Selasa, 25 Oktober 2016

Adore You -Karya Juliana Indah P


Sejuk pagi merasuk jiwa, juga hawa dingin yang menusuk sampai ke tulangnya. Alunan musik Beautiful Things milik Tori Kelly ditambah hujan, membuat gadis bernama Arletta Prisillia yang baru saja makan jeruk enggan beranjak dari tempatnya.
Bayang – bayang masa lalunya kembali terlintas.
Di kala matahari meredup dan mendung menghiasi akhir pekannya. Hatinya pundung, ingin sekali ia berlari ke arah Gellar dan berhambur kepadanya. Namun pikiran itu segera ia tepis. Gellar berada jauh dari jangkauannya, meski matanya tengah bertemu tepat di manik.
Laki-laki itu terlihat memakai lingkaran emas di jari manisnya.
“Gellar, aku rindu” ujarnya.
Bukannya Gellar diam saja, akan tetapi Letta mengatakan hal itu dalam hati dan Gelllar tentu saja tak mampu mendengarnya.
“Aku pergi dulu ya Let. See you letter” kemudian ia mengendarai Maybach hitamnya dan menghilang di tikungan itu.
“Hati – hati Lar” lirihnya.
***
Sabtu pagi ini Letta meminta Gellar untuk menemaninya membeli novel. Bukan sekedar membunuh rasa bosan, namun untuk menghabiskan satu hari ini bersama Gellar.
“Letta, aku engga bisa nemenin kamu nyari novel. Aku udah ada janji sama Aura”
“Oke Lar, lain kali aja ga pa pa” pancaran sinar matanya meredup.
“Sori ya Let” sambil ia mengusap puncak kepala Letta dan pergi.
Tidak masalah jika Letta harus pergi ke toko buku sendiri. Pasalnya Gellar hanya menginap seminggu di sini dan akan kembali lagi ke Yogja. Dan ia ingin Gellar menemaninya, setidaknya mencari novel bersamanya adalah hal yang paling ia tunggu – tunggu.
Dengan enggan ia pun tetap pergi ke toko buku seorang diri.
Matanya terus melihat ke arah sepatunya yang berjalan beriringan, bergantian. Ia menghitung setiap langkahnya karena tak ada kegiatan lain. Tepat pada hitungan ke dua puluh delapan seseorang menabraknya.
“Sori ga sengaja” Letta yang malas menatap seseorang yang menabraknya tadi langsung melanjutkan perjalanannya. Namun setelah satu langkah, laki – laki itu memanggil namanya.
“Letta?” panggil seseorang yang ternyata adalah Kelvin, teman sekolahnya.
“Eh?” Letta menoleh dan mendapati Kelvin yang sedang menatapnya.
“Mau kemana Let?”
Letta nampak berfikir sebentar “Nyari novel”
“Ikut boleh?” tanya Kelvin ragu
Pertanyaan Kelvin hanya dijawab dengan anggukan oleh Letta. Entah mengapa Letta sedang malas berbicara. Tak jarang ia menutup telinganya dari keadaan sekitar hanya untuk menenangkan pikirannya.
Mereka memang terlihat sedang berjalan bersama, namun sebenarnya mereka bergelut dengan pikirannya masing – masing.
Setelah beberapa menit mereka berjalan, sampailah mereka disebuah toko buku yang terlihat sudah tua karena cat temboknya yang belum diganti. Kelvin maju satu langkah untuk membukakan pintu untuk Letta.
“Makasih” ujarnya yang terdengar seperti gumaman.
Tak sedikit novel yang sudah ia lihat, tapi tak satupun yang menarik perhatiannya. Sampai – sampai ia lupa dengan siapa ia datang kemari.
“Let,” panggilan itu sontak mengagetkan Letta, merasa tak enak Kelvin meminta maaf.
“Sori, tapi ini udah sore. Diluar mendung”
“Eh? Iya sori kelamaan. Yuk pulang aja”
Dahi Kelvin berkerut “Novelnya engga jadi?”
Menyadari sesuatu Letta berkata, “Mungkin lain kali, yang sekarang engga ada yang seru”dan mereka berjalan keluar dari tempat itu.
Ditengah perjalanan, Letta tak sengaja melihat seseorang yang sejak lama ia harapkan sedang berada di salah satu meja makan bersama… seorang wanita.
Seorang wanita?
“Siapa?” batin Letta.
Matanya terasa panas dikala Gellar terlihat bagitu bahagia. Dera tawanya menampilkan deretan gigi putih yang rapi. Lawan bicaranya menutup sebagian wajahnya yang terlihat memerah menahan malu. Tak lama tangan kekar itu menjulur dan mengusap puncak kepala sang wanita.
Tidak, ia tidak boleh melihat kejadian ini. Dengan segera ia membalikkan badan dan berniat kembali ke toko buku.
“Letta” panggil Kelvin yang bingung dengan sikap Letta.
“Duluan aja Vin, gua berubah pikiran” dengan jawaban asal dan langkah tergesa Letta meninggalkan Kelvin.
***
Hujan yang mengguyur daerah Bandung ini semakin deras. Ponsel milik Letta yang sengaja ia tinggal di kamar membuat Gellar sangat panilk. Ia bahkan sudah mengunjungi toko buku yang tadi sempat Letta beritahu, namun nihil, Letta tidak ada disana.
Gellar memperhatikan setiap sudut jalan, jikalau Letta sedang berjalan sendiri.
“Letta, kenapa belom pulang – pulang sih?” tangganya mengacak rambut frustasi.
Decitan pintu rumah Letta terbuka, sedetik kemudian wajah Letta menyembul dari balik pintu.
“LETTA!” teriak Gellar sambil berlari kearahnya dan berhambur.
“Kemana aja sih? Ini...” ucapannya berhenti karena menyadari Letta basah kuyup.
Dengan sayu Letta menatap kedua mata Gellar “Beli novel” dan menyodorkan sekantung plastik putih itu kepada Gellar.
“Kenapa engga nunggu Gellar aja? Kan nanti Gellar anter” ujarnya tidak sepenuhnya benar,
“Udah ah Letta capek Lar, mau istirahat”
“Oh iya. Ya udah sana ganti baju terus tidur” ujar Gellar lalu pergi meninggalkan Letta.
***
Rencananya, hari ini Gellar mengajak Letta untuk pergi ke puncak. Tentu tanpa sepengetahuan Aura, tunangannya. Gellar ingin satu hari ini, ia habiskan bersama Letta. Karena ia sudah tidak punya waktu lagi untuk membagi kisahnya pada Letta.
Tahun – tahun sudah berlalu, tak terasa mereka sudah dewasa. Kisah mereka saat SMA masih sangat melekat. Benar, waktu berjalan begitu cepat.
Terik matahari membuat Letta terkulai lemas. “Lar, panas banget nih”.
Gellar melirik wajah Letta sekilas dari kaca spion, “Bentar lagi sampai”
Terpaan angin yang semakin kencang membuat Letta memejamkan matanya. Mengingat kenangannya bersama Gellar sungguh menyenangkan. Banyak hal – hal yang tidak mudah ia lupakan begitu saja.
Gold memories. Begitulah ia sebut. Senang sedih ia lewati bersama Gellar. Sikap usil dan jahil yang paling sering Letta rindukan dari seorang Gellar Antonio.
Gellar begitu mengenalnya, mungkin melebihi Letta mengenal dirinya sendiri. Mereka terlihat kompak dalam suatu waktu karena saling melengkapi satu sama lain.
“Let?”
Suara Gellar yang tidak begitu keras mampu membuyarkan pikiran Letta “Eh?”
“Udah sampai”
Kemudian mereka turun dan berjalan menyusuri bukit. Rasa lelah dan panas yang mereka alami tadi semakin surut karena diatas sana sangat gelap. Pertanda akan ada hujan lebat. Namun hal itu tidak membuat keduanya untuk berteduh sekedar istirahat.
“Let, pulang aja yuk. Udah mau ujan” tanya Gellar.
“Sekarang?” raut wajah sang gadis berubah masam.
“Iya, ga pa pa kan? Nanti keujanan” derai senyum Gellar sangat kentara.
“Oke” Letta mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Gellar.
Di luar perkiraan mereka. Hujan turun satu jam lebih awal. Berniat untuk lebih cepat sampai, Gellar menambah kecepatan NCR Leggera-nya. Jalanan yang licin serta curam itu bisa membuat kendaraan yang lewat itu tergelincir. Letta sudah memperingatkan Gellar berkali – kali untuk mengurangi kecepatannya, namun Gellar tetap bersikeras. Ia tak ingin Letta sakit karena ulahnya.
Lampu kendaraan yang silau dan juga helm full face membuat Gellar tidak bisa dengan jelas melihat dan sulit untuk menyeimbangkan motornya. Dan… kedua remaja itu terpental dari motor yang mereka kendarai. Darah segar mengalir dari kepala sang laki – laki dan sang gadis? Ia tak sadarkan diri.
Air mata gadis itu terjatuh untuk yang kesekian kalinya. Kehilangan seorang Gellar-orang terdekatnya- adalah hal yang ia benci. Menurutnya tidak ada yang penting lagi di dunia ini. Naif memang jika ia tidak membenarkan hal itu. Tidak ada lagi kebahagiaan dalam jiwanya. Hanya ada tangis dan luka yang bersarang.


--- END ---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar