Selasa, 25 Oktober 2016

Mengapa Cinta Bisa Salah? -Karya Hasna Afifah Hasan

Bahkan saat sang surya belum menampakkan dirinya, laki-laki yang berperawakkan tegap itu sudah keluar dari kamar. Air wudhu mengalir membasahi tangan dan berakhir hingga kakinya.  Muhammad Arsen. Ya, Arsen namanya. Ia hendak menjadi imam shalat shubuh. Arsen yang pandai, dan rendah hati selalu berhasil membuat kagum teman-temannya terutama karna sifatnya yang sangat religius. Ia hampir tak pernah lupa memberikan jamuan rohani setelah shalat shubuh berjamaah.
            “Alhamdulillah hari ini kita masih diberikan nikmat dari Allah terutama nikmat sehat. Ada kalanya sesuatu yang kita inginkan tidak selalu akan tercapai oleh Allah, tapi bukan berarti keinginan itu ditolak pula oleh Allah. Kita harus ingat firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 216:
            ……, Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Begitulah  potongan jamuan rohani yang diberikan Arsen pagi itu.
            Sebagai siswa yang pandai, Arsen tidak pernah bermalas-malasan untuk belajar apalagi untuk pergi ke kampus. Menurutnya menuntut ilmu itu penting. Meskipun dirinya harus jauh dengan orang tuanya dan harus tinggal di Asrama Putra, di kampusnya.
            Mata kuliah pertama baru saja ingin berjalan, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan menginterupsi kegiatan di kelas pagi itu. Setelah memberi salam dan meminta maaf mengganggu, ternyata orang tersebut-yang diketahui merupakan dosen-ingin memperkenalkan mahasiswi baru di kelas bernama Aadiva Rahma yang merupakan mahasiswi pertukaran pelajar dengan negara Malaysia.
            Cantiknya. Gumam Arsen dalam hati. Entah teman-teman laki-laki selain dirinya mengatakan hal yang sama atau tidak, tetapi menurutnya mahasiswi baru yang baru saja bergabung di kelasnya itu sangat cantik dengan jilbab yang menjuntai hingga dadanya dan lesung pipi yang menambah kecantikannya.
~
            Teman sekamar yang juga teman sekelasnya Arsen bernama Ilham Arsyil-biasa dipanggil Ilham-bahkan sudah tertidur pulas ketika Arsen masih sibuk dengan buku-buku tebal miliknya yang masih menjadi pusat perhatiannya. Arsen selalu mudah memahami pelajaran yang sedang dipelajarinya, tetapi tidak dengan malam itu. Arsen merasakan ada yang salah pada dirinya.
            Astagfirullahal’adzim. Istighfar Arsen ketika dia sadar walaupun dia sedang berkutik dengan buku-buku tebal miliknya, tetapi pikirannya jauh melayang mengingat mahasiswi baru yang membuat dirinya kagum detik itu juga. Arsen memutuskan untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam.
~
            Cahaya pagi yang hangat menembus dengan halus ke dalam kamar ketika sang pemilik sengaja membuka jendela kamarnya. Sejuknya udara yang menerpa wajah dibiarkan begitu saja masuk ke dalam indera penciumannya. Pemilik kamar lalu bergegas untuk berjalan-jalan di sekitar asrama kampusnya. Ya, memang hari itu adalah hari libur dan tidak ada mata kuliah yang harus dipelajarinya di kampus, sehingga Arsen bisa menghilangkan penatnya sejenak dengan berjalan-jalan menghirup udara sejuk.
            Arsen sangat menikmati perjalanan kecil di pagi hari itu. Tak lupa ia selalu bersyukur karna ia dapat menikmati semua yang diberikan yang tidak lain adalah pemberian dari Tuhannya, yaitu Allah swt. Dari kejauhan, Arsen dapat melihat dengan jelas mahasiswi baru di kelasnya kemarin terlihat terburu-buru dan kesulitan membawa buku yang cukup tebal serta berkas-berkasnya. Mungkin berkas-berkas yang cukup banyak itu karna ia baru saja terpilih menjadi mahasiswi untuk pertukaran mahasiswa antar Negara, pikir Arsen.
            Eh, tapi tunggu dulu, pulpennya terjatuh dari tumpukan berkasnya yang paling atas dan mahasiswi baru itu tidak menyadarinya. Dengan sigap, Arsen sedikit berlari mengambil pulpen yang terjatuh dan menghampirinya.
            “Ini pulpenmu, terjatuh tadi.” Kata Arsen sambil menyodorkan pulpennya.
            “Oh, bahkan aku tak tahu kalau pen ni terjatuh, trimakasih banyak ya.” Jawab mahasiswa baru itu dengan logat melayunya yang khas.
            “Sama-sama.”
            Tak sengaja mata mereka bertemu. Mahasiswi baru itu lebih dulu menyadari dan langsung memalingkan wajah. Buru-buru ia pamit karna kalau tidak mungkin jantungnya akan copot karena tak kuat menahan debaran yang begitu cepat.
~
            Mata kuliah pertama hari ini dimulai pukul 08:30. Arsen dan Ilham sudah duduk di mejanya 20 menit yang lalu. Sebelumnya, Ilham menemukan sekotak jus jeruk di atas meja Arsen. Arsen memberikannya pada Ilham karena ia tidak tau siapa pemberinya, tetapi Ilham menolaknya dengan alasan jus jeruk itu memang teruntuk Arsen.
            Kurang lebih lima menit setelah mata kuliah pertama berjalan, handphone Arsen bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Ternyata pesan itu dari Aadiva Rahma, mahasiswi baru yang cantik itu, pikir Arsen. Dan Arsen baru mengetahui ternyata jus jeruk yang sekarang ia minum merupakan pemberian Aadiva sebagai tanda terimakasih karena telah menolongnya tempo hari.
            Dari situlah berawal kisah mereka. Benih-benih cinta diantara mereka mulai tumbuh. Aadiva sempat berfikir apakah yang mereka lakukan itu salah atau tidak, tetapi Arsen menanggapinya dengan hal yang biasa saja dengan alasan mereka tidak bertemu dan hanya berhubungan lewat whatsapp maka menurutnya itu sah-sah saja.
            Seiring berjalannya waktu dan saling mengatakan bahwa mereka saling jatuh cinta, Arsen dan Aadiva  akhirnya memutuskan untuk berpacaran walaupun hanya berhubungan lewat whatsapp.
Banyak orang yang mengatakan kalau sedang jatuh cinta itu kelakuannya bisa berubah drastis 180 derajat. Begitu juga yang dirasakan Ilham terhadap Arsen. Ilham tidak mengerti apa yang terjadi pada Arsen sehingga Arsen berubah menjadi anak
“Hey Arsen, kamu kenapa? Kadang senyum, kadang lagi mukamu itu kusut, sholat kadang telat, sekarang kamu kebanyakan main handphone. Kenapa dengan dirimu?” Tanya Ilham.
Arsen menjawabnya dengan gumaman kecil.
“Cinta itu suci, tetapi cinta itu salah dan bahkan menjadi haram ketika kamu salah juga dalam mengartikan cinta. Cinta itu engga harus pacaran, karena pacaran lah cinta yang tadinya cinta itu suci bisa menjadi haram.” ucap Ilham kepada Arsen. Yang sudah mengetahui bahwa perubahan yang terjadi pada Arsen karena Arsen sedang jatuh cinta.
“Halah! Tau apa kamu dengan cinta? Bahkan aku tidak pernah melihatmu jatuh cinta. Mengapa kamu menceramahiku?!!” Arsen mengelak.
“Kamu tidak tau bahwa cinta tidak hanya sesama lawan jenis, tetapi cinta kepada Allah, cinta kepada nabi muhammad, cinta kepada kedua orang tua, itu juga dinamakan cinta!!”Jelas Ilham.
“Heh! Dengar baik-baik! Aku berpacaran dengan Aadiva itu bukan urusanmu!” jawan Arsen dan kemudian pergi meninggalkan Ilham.
Ternyata, dibalik percakapan mereka ada dua orang yang sedang menguping pembicaraan mereka. Dua orang tersebut sudah terkenal di asrama laki-laki menjadi ‘tukang gosip’. Arsen yang alim telah mempunyai pacar, yaitu Aadiva, begitu kurang lebih gosip yang mereka sebarkan.
Gosip itu pun sampai kepada Arsen dan Aadiva. Arsen sangat kesal bahkan marah sekali ketika rahasia pribadinya dengan Aadiva dibongkar bahkan disebarluaskan.
Arsen menuduh Ilham yang menyebarkan gosip yang sedang menjadi buah bibir teman-teman dikampusnya. Karena setau Arsen, hanya Ilham yang mengetahui dirinya berpacaran dengan Aadiva.
Ketika berhasil menemukan Ilham di kamar asramanya, Arsen mengangkat kerah Ilham.
“Apa maksudmu menyebarkan bahwa aku berpacaran dengan Aadiva?” Tanya Arsen langsung kepada intinya.
“Demi Allah, bahkan aku tidak tau hal itu.” Jawab ilham jujur.
“Halah bohong! Kau tidak mau mengaku! Bilang saja kau iri padaku yang berhasil mendapatkan Aadiva yang cantik itu! Dasar penipu!”
“Bahkan aku tidak sedikit pun iri padamu, tapi sebagai teman yang baik aku hanya ingin mengingat…”
“Sudah berkali-kali aku bilang jangan ikut campur urusanku! Mengerti!”
“Terserah apa katamu! Padahal kamu yang mengingatkan kepada kami ‘dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;’ Q.S. Al-baqarah ayat 216. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.” Jawab Ilham yang sudah mulai kesal dengan Arsen, dan melepaskan dengan paksa tangan Arsen yang menarik kerah bajunya.
~
            Dari awal mata kuliah berlangsung, Arsen tidak pernah fokus terhadap apa yang sedang dipelajarinya. Bahkan ketika temannya mengajak diskusi, Arsen tidak memperhatikan yang dibicarakan temannya itu dan berakhir dengan ejekan dari semua teman sekelasnya bahwa Arsen sedang memikirkan Aadiva.
            Setelah mata kuliah hari itu selesai, Aadiva mengirim surat kepada Arsen yang isinya:
Aku tau Arsen, aku ni mencintaimu, begitu pula dengan kau. Dan aku juga tau kita ni saling mencintai. Tapi ternyata kita ni salah. Tidak seharusnya kita pacaran. Kita sudahi saja pacaran kita ni. Cinta ni anugerah. Biarkan lah mencintaimu ni jadi rahasia dalam sujudku. Apabila kita berjodoh nanti, pastilah kita akan dipertemukan kembali oleh Yang Maha Kuasa.
Dan apabila kita tidak berjodoh nanti, janganlah bersedih, insyaAllah aku akan ada di dalam hatimu ni apabila kamu mau. Do’aku semoga kita dipertemukan kembali nanti.

Aadiva Rahma     
~ Selesai ~

Terinspirasi dari short movie “Jeans vs Skirt”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar