Bahkan
saat sang surya belum menampakkan dirinya, laki-laki yang berperawakkan tegap
itu sudah keluar dari kamar. Air wudhu mengalir membasahi tangan dan berakhir
hingga kakinya. Muhammad Arsen. Ya, Arsen
namanya. Ia hendak menjadi imam shalat shubuh. Arsen yang pandai, dan rendah
hati selalu berhasil membuat kagum teman-temannya terutama karna sifatnya yang
sangat religius. Ia hampir tak pernah lupa memberikan jamuan rohani setelah
shalat shubuh berjamaah.
“Alhamdulillah hari ini kita masih
diberikan nikmat dari Allah terutama nikmat sehat. Ada kalanya sesuatu yang
kita inginkan tidak selalu akan tercapai oleh Allah, tapi bukan berarti
keinginan itu ditolak pula oleh Allah. Kita harus ingat firman Allah dalam
surat Al-Baqarah ayat 216:
……,
Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi
(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui.” Begitulah
potongan jamuan rohani yang diberikan Arsen pagi itu.
Sebagai siswa yang pandai, Arsen tidak
pernah bermalas-malasan untuk belajar apalagi untuk pergi ke kampus. Menurutnya
menuntut ilmu itu penting. Meskipun dirinya harus jauh dengan orang tuanya dan harus
tinggal di Asrama Putra, di kampusnya.
Mata kuliah pertama baru saja ingin berjalan,
tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan menginterupsi kegiatan di kelas pagi itu.
Setelah memberi salam dan meminta maaf mengganggu, ternyata orang tersebut-yang
diketahui merupakan dosen-ingin memperkenalkan mahasiswi baru di kelas bernama
Aadiva Rahma yang merupakan mahasiswi pertukaran pelajar dengan negara
Malaysia.
Cantiknya.
Gumam Arsen dalam hati. Entah teman-teman laki-laki selain dirinya
mengatakan hal yang sama atau tidak, tetapi menurutnya mahasiswi baru yang baru
saja bergabung di kelasnya itu sangat cantik dengan jilbab yang menjuntai
hingga dadanya dan lesung pipi yang menambah kecantikannya.
~
Teman sekamar yang juga teman
sekelasnya Arsen bernama Ilham Arsyil-biasa dipanggil Ilham-bahkan sudah
tertidur pulas ketika Arsen masih sibuk dengan buku-buku tebal miliknya yang
masih menjadi pusat perhatiannya. Arsen selalu mudah memahami pelajaran yang
sedang dipelajarinya, tetapi tidak dengan malam itu. Arsen merasakan ada yang
salah pada dirinya.
Astagfirullahal’adzim.
Istighfar Arsen ketika dia sadar walaupun dia sedang berkutik dengan
buku-buku tebal miliknya, tetapi pikirannya jauh melayang mengingat mahasiswi
baru yang membuat dirinya kagum detik itu juga. Arsen memutuskan untuk
mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam.
~
Cahaya pagi yang hangat menembus
dengan halus ke dalam kamar ketika sang pemilik sengaja membuka jendela
kamarnya. Sejuknya udara yang menerpa wajah dibiarkan begitu saja masuk ke
dalam indera penciumannya. Pemilik kamar lalu bergegas untuk berjalan-jalan di
sekitar asrama kampusnya. Ya, memang hari itu adalah hari libur dan tidak ada
mata kuliah yang harus dipelajarinya di kampus, sehingga Arsen bisa
menghilangkan penatnya sejenak dengan berjalan-jalan menghirup udara sejuk.
Arsen sangat menikmati perjalanan
kecil di pagi hari itu. Tak lupa ia selalu bersyukur karna ia dapat menikmati
semua yang diberikan yang tidak lain adalah pemberian dari Tuhannya, yaitu
Allah swt. Dari kejauhan, Arsen dapat melihat dengan jelas mahasiswi baru di
kelasnya kemarin terlihat terburu-buru dan kesulitan membawa buku yang cukup
tebal serta berkas-berkasnya. Mungkin
berkas-berkas yang cukup banyak itu karna ia baru saja terpilih menjadi
mahasiswi untuk pertukaran mahasiswa antar Negara, pikir Arsen.
Eh, tapi tunggu dulu, pulpennya
terjatuh dari tumpukan berkasnya yang paling atas dan mahasiswi baru itu tidak
menyadarinya. Dengan sigap, Arsen sedikit berlari mengambil pulpen yang
terjatuh dan menghampirinya.
“Ini pulpenmu, terjatuh tadi.” Kata
Arsen sambil menyodorkan pulpennya.
“Oh, bahkan aku tak tahu kalau pen
ni terjatuh, trimakasih banyak ya.” Jawab mahasiswa baru itu dengan logat
melayunya yang khas.
“Sama-sama.”
Tak sengaja mata mereka bertemu.
Mahasiswi baru itu lebih dulu menyadari dan langsung memalingkan wajah.
Buru-buru ia pamit karna kalau tidak mungkin jantungnya akan copot karena tak
kuat menahan debaran yang begitu cepat.
~
Mata kuliah pertama hari ini dimulai
pukul 08:30. Arsen dan Ilham sudah duduk di mejanya 20 menit yang lalu. Sebelumnya,
Ilham menemukan sekotak jus jeruk di atas meja Arsen. Arsen memberikannya pada
Ilham karena ia tidak tau siapa pemberinya, tetapi Ilham menolaknya dengan
alasan jus jeruk itu memang teruntuk Arsen.
Kurang lebih lima menit setelah mata
kuliah pertama berjalan, handphone Arsen
bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Ternyata pesan itu dari Aadiva Rahma,
mahasiswi baru yang cantik itu, pikir
Arsen. Dan Arsen baru mengetahui ternyata jus jeruk yang sekarang ia minum
merupakan pemberian Aadiva sebagai tanda terimakasih karena telah menolongnya
tempo hari.
Dari situlah berawal kisah mereka.
Benih-benih cinta diantara mereka mulai tumbuh. Aadiva sempat berfikir apakah
yang mereka lakukan itu salah atau tidak, tetapi Arsen menanggapinya dengan hal
yang biasa saja dengan alasan mereka tidak bertemu dan hanya berhubungan lewat whatsapp maka menurutnya itu sah-sah
saja.
Seiring berjalannya waktu dan saling
mengatakan bahwa mereka saling jatuh cinta, Arsen dan Aadiva akhirnya memutuskan untuk berpacaran walaupun
hanya berhubungan lewat whatsapp.
Banyak orang yang mengatakan kalau
sedang jatuh cinta itu kelakuannya bisa berubah drastis 180 derajat. Begitu
juga yang dirasakan Ilham terhadap Arsen. Ilham tidak mengerti apa yang terjadi
pada Arsen sehingga Arsen berubah menjadi anak
“Hey Arsen, kamu kenapa? Kadang
senyum, kadang lagi mukamu itu kusut, sholat kadang telat, sekarang kamu
kebanyakan main handphone. Kenapa
dengan dirimu?” Tanya Ilham.
Arsen menjawabnya dengan gumaman
kecil.
“Cinta itu suci, tetapi cinta itu
salah dan bahkan menjadi haram ketika kamu salah juga dalam mengartikan cinta.
Cinta itu engga harus pacaran, karena pacaran lah cinta yang tadinya cinta itu
suci bisa menjadi haram.” ucap Ilham kepada Arsen. Yang sudah mengetahui bahwa
perubahan yang terjadi pada Arsen karena Arsen sedang jatuh cinta.
“Halah! Tau apa kamu dengan cinta?
Bahkan aku tidak pernah melihatmu jatuh cinta. Mengapa kamu menceramahiku?!!”
Arsen mengelak.
“Kamu tidak tau bahwa cinta tidak
hanya sesama lawan jenis, tetapi cinta kepada Allah, cinta kepada nabi
muhammad, cinta kepada kedua orang tua, itu juga dinamakan cinta!!”Jelas Ilham.
“Heh! Dengar baik-baik! Aku
berpacaran dengan Aadiva itu bukan urusanmu!” jawan Arsen dan kemudian pergi
meninggalkan Ilham.
Ternyata, dibalik percakapan
mereka ada dua orang yang sedang menguping pembicaraan mereka. Dua orang
tersebut sudah terkenal di asrama laki-laki menjadi ‘tukang gosip’. Arsen yang alim telah mempunyai pacar, yaitu
Aadiva, begitu kurang lebih gosip yang mereka sebarkan.
Gosip itu pun sampai kepada Arsen
dan Aadiva. Arsen sangat kesal bahkan marah sekali ketika rahasia pribadinya
dengan Aadiva dibongkar bahkan disebarluaskan.
Arsen menuduh Ilham yang
menyebarkan gosip yang sedang menjadi buah bibir teman-teman dikampusnya.
Karena setau Arsen, hanya Ilham yang mengetahui dirinya berpacaran dengan
Aadiva.
Ketika berhasil menemukan Ilham di
kamar asramanya, Arsen mengangkat kerah Ilham.
“Apa maksudmu menyebarkan bahwa
aku berpacaran dengan Aadiva?” Tanya Arsen langsung kepada intinya.
“Demi Allah, bahkan aku tidak tau
hal itu.” Jawab ilham jujur.
“Halah bohong! Kau tidak mau
mengaku! Bilang saja kau iri padaku yang berhasil mendapatkan Aadiva yang
cantik itu! Dasar penipu!”
“Bahkan aku tidak sedikit pun iri
padamu, tapi sebagai teman yang baik aku hanya ingin mengingat…”
“Sudah berkali-kali aku bilang
jangan ikut campur urusanku! Mengerti!”
“Terserah apa katamu! Padahal kamu
yang mengingatkan kepada kami ‘dan boleh
jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;’ Q.S.
Al-baqarah ayat 216. Sesungguhnya
Allah lebih mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.” Jawab Ilham yang
sudah mulai kesal dengan Arsen, dan melepaskan dengan paksa tangan Arsen yang
menarik kerah bajunya.
~
Dari awal mata kuliah berlangsung,
Arsen tidak pernah fokus terhadap apa yang sedang dipelajarinya. Bahkan ketika
temannya mengajak diskusi, Arsen tidak memperhatikan yang dibicarakan temannya
itu dan berakhir dengan ejekan dari semua teman sekelasnya bahwa Arsen sedang
memikirkan Aadiva.
Setelah mata kuliah hari itu
selesai, Aadiva mengirim surat kepada Arsen yang isinya:
Aku
tau Arsen, aku ni mencintaimu, begitu pula dengan kau. Dan aku juga tau kita ni
saling mencintai. Tapi ternyata kita ni salah. Tidak seharusnya kita pacaran. Kita
sudahi saja pacaran kita ni. Cinta ni anugerah. Biarkan lah mencintaimu ni jadi
rahasia dalam sujudku. Apabila kita berjodoh nanti, pastilah kita akan
dipertemukan kembali oleh Yang Maha Kuasa.
Dan
apabila kita tidak berjodoh nanti, janganlah bersedih, insyaAllah aku akan ada
di dalam hatimu ni apabila kamu mau. Do’aku semoga kita dipertemukan kembali
nanti.
Aadiva
Rahma
~ Selesai ~
Terinspirasi dari short movie “Jeans vs Skirt”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar