Mentari sudah meninggikan diri
bersamaan dengan seorang gadis yang berlari menuju gerbang sekolah. Hari ini
hari senin, ia tak ingin melewatkan upacara benderanya. Namun takdir berkata
lain, gerbang itu telah ditutup lima menit yang lalu. Inilah yang ditunggu Abil
gadis yang bernama lengkap Syabila Adhantya. Ia harus merasakan hukuman, setidaknya
sekali seumur hidup. Masalahnya ia harus mengelilingi lapangan sabanyak sepuluh
kali dengan luas lapangan tiga kali lapangan basket. Senyumnya menghilang
ketika pandangannya terfokus pada satu anak lelaki dengan rambut acak-acakkan.
Namanya Nino Alviano, namanya selalu melekat dikepala Abil karena sudah
beberapa kali Nino mengungguli peringkat pertama satu angkatan.
Impian ke Jepang bagi Abil bukanlah
omong kosong belaka, dengan usaha dan doa ia pasti bisa untuk pergi ke Jepang.
Ia harus bisa melihat kristal salju di atas Gunung Fuji. Tapi, Nino menjadi
satu-satunya saingan terberat Abil. Apalagi waktunya semakin menyempit karena
ia sudah kelas tiga SMA.
“Syabila, kamu bisa mengelilingi
lapangan sebanyak satu kali.” Ucap guru piket menyadarkan Abil dari lamunannya.
Rupanya upacara sudah selesai beberapa anak sudah kembali ke kelas, tapi tidak
dengan anak yang telat.
“Tidak terima kasih bu, aku hanya
ingin mengikuti peraturan.” Ucap Abil tersenyum ke arah guru piket.
Nino
memulai larinya terlebih dahulu dibandingkan dengan yang lain, jam pelajaran
kimia pasti sudah dimulai lima menit yang lalu, itu adalah pelajaran kesukaan Nino.
Ia memperlambat larinya ketika ia mengingat bahwa hari ini ada ulangan. Jika ia
tak masuk kelas maka ia akan mengerjakan ulangan itu sendiri, daripada ia harus
memberi contekkan.
“Suatu saat aku akan melihat salju
!” ucap Abil sambil berlari setelah mendahului Nino. Ia bingung mendengar
perkataan gadis itu, apa pedulinya dia ? dan apa hubungannya dia dengan salju ?
ia mengabaikan ucapan gadis itu. Nino terus berlari tanpa menggubris Abil sama
sekali setelah melewatinya.
“Nino, aku Syabila teman sekelasmu,”
Ucap Abil memperkenalkan diri, apakah harus Abil memperkenalkan namanya sendiri
? Toh, namanya selalu dibawah Nino di peringkat angkatan.
“Tolong, jangan halangi jalanku !”
lanjut Abil berbicara. Nino berhenti menghadap belakang secara perlahan membuang
napas asal dan mengedikkan bahu. Mungkin kalau diartikan bahasa tubuh Nino, ia
akan bilang bahwa apa gunanya gue kenal lo ? peduli amat apa ? sedikit kesal
Nino mempercepat larinya mendahului Abil.
“Ternyata tak mungkin jika aku mendahuluimu,
setidaknya hari ini aku telah melihat salju. Hei Nino ada salju di atas
kepalamu !” ucap Abil dengan napas yang terengah-engah. Nino menghiraukannya
sampai ia sadar bahwa namanya disebut dan ada salju di kepalanya. Bodohnya, ia
mengelus rambutnya yang tak ada sesuatu disana.
“Aneh, bagaimana bisa ada salju
turun di Indonesia ?” gumamnya pada dirinya sendiri sampai ia mendengar bunyi
yang menghantam lapangan, badannya berbalik melihat tubuh Abil yang sudah
tergeletak. Tangannya ditarik oleh seseorang untuk membawa Abil ke UKS.
Di
dunia ini tak seorangpun tak memiliki ketakutan, sama seperti Nino ia memiliki
sebuah ketakutan. Seharusnya ia mengerjakan ulangan kimia, seharusnya ia tak
melihat Abil yang seperti ini. Tak juga melihat kakaknya yang terbaring.
Kenangan itu kembali muncul ketika ia bersama kakaknya. Halaman rumah itu
begitu sepi, suara ayunan putih itu menjadi satu-satunya suara yang dapat
terdengar. Ayunan itu berhenti ketika tak seorangpun mengayunnya. Anak laki itu
menengok kearah kakaknya, terkejut dengan darah yang menetes dari tangannya
yang menutup bibirnya.
“Kak,
Kak Ren kenapa ?” ucap Nino khawatir pada kakaknya, Rena hanya menggeleng tak
mau melihat adiknya khawatir. Nino beberapa kali mendengar kakaknya terbatuk
dan perlahan meninggalkannya pergi kedalam rumah.
Beberapa
hari setelah itu Rena kakak dari Nino dilarikkan kerumah sakit untuk perawatan.
Dinding berwarna biru dan putih secara dominan dan juga aroma yang paling Nino
benci. Suara denyut jantung itu masih menghiasi ruangan, sampai pada akhirnya
satu bunyi panjang mesin itu membuat Nino menitikkan air mata lagi setelah
kepergian ibundanya. Satu lagi senyuman itu hilang. Setelah bundanya, sekarang
Rena harus meninggalkan Nino.
“Nino, jika aku mengambil jurusan
kedokteran saat itu mungkin bunda akan terselamatkan.”
“Kak Ren jangan menangis, nanti
suatu saat aku akan menjadi dokter. Jadi aku bisa menjaga senyuman orang-orang
yang kusayangi.”
Percakapan
itu terngiang-ngiang di benak Nino. Disamping batu nisan bunda dan kakaknya,
dia berjanji untuk menjaga ayahnya kalaupun ia harus menjadi dokter tak apa jika
ayahnya berada disampingnya.
“Hey
Nino,” lagi-lagi gadis itu, senyuman itu. Nino menggeleng, ia meyakinkan dalam
hati bahwa senyuman itu tak mirip dengan kak Rena apalagi dengan bundanya.
“Nino,
apakah kamu tahu bahwa pingsan itu merupakan penyakit menular !” ucap Abil
seperti para ilmuwan, beberapa detik kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Jika
kamu tidak pingsan, aku juga juga tidak akan pingsan ! belum lagi aku biasa
lari seperti itu.” Nino sedikit kesal dengan Abil tapi senyumnya terasa lepas
saat bersamanya.
Sejak
saat itu melihat senyummu bagai berlian akan ku jaga dengan sebaik-baiknya tapi
takkan ada yang boleh mendapatkannya selain aku.
Hari
demi hari sangat cepat berlalu, Nino sibuk dengan cita-citanya belajar lagi dan
lagi. Ia duduk disamping Abil, hanya beberapa kali ia berbicara tentang sesuatu
selebihnya Nino membaca buku atau menulis sesuatu. Namun yang terpenting bagi
Abil, ia bisa melihat senyum Nino yang muncul karena tingkah-tingkah kecil
Abil. Sudah beberapa kali melakukan try
out, sudah beberapa kali membahas soal, sudah melewati ujian praktek dan
UN, ataupun test SNMPTN. Itulah yang mereka tunggu setiap detik yang mereka
gunakan, setiap doa yang mereka panjatkan hanya untuk membanggakan kedua orang
tuanya ataupun orang yang mereka sayangi.
Hari
pemberitahuan hasil SNMPTN di depan mata, aneh hari ini Abil tak masuk lagi.
Apa mungkin dia pergi ke luar negeri ? kan dia ingin melihat salju ? Dia pergi
ke Eropa ? mungkin. Apa dia sakit ? Nino sebenarnya khawatir padanya, ia harus
memberitahukan hasil itu pada Abil terlebih lagi pada ayahnya. Ia berhasil
masuk jurusan kedokteran, sujud syukurpun ia lakukan detik itu juga. Senyumnya
tak terlepas di wajahnya, ia segera menghubungi sang ayah. Beruntung telefonnya
berbunyi dan bertuliskan nama ayah disana.
“Ayah,
Nino berhasil masuk,…” Kata-katanya terhenti, telefonnya sudah lenyap di
tangannya berbenturan dengan lapangan yang menimbulkan slow motion di hadapannya.
“Kami
dari kepolisian, mengabarkan bahwa ayah anda kecelakaan. Harap datang ke rumah
sakit yang telah saya kirim alamatnya.” Suara polisi itu masih berdengung di
telinganya.
Sudah,
lengkap bukan kehidupannya ? ada kebahagiaan dan ada kesedihan ? itu bisa
diatasinya dengan mudah. Hanya saja, jangan memberinya kebahagiaan dan
kesedihan secara bersamaan. Arah mana yang harus dia ikuti ? langkahnya
berjalan entah kemana. Ia tak tahu mau kemana hanya saja dia butuh udara, ia
harus pergi ke atap.
Bukankah
lebih baik jika ia ikut bersama dengan Ibu, Ayah, dan kakaknya ? ia tepat
diujung atap, berfikir bagaimana cara melompat dari lantai empat. Tak ada lagi
satu senyuman yang dapat ia lindungi. Selangkah lagi sampai ia bisa menyusul
keluarganya, tapi tangan itu mendekapnya. Gadis itu memeluknya erat.
“Bagaimana
caranya kau menghargai kehidupan ?
dengan cara seperti ini ? Asal kau tahu, ada banyak orang yang sedang
berjuang melawan penyakit agar tidak bertemu dengan kematian ?” Abil masih
memeluk Nino sambil berteriak. Ia menumpahkan semua emosinya, tangisnya pecah.
“Untuk
apa ? sudah tak ada lagi orang yang aku sayangi di dunia ini ! untuk apa aku
harus berjuang ?” Nino berbalik menggoyangkan bahu Abil dengan cukup keras,
kini berbalik Nino menuangkan emosinya. Sudah cukup ia diperlakukan tidak adil
oleh Tuhan.
“Apa
katamu ? kau tidak hanya berjuang untuk orang yang sayangi ! tapi kau harus
berjuang untuk orang yang menyayangimu ! lihatlah ! ada banyak orang yang
berharap pada calon dokter sepertimu !” Abil masih berteriak, mendorong bahu
Nino cukup kencang.
Nino
menunduk memikirkan perkataan Abil, air matanya keluar begitu saja. Ia menatap
Abil yang tiba-tiba ambruk di depan matanya.
“Abil,
mau kamu itu apa ? kenapa kamu hobi banget pingsan !” Nino membawa Abil ke
rumah sakit yang sama di tempat ayahnya kecelakaan.
Nino
masih setia mengucap doa untuk ayahnya yang sedang kritis, ia punya
kesempatankan ? untuk bahagia setidaknya bersama ayahnya. Bahkan, ia belum
memberi tahu sang ayah bahwa ia masuk jurusan kedokteran. Setelah beberapa jam
ia menunggu dengan doa, ayahnya masih bisa terselamatkan. Ia memeluk ayahnya,
memberitahu bahwa ia berhasil masuk jurusan kedokteran.
Nino
pamit ke ayahnya untuk menjenguk temannya. Setelah kedatangan keluarga Abil,
Nino pergi untuk menemui ayahnya. Nino berlari, suara denyut jantung terngiang
di telinganya. Nino melihat Ayah dan bunda Abil berpelukan, akhirnya Abil
baik-baik saja, pikir Nino.
“Tante,
bisakah saya melihat Abil ?”
“Abil
telah meninggalkan kita,” Nino diam mencerna kata-kata mamanya Abil.
“Abil
bilang untuk kasih surat ini untuk orang yang bernama Nino, kamu Nino kan ?
makasih untuk segalanya tentang Abil,” kini ayahnya bicara dengan Nino, mamanya
masih menagis terisak. Dengan wajah yang datar menerima surat itu dan salim
kepada kedua orang tuanya. Ia sadar ternyata satu senyuman berharga telah
direbut-Nya (lagi).
Selesai.
Untuk
Nino Alviano.
Ini
Syabila Adhantya, kamu kenal aku ? tidak ! kamu tidak mengenaliku. Delapan
tahun lalu di taman rumah sakit WS pukul 15.00 saat daun mulai berguguran kamu
datang ketika tajamnya pisau menempel dipermukaan kulitku.
“Bagaimana caranya kau menghargai
kehidupan ? beginikah ?” kalimat pertamamu.
“Aku ini punya penyakit dan divonis
meninggal lima tahun mendatang, daripada aku menunggu dan menyusahkan kedua
orang tuaku. Untuk apa aku hidup ?” Balasku.
“Baiklah, tepat pukul 13.00 mamaku
meninggal” Ucapmu.
“Dan dia bilang jika sudah tak ada
lagi orang yang kamu sayang, setidaknya kamu mempunyai orang yang menyayangimu,”
Ucapmu lagi.
Dari ucapanmu, aku mulai sadar pada
mereka yang menyayangiku. aku mulai teratur minum obat, aku mulai mengikuti
terapi, aku mulai semangat demi orang yang menyayangiku.
Aku bertemu denganmu saat SMA
betapa beruntungnya aku. Tapi, kau masih dingin dan tak tersentuh. Kau tak
mengenalku. Kau tak sadar bahwa aku memiliki penyakit.
Aku tahu, kau kehilanngan kakakmu,
satu lagi orang yang kau sayang. Aku semakin ingin mendekatimu membuatmu
tertawa, sebagai kenangan bahwa aku pernah ada dihidupmu.
Sampai pada suatu saat aku sakit
parah dan tak boleh meninggalkan rumah sakit, sejak itu aku tak takut, karena
aku telah memegang kata-katamu.
Hari itu pemberitahuan hasil
SNMPTN, aku masih di rumah sakit. Aku berfikir untuk kabur membawa seragamku.
Hahaha. Aku sangat ingin medengar bahwa kau telah mendapat jurusan yang kau
ingin.
Tapi, aku kecewa kau telah
melepaskan kata-katamu. Aku mengingatkanmu tapi, sepertinya kau tak
mengingatnya.
Aku yakin kau tak bisa membaca
tulisanku karena berantakan, bahkan aku harus memohon pada suster untuk memberi
waktu selama sepuluh menit untuk menulis suratku.
Peganglah kata-katamu, jika sudah
tak ada lagi orang yang kamu sayang untuk berjuang, setidaknya kamu mempunyai
orang yang menyayangimu untuk kau perjuangkan. akan ada sejuta orang tersenyum
bahagia karena telah kau selamatkan nyawanya. Untukmu calon dokter.
Ini Abil.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar