikir sebentar “Nyari
novel”
“Ikut boleh?” tanya Kelvin ragu
Pertanyaan Kelvin
hanya dijawab dengan anggukan oleh Letta. Entah mengapa Letta sedang malas
berbicara. Tak jarang ia menutup telinganya dari keadaan sekitar hanya untuk
menenangkan pikirannya.
Mereka memang
terlihat sedang berjalan bersama, namun sebenarnya mereka bergelut dengan
pikirannya masing – masing.
Setelah beberapa
menit mereka berjalan, sampailah mereka disebuah toko buku yang terlihat sudah
tua karena cat temboknya yang belum diganti. Kelvin maju satu langkah untuk
membukakan pintu untuk Letta.
“Makasih” ujarnya yang terdengar
seperti gumaman.
Tak sedikit novel yang sudah ia
lihat, tapi tak satupun yang menarik perhatiannya. Sampai – sampai ia lupa
dengan siapa ia datang kemari.
“Let,” panggilan itu sontak
mengagetkan Letta, merasa tak enak Kelvin meminta maaf.
“Sori, tapi ini udah sore. Diluar
mendung”
“Eh? Iya sori kelamaan. Yuk pulang
aja”
Dahi Kelvin berkerut “Novelnya engga
jadi?”
Menyadari sesuatu Letta berkata,
“Mungkin lain kali, yang sekarang engga ada yang seru”dan mereka berjalan
keluar dari tempat itu.
Ditengah
perjalanan, Letta tak sengaja melihat seseorang yang sejak lama ia harapkan
sedang berada di salah satu meja makan bersama… seorang wanita.
Seorang wanita?
“Siapa?” batin Letta.
Matanya terasa
panas dikala Gellar terlihat bagitu bahagia. Dera tawanya menampilkan deretan
gigi putih yang rapi. Lawan bicaranya menutup sebagian wajahnya yang terlihat
memerah menahan malu. Tak lama tangan kekar itu menjulur dan mengusap puncak
kepala sang wanita.
Tidak, ia tidak
boleh melihat kejadian ini. Dengan segera ia membalikkan badan dan berniat
kembali ke toko buku.
“Letta” panggil Kelvin yang bingung
dengan sikap Letta.
“Duluan aja Vin, gua berubah pikiran”
dengan jawaban asal dan langkah tergesa Letta meninggalkan Kelvin.
***
Hujan yang
mengguyur daerah Bandung ini semakin deras. Ponsel milik Letta yang sengaja ia
tinggal di kamar membuat Gellar sangat panilk. Ia bahkan sudah mengunjungi toko
buku yang tadi sempat Letta beritahu, namun nihil, Letta tidak ada disana.
Gellar memperhatikan setiap sudut
jalan, jikalau Letta sedang berjalan sendiri.
“Letta, kenapa belom pulang – pulang
sih?” tangganya mengacak rambut frustasi.
Decitan pintu rumah Letta terbuka,
sedetik kemudian wajah Letta menyembul dari balik pintu.
“LETTA!” teriak Gellar sambil berlari
kearahnya dan berhambur.
“Kemana aja sih? Ini...” ucapannya
berhenti karena menyadari Letta basah kuyup.
Dengan sayu Letta menatap kedua mata
Gellar “Beli novel” dan menyodorkan sekantung plastik putih itu kepada Gellar.
“Kenapa engga nunggu Gellar aja? Kan
nanti Gellar anter” ujarnya tidak sepenuhnya benar,
“Udah ah Letta capek Lar, mau
istirahat”
“Oh iya. Ya udah sana ganti baju
terus tidur” ujar Gellar lalu pergi meninggalkan Letta.
***
Rencananya, hari
ini Gellar mengajak Letta untuk pergi ke puncak. Tentu tanpa sepengetahuan
Aura, tunangannya. Gellar ingin satu hari ini, ia habiskan bersama Letta.
Karena ia sudah tidak punya waktu lagi untuk membagi kisahnya pada Letta.
Tahun – tahun
sudah berlalu, tak terasa mereka sudah dewasa. Kisah mereka saat SMA masih
sangat melekat. Benar, waktu berjalan begitu cepat.
Terik matahari membuat Letta terkulai
lemas. “Lar, panas banget nih”.
Gellar melirik wajah Letta sekilas
dari kaca spion, “Bentar lagi sampai”
Terpaan angin yang
semakin kencang membuat Letta memejamkan matanya. Mengingat kenangannya bersama
Gellar sungguh menyenangkan. Banyak hal – hal yang tidak mudah ia lupakan
begitu saja.
Gold memories.
Begitulah ia sebut. Senang sedih ia lewati bersama Gellar. Sikap usil dan jahil
yang paling sering Letta rindukan dari seorang Gellar Antonio.
Gellar begitu
mengenalnya, mungkin melebihi Letta mengenal dirinya sendiri. Mereka terlihat
kompak dalam suatu waktu karena saling melengkapi satu sama lain.
“Let?”
Suara Gellar yang tidak begitu keras
mampu membuyarkan pikiran Letta “Eh?”
“Udah sampai”
Kemudian mereka turun
dan berjalan menyusuri bukit. Rasa lelah dan panas yang mereka alami tadi
semakin surut karena diatas sana sangat gelap. Pertanda akan ada hujan lebat.
Namun hal itu tidak membuat keduanya untuk berteduh sekedar istirahat.
“Let, pulang aja yuk. Udah mau ujan”
tanya Gellar.
“Sekarang?” raut wajah sang gadis
berubah masam.
“Iya, ga pa pa kan? Nanti keujanan”
derai senyum Gellar sangat kentara.
“Oke” Letta mengangguk dan berjalan
mengikuti langkah Gellar.
Di luar perkiraan
mereka. Hujan turun satu jam lebih awal. Berniat untuk lebih cepat sampai,
Gellar menambah kecepatan NCR Leggera-nya. Jalanan yang licin serta curam itu
bisa membuat kendaraan yang lewat itu tergelincir. Letta sudah memperingatkan
Gellar berkali – kali untuk mengurangi kecepatannya, namun Gellar tetap
bersikeras. Ia tak ingin Letta sakit karena ulahnya.
Lampu kendaraan
yang silau dan juga helm full face membuat Gellar tidak bisa dengan jelas
melihat dan sulit untuk menyeimbangkan motornya. Dan… kedua remaja itu
terpental dari motor yang mereka kendarai. Darah segar mengalir dari kepala
sang laki – laki dan sang gadis? Ia tak sadarkan diri.
Air mata gadis itu terjatuh untuk yang kesekian
kalinya. Kehilangan seorang Gellar-orang terdekatnya- adalah hal yang ia benci.
Menurutnya tidak ada yang penting lagi di dunia ini. Naif memang jika ia tidak
membenarkan hal itu. Tidak ada lagi kebahagiaan dalam jiwanya. Hanya ada tangis
dan luka yang bersarang.
--- END ---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar