Jumat, 28 Oktober 2016

Bagaimana Cara Berjuang ? -Karya Anisa Kurnia


            Mentari sudah meninggikan diri bersamaan dengan seorang gadis yang berlari menuju gerbang sekolah. Hari ini hari senin, ia tak ingin melewatkan upacara benderanya. Namun takdir berkata lain, gerbang itu telah ditutup lima menit yang lalu. Inilah yang ditunggu Abil gadis yang bernama lengkap Syabila Adhantya. Ia harus merasakan hukuman, setidaknya sekali seumur hidup. Masalahnya ia harus mengelilingi lapangan sabanyak sepuluh kali dengan luas lapangan tiga kali lapangan basket. Senyumnya menghilang ketika pandangannya terfokus pada satu anak lelaki dengan rambut acak-acakkan. Namanya Nino Alviano, namanya selalu melekat dikepala Abil karena sudah beberapa kali Nino mengungguli peringkat pertama satu angkatan.
            Impian ke Jepang bagi Abil bukanlah omong kosong belaka, dengan usaha dan doa ia pasti bisa untuk pergi ke Jepang. Ia harus bisa melihat kristal salju di atas Gunung Fuji. Tapi, Nino menjadi satu-satunya saingan terberat Abil. Apalagi waktunya semakin menyempit karena ia sudah kelas tiga SMA.
            “Syabila, kamu bisa mengelilingi lapangan sebanyak satu kali.” Ucap guru piket menyadarkan Abil dari lamunannya. Rupanya upacara sudah selesai beberapa anak sudah kembali ke kelas, tapi tidak dengan anak yang telat.
            “Tidak terima kasih bu, aku hanya ingin mengikuti peraturan.” Ucap Abil tersenyum ke arah guru piket.
Nino memulai larinya terlebih dahulu dibandingkan dengan yang lain, jam pelajaran kimia pasti sudah dimulai lima menit yang lalu, itu adalah pelajaran kesukaan Nino. Ia memperlambat larinya ketika ia mengingat bahwa hari ini ada ulangan. Jika ia tak masuk kelas maka ia akan mengerjakan ulangan itu sendiri, daripada ia harus memberi contekkan.
            “Suatu saat aku akan melihat salju !” ucap Abil sambil berlari setelah mendahului Nino. Ia bingung mendengar perkataan gadis itu, apa pedulinya dia ? dan apa hubungannya dia dengan salju ? ia mengabaikan ucapan gadis itu. Nino terus berlari tanpa menggubris Abil sama sekali setelah melewatinya.
            “Nino, aku Syabila teman sekelasmu,” Ucap Abil memperkenalkan diri, apakah harus Abil memperkenalkan namanya sendiri ? Toh, namanya selalu dibawah Nino di peringkat angkatan.
            “Tolong, jangan halangi jalanku !” lanjut Abil berbicara. Nino berhenti menghadap belakang secara perlahan membuang napas asal dan mengedikkan bahu. Mungkin kalau diartikan bahasa tubuh Nino, ia akan bilang bahwa apa gunanya gue kenal lo ? peduli amat apa ? sedikit kesal Nino mempercepat larinya mendahului Abil.
            “Ternyata tak mungkin jika aku mendahuluimu, setidaknya hari ini aku telah melihat salju. Hei Nino ada salju di atas kepalamu !” ucap Abil dengan napas yang terengah-engah. Nino menghiraukannya sampai ia sadar bahwa namanya disebut dan ada salju di kepalanya. Bodohnya, ia mengelus rambutnya yang tak ada sesuatu disana.
            “Aneh, bagaimana bisa ada salju turun di Indonesia ?” gumamnya pada dirinya sendiri sampai ia mendengar bunyi yang menghantam lapangan, badannya berbalik melihat tubuh Abil yang sudah tergeletak. Tangannya ditarik oleh seseorang untuk membawa Abil ke UKS.
Di dunia ini tak seorangpun tak memiliki ketakutan, sama seperti Nino ia memiliki sebuah ketakutan. Seharusnya ia mengerjakan ulangan kimia, seharusnya ia tak melihat Abil yang seperti ini. Tak juga melihat kakaknya yang terbaring. Kenangan itu kembali muncul ketika ia bersama kakaknya. Halaman rumah itu begitu sepi, suara ayunan putih itu menjadi satu-satunya suara yang dapat terdengar. Ayunan itu berhenti ketika tak seorangpun mengayunnya. Anak laki itu menengok kearah kakaknya, terkejut dengan darah yang menetes dari tangannya yang menutup bibirnya.
“Kak, Kak Ren kenapa ?” ucap Nino khawatir pada kakaknya, Rena hanya menggeleng tak mau melihat adiknya khawatir. Nino beberapa kali mendengar kakaknya terbatuk dan perlahan meninggalkannya pergi kedalam rumah.
Beberapa hari setelah itu Rena kakak dari Nino dilarikkan kerumah sakit untuk perawatan. Dinding berwarna biru dan putih secara dominan dan juga aroma yang paling Nino benci. Suara denyut jantung itu masih menghiasi ruangan, sampai pada akhirnya satu bunyi panjang mesin itu membuat Nino menitikkan air mata lagi setelah kepergian ibundanya. Satu lagi senyuman itu hilang. Setelah bundanya, sekarang Rena harus meninggalkan Nino.
“Nino, jika aku mengambil jurusan kedokteran saat itu mungkin bunda akan terselamatkan.”
“Kak Ren jangan menangis, nanti suatu saat aku akan menjadi dokter. Jadi aku bisa menjaga senyuman orang-orang yang kusayangi.”
Percakapan itu terngiang-ngiang di benak Nino. Disamping batu nisan bunda dan kakaknya, dia berjanji untuk menjaga ayahnya kalaupun ia harus menjadi dokter tak apa jika ayahnya berada disampingnya.
“Hey Nino,” lagi-lagi gadis itu, senyuman itu. Nino menggeleng, ia meyakinkan dalam hati bahwa senyuman itu tak mirip dengan kak Rena apalagi dengan bundanya.
“Nino, apakah kamu tahu bahwa pingsan itu merupakan penyakit menular !” ucap Abil seperti para ilmuwan, beberapa detik kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Jika kamu tidak pingsan, aku juga juga tidak akan pingsan ! belum lagi aku biasa lari seperti itu.” Nino sedikit kesal dengan Abil tapi senyumnya terasa lepas saat bersamanya.
Sejak saat itu melihat senyummu bagai berlian akan ku jaga dengan sebaik-baiknya tapi takkan ada yang boleh mendapatkannya selain aku.
Hari demi hari sangat cepat berlalu, Nino sibuk dengan cita-citanya belajar lagi dan lagi. Ia duduk disamping Abil, hanya beberapa kali ia berbicara tentang sesuatu selebihnya Nino membaca buku atau menulis sesuatu. Namun yang terpenting bagi Abil, ia bisa melihat senyum Nino yang muncul karena tingkah-tingkah kecil Abil. Sudah beberapa kali melakukan try out, sudah beberapa kali membahas soal, sudah melewati ujian praktek dan UN, ataupun test SNMPTN. Itulah yang mereka tunggu setiap detik yang mereka gunakan, setiap doa yang mereka panjatkan hanya untuk membanggakan kedua orang tuanya ataupun orang yang mereka sayangi.
Hari pemberitahuan hasil SNMPTN di depan mata, aneh hari ini Abil tak masuk lagi. Apa mungkin dia pergi ke luar negeri ? kan dia ingin melihat salju ? Dia pergi ke Eropa ? mungkin. Apa dia sakit ? Nino sebenarnya khawatir padanya, ia harus memberitahukan hasil itu pada Abil terlebih lagi pada ayahnya. Ia berhasil masuk jurusan kedokteran, sujud syukurpun ia lakukan detik itu juga. Senyumnya tak terlepas di wajahnya, ia segera menghubungi sang ayah. Beruntung telefonnya berbunyi dan bertuliskan nama ayah disana.
“Ayah, Nino berhasil masuk,…” Kata-katanya terhenti, telefonnya sudah lenyap di tangannya berbenturan dengan lapangan yang menimbulkan slow motion di hadapannya.
“Kami dari kepolisian, mengabarkan bahwa ayah anda kecelakaan. Harap datang ke rumah sakit yang telah saya kirim alamatnya.” Suara polisi itu masih berdengung di telinganya.
Sudah, lengkap bukan kehidupannya ? ada kebahagiaan dan ada kesedihan ? itu bisa diatasinya dengan mudah. Hanya saja, jangan memberinya kebahagiaan dan kesedihan secara bersamaan. Arah mana yang harus dia ikuti ? langkahnya berjalan entah kemana. Ia tak tahu mau kemana hanya saja dia butuh udara, ia harus pergi ke atap.
Bukankah lebih baik jika ia ikut bersama dengan Ibu, Ayah, dan kakaknya ? ia tepat diujung atap, berfikir bagaimana cara melompat dari lantai empat. Tak ada lagi satu senyuman yang dapat ia lindungi. Selangkah lagi sampai ia bisa menyusul keluarganya, tapi tangan itu mendekapnya. Gadis itu memeluknya erat.
“Bagaimana caranya kau menghargai kehidupan ?  dengan cara seperti ini ? Asal kau tahu, ada banyak orang yang sedang berjuang melawan penyakit agar tidak bertemu dengan kematian ?” Abil masih memeluk Nino sambil berteriak. Ia menumpahkan semua emosinya, tangisnya pecah.
“Untuk apa ? sudah tak ada lagi orang yang aku sayangi di dunia ini ! untuk apa aku harus berjuang ?” Nino berbalik menggoyangkan bahu Abil dengan cukup keras, kini berbalik Nino menuangkan emosinya. Sudah cukup ia diperlakukan tidak adil oleh Tuhan.
“Apa katamu ? kau tidak hanya berjuang untuk orang yang sayangi ! tapi kau harus berjuang untuk orang yang menyayangimu ! lihatlah ! ada banyak orang yang berharap pada calon dokter sepertimu !” Abil masih berteriak, mendorong bahu Nino cukup kencang.
Nino menunduk memikirkan perkataan Abil, air matanya keluar begitu saja. Ia menatap Abil yang tiba-tiba ambruk di depan matanya.
“Abil, mau kamu itu apa ? kenapa kamu hobi banget pingsan !” Nino membawa Abil ke rumah sakit yang sama di tempat ayahnya kecelakaan.
Nino masih setia mengucap doa untuk ayahnya yang sedang kritis, ia punya kesempatankan ? untuk bahagia setidaknya bersama ayahnya. Bahkan, ia belum memberi tahu sang ayah bahwa ia masuk jurusan kedokteran. Setelah beberapa jam ia menunggu dengan doa, ayahnya masih bisa terselamatkan. Ia memeluk ayahnya, memberitahu bahwa ia berhasil masuk jurusan kedokteran.
Nino pamit ke ayahnya untuk menjenguk temannya. Setelah kedatangan keluarga Abil, Nino pergi untuk menemui ayahnya. Nino berlari, suara denyut jantung terngiang di telinganya. Nino melihat Ayah dan bunda Abil berpelukan, akhirnya Abil baik-baik saja, pikir Nino.
“Tante, bisakah saya melihat Abil ?”
“Abil telah meninggalkan kita,” Nino diam mencerna kata-kata mamanya Abil.
“Abil bilang untuk kasih surat ini untuk orang yang bernama Nino, kamu Nino kan ? makasih untuk segalanya tentang Abil,” kini ayahnya bicara dengan Nino, mamanya masih menagis terisak. Dengan wajah yang datar menerima surat itu dan salim kepada kedua orang tuanya. Ia sadar ternyata satu senyuman berharga telah direbut-Nya (lagi).
Selesai.


Untuk Nino Alviano.
Ini Syabila Adhantya, kamu kenal aku ? tidak ! kamu tidak mengenaliku. Delapan tahun lalu di taman rumah sakit WS pukul 15.00 saat daun mulai berguguran kamu datang ketika tajamnya pisau menempel dipermukaan kulitku.
“Bagaimana caranya kau menghargai kehidupan ? beginikah ?” kalimat pertamamu.
“Aku ini punya penyakit dan divonis meninggal lima tahun mendatang, daripada aku menunggu dan menyusahkan kedua orang tuaku. Untuk apa aku hidup ?” Balasku.
“Baiklah, tepat pukul 13.00 mamaku meninggal” Ucapmu.
“Dan dia bilang jika sudah tak ada lagi orang yang kamu sayang, setidaknya kamu mempunyai orang yang menyayangimu,” Ucapmu lagi.
Dari ucapanmu, aku mulai sadar pada mereka yang menyayangiku. aku mulai teratur minum obat, aku mulai mengikuti terapi, aku mulai semangat demi orang yang menyayangiku.
Aku bertemu denganmu saat SMA betapa beruntungnya aku. Tapi, kau masih dingin dan tak tersentuh. Kau tak mengenalku. Kau tak sadar bahwa aku memiliki penyakit.
Aku tahu, kau kehilanngan kakakmu, satu lagi orang yang kau sayang. Aku semakin ingin mendekatimu membuatmu tertawa, sebagai kenangan bahwa aku pernah ada dihidupmu.
Sampai pada suatu saat aku sakit parah dan tak boleh meninggalkan rumah sakit, sejak itu aku tak takut, karena aku telah memegang kata-katamu.
Hari itu pemberitahuan hasil SNMPTN, aku masih di rumah sakit. Aku berfikir untuk kabur membawa seragamku. Hahaha. Aku sangat ingin medengar bahwa kau telah mendapat jurusan yang kau ingin.
Tapi, aku kecewa kau telah melepaskan kata-katamu. Aku mengingatkanmu tapi, sepertinya kau tak mengingatnya.
Aku yakin kau tak bisa membaca tulisanku karena berantakan, bahkan aku harus memohon pada suster untuk memberi waktu selama sepuluh menit untuk menulis suratku.
Peganglah kata-katamu, jika sudah tak ada lagi orang yang kamu sayang untuk berjuang, setidaknya kamu mempunyai orang yang menyayangimu untuk kau perjuangkan. akan ada sejuta orang tersenyum bahagia karena telah kau selamatkan nyawanya. Untukmu calon dokter.

Ini Abil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar